mencicipi makanan
mencicipi makanan

Fikih Puasa (2) : Mencicipi Makanan Saat Berpuasa

Salah satu hal yang dapat membatalkan puasa adalah mengkonsumsi makanan ataupun minuman. Bagaimana kalau semata sebatas mencicipi saja, setelah memastikan sedap dan hambarnya lalu diludahkan Kembali? Apakah bisa membatalkan puasa?

Situasi dilematis kerapkali dihadapi seoarang istri sekaligus seorang ibu. Di bulan Ramadhan tak sedikit seorang istri yang berkehendak kuat untuk mampu menyuguhkan menu buka puasa atau santap sahur untuk sang suami. Namun, sering kebingungan bagaimana caranya untuk memastikan menu yang di masaknya sedap ataukah hambar? Sementara saat puasa tidak boleh mamasukkan makanan ataupun minuman.

Mencicipi makanan bukan berarti dikategorikan mengkonsumsi. Mengkonsumsi adalah Tindakan memasukkan makanan hingga ke dalam perut. Sementara mencicipi hanya sebatas memasukkan makanan ke dalam mulut saja. Tidak hingga masuk dalam perut.

Oleh karena itu. Dalam fikih Islam, mencicipi makanan saat puasa Ramadhan hukumnya boleh bahkan tidak makruh. Asalkan ada kebutuhan untuk mencicipi makanan semisal menentukan sedap dan tidaknya. Mencicipi makanan hukumnya boleh dan tidak makruh asal hanya sebatas lidah dan tidak sampai tertelan.Namun bila tidak ada hajat maka hukumnya makruh.

Al-Syarqawi mengutip fatwa Imam Az-Ziyaadi memaparkan bahwa hukum makruh mencicipi makanan bagi orang yang puasa. Hal tersebut bila memang bagi orang yang tidak ada kepentingan untuk mencicipinya. Sedangkan bagi seorang pemasak makanan baik laki-laki atau perempuan (masterchef) atau orang yang memiliki anak kecil yang mengunyahkan makanan buatnya maka tidak dimakruhkan mencicipi makanan buat mereka seperti apa yang di fatwakan Imam Az-Ziyaadi. (Assyarqowy I/445)

Jangan karena sebab sepele seperti makanan, lalu mengorbankan kualitas puasanya. Mampu menyuguhkan makanan yang nikmat bagi suami adalah suatu kehormatan tersendiri bagi seorang istri. Dan membahagiakan suami. Terkadang cekcok diawali dari makanan. Saat suami tak merasa puas dengan hidangan sang istri.

Baca Juga:  Kitab Ikhtilaful Ulama Lil Marwazi; Pentingnya Memahami Perbedaan Pendapat Ulama

Bermula dari cekcok ringan hinggan mengumbar aib masing masing. Jika ini terjadi, maka puasa Ramadhan hanya terasa lapar dan dahaga tanpa mampu mengepal pahala Ramadhan. Sungguh sangat disayangkan. Maka jangan korbankan harmonisasi keluarga, silakan suguhkan menu hidangan sesedap mungkin, walaupun harus dengan mencicipinya saat berpuasa. Walllahu a’lam bish shawab

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …