Pertanyaan Seputar Al-Qur’an : Yang Diterima Nabi Dari Jibril Apakah Makna atau Makna dan Lafadznya

0
300
seputar al-qur'an

Di antara pembahasan penting dan krusial seputar al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammadh adalah ”apakah yang diterima Nabi dari Jibril itu berupa makna Al-Quran, lalu Nabi melakukan verbalisasi? Atau makna sekaligus lafadznya?

Sebelum pertanyaan ini dibahas lebih jauh, perlu dikemukakan terlebih dahulu bahwa seluruh ulama telah sepakat bahwa Al-Quran merupakan kalam Allah sebagaimana diisyaratkan oleh firman-Nya pada Al-Qur’an surat At-Taubah [9] ayat 6 :

Artinya : Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.

Mereka pun sepakat bahwa wahyu yang disampaikannya berupa bahasa Arab, tanpa mengurangi dan menambahnya. Mereka pun sepakat bahwa tugas Nabi kaitannya dengan Al-Quran hanyalah meneruskan kembali (tabligh) kepada umatnya. Inilah pokok-pokok yang harus diimani oleh setiap Muslim.

Oleh karena itu, setiap muslim tidak perlu mengikuti sebagian orang yang tidak bertanggungjawab yang mengatakan bahwa Jibril menerima Al-Quran dari Allah berupa makna saja. Lalu Jibril memverbalkannya ke dalam bahasa Arab sebelum disampaikan kepada Nabi.

Ada pula anggapan yang mengatakan bahwa Jibril menyampaikan makna Al-Quran, lalu Nabi memverbalkannya. Pendapat ini dikemukakan oleh As-Suyuti dalam Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an. Mereka merujuk pada makna lahir firman Allah SWT. pada Al-Quran surat Asy-Syua’ra’ [26] ayat193-195 : Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas.

Namun, pemahaman tekstual seperti itu tentu tidak benar. Menyampaikan wahyu ke dada Nabi tidak berarti yang disampaikan Jibril berupa makna Al-Quran. Penggunaan kata ”hati” sebagai sasaran turunnya wahyu tampaknya ingin menegaskan bahwa hati pun dapat menangkap informasi sebagaimana telinga.

Pemahaman itu pun bertentangan dengan riwayat-riwayat mutawatir berupa Al-Quran dan As-Sunnah dan konsensus ulama, yang menegaskan bahwa Al-Quran-makna dan lafazhnya-merupakan kalam Allah dan berasal dari-Nya. Seandainya yang berasal dari Allah hanya maknanya, tentu Al-Quran tidak mengandung mukjizat dan membacanya pun tidak dinilai sebagai ibadah.

Nabi lalu menyampaikan Al-Quran kepada umatnya apa adanya, tanpa penambahan, pengurangan, atau penyembunyian. Jika menghendaki, tentunya Nabi akan menyembunyikan ayat-ayat yang di dalamnya berisi teguran kepadanya. Tampaknya, firman Allah SWT. berikut ini cukup dijadikan sebagai buktinya :

Artinya : Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Al-Maidah [5] Ayat 67).

Penjelasan tersebut berlaku bagi wahyu yang berupa Al-Quran. Adapun untuk wahyu berupa As-Sunnah mungkin yang diterima Jibril dari Allah hanya maknanya sebab esensi As-Sunnah yang hendak disampaikannya kepada Nabi adalah maknanya bukan lafazhnya. Hal ini disebabkan lafazh-lafazh As-Sunnah tidak mengandung mukjizat dan membacanya pun tidak dikategorikan sebagai ibadah.

Dalam hal ini, Imam Al-Juwaini mengemukakan pendapat yang sangat baik. Ia membagi kalam Allah pada dua bagian; satu bagian adalah kalam Allah ketika Allah SWT. berfirman kepada Iibril, ”Katakanlah kepada Nabi bahwa Allah memerintahkanmu untuk mengerjakan ini…” Jibril lalu memahami firman-Nya. Ia lalu menemui Nabi dan menyampaikan perintah yang didengar dari Tuhannya. Redaksi yang disampaikan kepada Nabi tidak sama persis dengan redaksi yang didengar dari Allah.

Bagian kedua adalah kalam Allah ketika Allah SWT. berfirman kepada Iibril, ”Bacakanlah kitab ini kepada Nabi!” Jibril lalu turun untuk menemui Nabi untuk membacakannya tanpa mengubahnya sedikit pun.

As-Suyuthi berpendapat bahwa bagian pertama yang dikemukakann Al-luwaini adalah As-Sunnah, sedangkan bagian kedua adalah Al-Quran.

Berdasarkan paparan tersebut. As-Sunnah berupa maknanya diperkenankan karena libril pun menyampaikan hanya maknanya. ini tentu tidak berlaku bagi A|-Qur’an karena Jibril pun menyampaikannya berupa makna dan lafazhnya. Hikmah di bank pembedaan itu adalah Allah ingin memperlihatkan kandungan mukjizat dalam redaksi Al-Quran sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menirunya.

Allah juga ingin memperlihatkan bahwa di balik setiap huruf Al-Quran terdapat banyak makna yang jumlahnya tidak terbatas. Hikmah lainnya, Allah ingin memberikan keringanan kepada hamba-Nya. Seandainya seluruh firman-Nya disampaikan kepada Nabi berupa makna dan lafazh, tentunya ini akan menyulitkan. Sebaliknya, seandainya seluruh kalam-Nya berupa makna, upaya pendistorsian pun tidak dapat dihindari. [1]


[1] Rosihon Anwar, Pengantar Ulumul Qur’an (Edisi Revisi), (Bandung : CV PUSTAKA SETIA 2018) Cet. 1 hal. 58

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.