Doa Musibah Sriwijaya
Doa Musibah Sriwijaya

Pesan Untuk Keluarga Korban Kecelakaan : Bersabarlah, Insyallah Mereka Syahid

Di tengah musibah covid 19 yang tak juga kian membaik, tersiarkan kabar bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Perairan Kepulauan Seribu. Kabar ini pastinya menyisakan duka yang mendalam kepada para keluarga yang telah ditinggalkan. Para keluarga korban pastinya berharap agar keluarganya tersebut selamat dari kecelakaan pesawat tersebut. Paling tidak mereka bisa menemukan jasad untuk dimakamkan.

Musibah tentu ujian berat apalagi seperti kecelakaan pesawat. Tak terhitung beratnya adalah keluarga korban yang harus memupuk sabar. Memang sabar dan tawakkal adalah kunci menghadapi musibah.  Allah telah menjanjikan pahala yang tak terhingga kepada orang-orang yang mampu bersabar atas cobaan yang dialaminya. Dalam al-Quran Allah berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: Ayat 10)

Allah tidak akan memberi musibah atau cobaan kepada umatnya di luar kesanggupanya. Dalam kasus seperti kecelakaan pesawat terbang yang jatuh kelaut dan tenggelam, kecelakaan kapal laut, dan peristiwa-peristiwa yang banyak terjadi yang menyebabkan kematian dalam kecelaakaan tersebut. Maka muslim yang mati dalam keadaan seperti itu adalah golongan syahid akhirat, sepanjang tujuan dari perjalanan mereka tidak untuk hal yang menyalahi syariat.

Dalam hadits lainnya Rasulullah SAW juga bersabda, “Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a.)

Sahid sendiri di bedakan menjadi tiga bagian. Pertama, Syahid di dunia, namun bukan di akhirat. Seseorang yang mati di medan perang untuk mendapatkan dunia bukan untuk menegakkan agama Allah. Seperti orang yang berjihad dengan cara membunuh dirinya (bunuh diri) seperti dengan bom bunuh diri dan orang yang berperang di jalan Allah namun sebenarnya tujuannya untuk mendapat harta rampasan, atau agar dikatakan pahlawan, kemudian terbunuh.

Baca Juga:  Pentingnya Persatuan dan Persaudaraan dalam Perspektif Al-Quran

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka dia disiksa dengan (alat tersebut) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin Dhahhak r.a.)

Kedua, Syahid akhirat. Orang ini tidak dihukumi syahid di dunia, tetapi mendapat pahala syahid di akhirat. Syahid seperti ini tetap diperlakukan sebagaimana jenazah pada biasanya dan dishalatkan. Keadaan ini dicontohkan dengan mati karena tenggelam, tertimpa reruntuhan, kebakaran dan mati karena kecelakaan (tertabrak).

Ketiga, syahid dunia dan akhirat. Ialah orang yang terbunuh ketika di medan perang dengan niat bersungguh-sungguh menegakkan agama Allah. Orang dengan kategori seperti ini tidak perlu dimandikan.

Orang yang meninggal secara syahid biasanya jasad mereka tidak dalam keadaan utuh. Banyak manusia yang merasa kasihan karena wujud jasadnya yang tidak utuh akan merasa lebih sakit daripada orang yang meninggal dengan jasad utuh.

Namun kenyataannya malah sebaliknya. Rasulullah bersabda, “Tidaklah syahid merasakan tertimpa kematian kecuali seperti halnya seorang dari kamu merasakan terkena cubitan.” ( HR. Tirmidzi)

Artinya, jasad orang yang meninggal syahid itu tidak akan merasakan sakit teramat sangat seperti orang yang meninggal pada umumnya, mereka hanya akan merasa sakit seperti di cubit saja. Inilah karunia dari Allah yang patut di syukuri bagi mereka yang telah meninggal dengan cara syahid.

Karena itulah bagi keluarga korban tentu bersabar atas segala ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Selanjutnya selalu mendoakan dan meyakini keluarganya yang tertimpa musibah ini telah tenang di sisi Allah dengan predikat mati syahid.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Eva Novavita

Avatar