Sebagian dari kita pasti pernah mempunyai perasaan tak nyaman jika harus meminta maaf terlebih dahulu meskipun sudah merasa bersalah. Alasan gengsi, egois dan jaga harga diri terkadang menjadi alasan utama untuk enggan meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat.
Rasa gengsi dan egois yang dibiarkan tertanam dalam diri manusia, tanpa disadari akan membentuk secara perlahan hati yang keras. Ketika memiliki hati yang keras ia akan terhalang untuk memiliki rasa iba, empati, dan peduli terhadap yang lain. Dan dampak paling besar, hati yang keras menjadi penghalang manusia untuk selalu ingat dan berdzikir kepada-Nya.
Manusia yang telah memiliki hati yang keras akan kesulitan untuk menerima dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang di turunkan Allah. Syekh as Sa’di dalam Taisir al karim ar Rahman menyebutkan bahwa orang yang berhati keras tidak akan lagi merespon larangan dan peringatan dari Penciptanya.
Perlu disadari bahwa penyakit ini sulit untuk disembuhkan jika tanpa keinginan penderitanya sendiri yang menginginkan perubahan pada dirinya. Mengobati hati yang keras memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Allah berfirman:
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar ayat 22)
Artinya : Manusia yang dadanya dilapangkan untuk menerima ajaran Islam apakah akan sama dengan orang yang menolak untuk mengamati tanda-tanda kekuasaan-Rabbnya? Ialah siksa yang teramat pedih akan dirasakan oleh manusia yang memiliki hati keras dan tak mau mengingat Allah. manusia seperti ini adalah manusia yang menyeleweng dari kebenaran.
Bagi orang yang telah menyadari kesalahannya, hendaknya mampu untuk menurunkan egonya. Manusia harus selalu intropeksi diri dan menyadari berbagai kesalahan agar kebenaran dapat dengan mudah dia terima. Selain itu si penderita juga harus sering melakukan terapi layaknya penyakit-penyakit kronis lainnya seperti memperbanyak amal serta berbuat baik kepada sesama.
Imam Hakim menyebutkan sebuah amalan untuk melunakkan hati yang keras dalam kitabnya al Mustadrak. Diceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah tentang hatinya yang keras, kemudian Nabi menjawab:
إن أردت تلين قلبك، فأطعم المسكين، وامسح رأس اليتيم
Artinya: “Jika kamu ingin melunakkan hatimu maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR al-Hakim)
Hadist diatas menjelaskan makna usaplah kepala anak yatim bukan sekedar mengusap kepala yang sesungguhnya. Mengusap adalah ekspresi dari sikap menyayangi, mengayomi dan berlemah lembut terhadap mereka. Diketahuii bahwa menyantuni dan memberikan makanan kepada anak yatim merupakan sikap yang di sukai oleh Allah.
Selain anak yatim masih ada juga kaum dhuafa yang harus diberikan perhatian khusus. Mereka adalah kelompok miskin yang bagaimana cara makan untuk besok saja masih bingung. Mereka tidak pernah terpikir ingin membeli sesuatu yang tidak bermanfaat untuk tubuh mereka.
Mengasihi sesama merupakan salah satu perbuatan yang bisa memtreatmen hati kita untuk senantiasa terjauhkan dari hati yang keras. Barangsiapa yang berbuat baik dengan menyisihkan hartanya untuk anak yatim dan fakir miskin maka Allah tidak hanya melunakkan hatinya yang keras, tetapi juga akan memuliakan dirinya selama hidup di dunia, serta memberikan tempat terbaik untuknya di akhirat nanti.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah