hadist dhaif
hadist dhaif

Politisasi Agama dan Pemalsuan Hadis

“Seandainya tidak ada lahn (salah membaca al-Qur’an) maka tidak akan muncul ilmu nahwu, seandainya tidak ada fitnah (konflik politik) maka tidak akan muncul ilmu musthalah hadis”, ungkap Prof. Hammam Abderrahim Saed seorang ulama Palestina dalam kitabnya Ulum al-Hadis. Ini menegaskan bahwa fitnah menjadi titik awal munculnya hadis-hadis palsu yang disebut dengan hadis maudlu. Kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk yang ditulis oleh Imam al-Tabari (w. 310 H)  merupakan salah satu kitab yang menyebut riwayat tentang adanya sahabat yang mengkafirkan sahabat lain, bahkan membunuhnya karena dianggap kafir.

Syekh Dr. Muhammad Surur seorang ulama hadis Sudan yang diundang mewakili Sudan dalam Konferensi Internasional di Hadramaut, Yaman bulan Juli 2022 lalu, menyebutkan hal yang intinya sama. Dalam kitabnya al-Mandzumah al-Thabatiyyah fi Ulum al-Sunnah al-Marwiyah, Syekh Surur menyebut fakta sejarah bahwa perebutan jabatan Khalifah dan kekuasaan di kalangan umat Islam sepeninggal Rasulullah telah memunculkan adanya  pembohong dan pemalsu hadis Nabi dengan tujuan membela suku atau kelompoknya. Lebih dari itu, mereka yakin bahwa berbohong untuk membela Nabi – bukan untuk memusuhi – adalah boleh dan berpahala. Padahal sikap ini jelas bertentangan dengan hadis mutawatir bahwa Nabi Saw mengancam siapapun yang mendustakannya akan ditempatkan di Neraka.

Ini merupakan salah satu modus politisasi agama yang sudah ada sejak generasi awal Islam, dan semakin parah paska terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan. Dalam hal ini, Abu Said al-Khudri meriwayatkan adanya delapan ratus sahabat menyaksikan pembunuhan Sahabat Usman tetapi mereka justru membiarkannya. Tradisi (baca: fenomena) pemalsuan hadis Nabi ini juga berlanjut di masa tabi’in, tidak hanya karena faktor politik, melainkan juga faktor persaingan etnis. Syekh Dr. Ahmad Omer Hasyim seorang ulama Mesir dalam kitabnya Qawaidl Ushul al-Hadis menyebutkan adanya pemalsuan hadis tentang keutamaan bangsa Persia sebagai tandingan bagi keutamaan bangsa Arab, termasuk hadis-hadis yang dibuat-buat untuk memuji Imam Abu Hanifah karena berasal dari Persia dan mencela Imam Syafi’i karena berasal dari Arab.

Menurut  ijma’ umat Islam, pemalsuan hadis dengan segala bentuknya adalah haram. Imam Nawawi (w. 676 H) dalam kitab Syarah Shahih Muslim menyebut para ulama sepakat mengharamkan tindakan mendustakan setiap manusia, terlebih manusia yang perkataannya adalah syariat dan ucapannya adalah wahyu (Nabi Muhammad) sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, Surah an-Najm ayat 3-4. Jika hadis maudlu dalam hal ini diartikan sebagai hadis palsu maka bukan dimaksudkan hadisnya, melainkan periwayatnya sehingga hadisnya harus “diparkir” alias terhalang untuk diterima sampai ada pembuktian lain bahwa periwayatnya tidak memalsukan hadis. Dengan kata lain, hadis maudlu diduga masih memiliki sumber atau sanad meskipun sumbernya adalah “pemalsu”, berbeda dengan hadis yang benar-benar tidak ada sumbernya (لَا أَصْلَ لَه).

Diantara bukti adanya perhatian ulama terhadap hadis-hadis palsu yang harus diwaspadai adalah keberadaan kitab yang ditulis di abad 6 H oleh Al-Hafidz Abu al-Fadl Mohamed Thahir al-Maqdisi (w. 507 H) berlanjut dengan kitab-kitab berikutnya hingga pada abad 13 H muncul sosok Syekh Mohamed bin Ali al-Syaukani (w. 1250 H) yang menulis kitab kumpulan hadis Maudlu berjudul al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadis al-Maudlu’ah.

Namun demikian, fenomena sahabat dan hadis-hadis palsu di era generasi salaf yang terhitung sejak abad satu hingga tiga hijriyah  tidak cukup jika dilihat dari aspek ilmu hadis, melainkan harus dilengkapi dengan ilmu sejarah yang melibatkan kehidupan periwayat (narator) dari semua aspek sehingga para periwayat dapat dibaca dengan benar. Kenapa demikian ?, hadis atau yang lebih umum disebut Sunnah merupakan hal penting yang harus dijaga keasliannya sebagaimana penjaga pertamanya adalah sahabat. Wajar jika sebagian pakar kontemporer mendefinisikan Sahabat adalah penjaga sunnah Nabi dari segala upaya pemalsuan, berbeda dengan definisi yang umum digunakan seperti disebutkan oleh  Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam kitab Nukhbah al-Fikr bahwa Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasul dalam keadaan muslim dan meninggal juga muslim.

Pembicaraan tentang Sahabat secara umum masih tabu atau sensitif di kalangan pengikut madzhab Sunni, berbeda dengan Syiah yang menolak hadis Ahad jika bertentangan dengan nash al-Qur’an dan akal sehat. Abu Shuhbah (w. 1983 M) dalam kitabnya Difa’ an al-Sunnah wa Radd Shubhat al-Mustasyriqin wa al-Kuttab al-Mu’ashirin bahkan menuduh orang lain sebagai antek orientalis hanya karena menyebut keterlibatan sahabat dalam pemalsuan hadis. Tidak sedikit ulama yang serius dan ulet mengkaji Islam sehingga menemukan fakta sejarah yang sebelumnya tertutupi atau sengaja ditutupi oleh para penulis dan penceramah dengan tujuan menjaga citra sahabat.

Diantara ulama yang serius dimaksud adalah pakar hadis ternama di dunia; Syekh Mahmoud Saed Mamdouh yang menulis kitab Ghayat al-Tabjil wa Tark al-Qath’i fi al-Tafdhil. Kitab ini merupakan hasil penelitian yang terbit dan diantar oleh Penasehat Presiden Uni Emirat Arab (Habib Ali bin Abderrahman al-Hasyimi), Habib Salim bin Abdillah al-Syathiri, Syekh Yusuf al-Sayed Hasyim, Habib Abu Bakar al-‘Adni (w. 2022) dan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Menurutnya, narasi sejarah telah diatur oleh penguasa dan pendukungnya dengan cara memilih diam, menyembunyikan, menghilangkan atau mengubah catatan-catatan hitam yang sekiranya menyebar bakal merusak reputasi kelompoknya.

Syekh Mahmoud Saed Mamdouh memberikan contoh fenomena fatwa dan ilmu Sayidina Ali yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Sunnah jauh tidak sebanding dengan lamanya waktu Sayidina Ali membersamai Nabi, menjadi Khalifah dan lamanya mengajar dan berfatwa di masa pemerintahan Khalifah-Khalifah sebelumnya. Terkait sebabnya, Syekh Abu Zahra menyebut “sebabnya adalah pengaruh Khalifah-Khalifah Bani Umayyah yang menutupi jejak-jejak  keilmuan dan fatwa Sayidina Ali, disamping melaknatnya di mimbar-mimbar acara dan memerintah para ulama agar tidak membicarakan ilmu Sayidina Ali atau menyampaikan perkataannya ke masyarakat, terlebih dalam hal prinsip-prinsip Pemerintahan Islam”. Senada dengan hal ini, Sayidina Ali pernah mengingatkan Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang memusuhi dan memeranginya agar tidak melakukan politisasi agama atau menggunakan perkataan yang haq (al-Qur’an dan Sunnah Nabi) untuk tujuan bathil (kesesatan).

 

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

belajar moderat

Peran Ulama Menjaga Negara dari Bahaya Ikhwanul Muslimin dan Wahabi

Tugas seorang ulama selain mendidik dan melestarikan ilmu adalah menjaga negara dari perpecahan. Ketika sebuah …

Syekh Mahmud At Tahhan

Pembaharu Ilmu Hadis Tutup Usia

Pada tanggal 24 November 2022, seorang ulama hadis kenamaan asal Aleppo, Suriah Syekh Dr. Mahmud …