bangsa arab
bangsa arab

Puasa : Ibadah Purba untuk Mengembalikan Fitrah Kemanusiaan

Jika ada ibadah yang bisa melampauai zaman dan lintas batas agama itulah ibadah puasa. Ibadah puasa adalah praktek ritual yang hampir ada dalam setiap agama-agama walaupun dalam bentuk yang sangat variatif. Memang dalam Islam, ibadah puasa menjadi semarak karena diprakttekan selama sebulan dengan ritual-ritual lainnya yang mengesankan. Hingga di akhiri dengan perayaan kemenangan.

Dahulu bangsa Arab, sebelum Islam dikenalkan orang Quraisy juga memiliki kebiasaan berpuasa. Diriwayatkan oleh Aisyah istri Nabi disebutkan bahwa sejak zaman jahiliyah, orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura’ (10 Muharram). (HR. Bukhari). Rasulullah pun juga ikut melaksanakan puasa di hari Asyura’ tersebut, dan ketika beliau hijrah ke Madinah, beliaupun juga memerintahkan untuk menjalankan puasa tersebut kepada kaum muslim yang ada di sana, hingga datangnya perintah puasa di bulan ramadhan, dan sejak saat itulah puasa Asyura menjadi sesuatu yang sunnah bagi kaum Muslimin.

Bukan hanya di zaman pra Islam, ibadah puasa sudah lama dipraktekkan tidak hanya di suku Arab tetapi juga bangsa Israel. Bahkan bisa dikatakan sesungguhnya ibadah puasa adalah ibadah purba yang dilakukan sejak manusia pertama di bumi ini.  

Dikisahkan Nabi Adampun juga perintahkan melakukan ibadah puasa. Nabi Adam juga pernah menjalankan puasa selama tiga hari. Saat diturunkannya Nabi Adam ke bumi, kulit Nabi Adam terbakar matahari hingga menghitam. Maka turunlah malaikat Jibril dan memintanya untuk berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15. (Tafsir al-Tsa‘labi, (Beirut: Daru Ihya al-Turats, Cetakan I, 2002, Jilid 2, h. 62).

Ketika Nabi Adam mulai menjalani puasa hari pertama, sepertiga tubuhnya memutih, puasa hari kedua dua pertiga tubuhnya memutih dan pada hari ketiga seluruh tubuhnya memutih. Oleh karenanya puasa ini disebut dengan puasa ‘ayyamul bidl’ atau ‘hari putih’.

Baca Juga:  Tidak Usah Ragu, Sudah Saatnya Memilih Pesantren

Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai bapak agama monoteisme juga diperintahkan oleh Allah untuk berpuasa. Diceritakan dalam QS. Al-Baqarah: 258 ketika Nabi Ibrahim berdebat dengan Namrud, sang Raja Babilonia yang terkenal dengan kegemarannya menyembah berhala. Karena kesal sebab 72 berhalanya dihancurkan oleh Nabi Ibrahim, Namrudz pun membakar Ibrahim. Namun, karena Ibrahim berpuasa sebagaimana perintah Allah, ia selamat dari kepungan api.

Nabi Musapun juga diperintahkan untuk berpuasa. Sebelum Nabi Musa menerima wahyu Kitab Taurat, ia juga menjalankan puasa selama 40 hari 40 malam di bukit Sinai (Tursina). Dan Allah menegaskan “Puasa yang kamu lakukan itu hanyalah untukmu saja. Sebab, puasa melatih diri dan mengekang hawa nafsu yang ada pada dirimu.” Rekaman dialog ini sebagaimana dalam Mukasyafatul Qulub, Imam Al-Ghazali.

Tentu masih banyak Nabi-nabi yang lain yang djperintakan untuk berpuasa seperti Nabi Isa, Idris dan lainnya. Karena itulah, Islam lalu memberikan suatu penegasan untuk mewajibkan umatnya dengan ibadah puasa dalam Surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Puasa adalah bagi orang yang beriman. Jika seseorang beriman kepada Allah pasti mempunyai ibadah puasa apapun agamanya. Puasa itulah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada orang-orang sebelum kaum Nabi Muhammad. Kepada orang-orang yang beriman. Tujuan akhir dari ibadah itu adalah takwa.

Takwa sebenarnya sangat unik. Bukan sekedar takut kepada Allah. Takwa itu adalah fitrah manusia sejak diciptakan. Fitrah manusia itu adalah bertakwa kepada Allah. Untuk mengembalikan fitrah itu maka umat manusia diperintahkan untuk berpuasa.

Puasa Ramadan juga mengajarkan manusia untuk menjadi manusia yang fitrah. Bayangkan dalam satu tahun kita tidak berhenti berperilaku konsumtif dan hedonis tanpa aturan. Berperilaku kasar dan berkata kotor seolah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Menyakiti bahkan menyiksa orang menjadi sangat tidak manusiawi. Kenapa itu terjadi?

Baca Juga:  Nuzulul Qur’an: Menyimak Bagaimana Turunnya Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Manusia lupa akan kemanusiaannya. Manusia lupa bahwa dirinya bagian dari saudara satu sama lainnya. Cara mengingatkan mereka adalah merasakan hal yang sama seperti yang lain merasakan. Lapar, haus, dan tidak bisa melakukan hal dengan mudah adalah menyadarkan bahwa dirinya adalah manusia.

Puasa Ramadan mampu memberikan kesucian jiwa, keikhlasan dan ketulusan. Ramadan juga memiliki fungsi sebagai pengawasan diri dan media meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Puasa akan mampu menjadi tameng bagi seseorang dari perbuatan maksiat yang biasa ia kerjakan, karena puasa mampu melemahkan sahwat yang menjadi sumber maksiat.

Semoga kita kembali menjadi manusia dengan berpuasa.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

antrian haji

Antrian Haji dan Tanggungjawab Sosial Mengatasi Kemiskinan

Gairah haji masyarakat dari tahun ke tahun tidak pernah surut. Impian untuk melengkapi rukun Islam …

hajar aswad

Sejarah dan Penelitian Sains tentang Hajar Aswad

Batu Hajar Aswad merupakan batu yang memiliki nilai sejarah bukan hanya bagi agama Islam namun …