zakat fitrah
zakat fitrah

Zakat Fitrah (5) : Berapa Ukuran Zakat Fitrah Yang Benar?

Islam adalah ‘heavenly revelation’ (sebuah agama yang kemudinya berawal dari langit, wahyu atau sabda). Tatanan dan sistemnya bersifat universal. Tak ada sekelumitpun sisi kehidupan manusia; ideologi, qanun asasi, politik, ekonomi, finansial, peradaban, sosial, ritual kecuali disentuh oleh norma dan hukum islam. Salah satu ritual yang detail di atur oleh agama adalah zakat fitrah.

Sejak ditasyri’nya, zakat fitrah didedikasikan kepada fakir miskin sebagai bentuk thu’matan (hidangan makanan dalam sebuah jamuan). Selain juga sebagai ‘something that can wash away bad character’ (sesuatu yang bisa membersihkan karakter buruk, Thuhratan). HR: Ibnu Majah: 1827.

Sebagai syari’at yang berafiliasi dengan kegiatan sosial, zakat fitrah memiliki ukuran tertentu dari agama. Lalu, berapakan ukuran zakat fitrah yang benar dalam pandangan syari’at agama?

Berbicara tentang kebenaran agama, maka tolok ukurnya adalah al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber primernya.

Nabi bersabda:

عن ابن عمر رضي الله عنهما ، قال : ” فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر صاعا من تمر ، أو صاعا من شعير على العبد والحر ، والذكر والأنثى ، والصغير والكبير من المسلمين ، وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة

Dari Ibnu Umar ra. Berkata: Rasulullah mewajibkan zakat fitrah kepada hamba sahaya, orang merdeka, laki laki, perempuan, bocah, dewasa dari kalangan orang orang islam seberat satu sha’ tamar (kurma kering) atau satu sha’ gandum. Dan Beliau memerintahkan untuk mengeluarkannya sebelum shalat idul fitri. HR. Bukhari. 1443

Sha’ adalah takaran yang lumrahnya dalam buku buku fikih disebutkan dalam bab zakat fitrah. Ukuran sha’ ada dua macam, Pertama, sha’ penduduk Madinah, yang lebih dikenal dengan sha’ hijaz. Kedua, sha’ penduduk Irak, atau yang lebih dikenal dengan sha’ hijaji, Qafiz hijaji atau sha’ Baghdadi. Menurut mayoritas Fuqaha’ yang dimaksud dengan sha’ syar’iy dalam kitab kitab fikih adalah sha’ Hijazi, sha’ yang berlaku di kota Madinah, sementara Imam Abu Hanifah bersikukuh bahwa sha’ syar’iy dalam kitab kitab fikih adalah sha’ Baghdadi, sha’ yang berlaku di kota Irak, sebagai pusat pemerintahan Islam di masa lalu. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 38/296

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Pengikut Yang Belum Mandiri

Imam Madzhab mencapai satu kesepakatan fatwa bahwa satu sha’ seukuran empat mud. Tetapi untuk mengkonversi mud, mereka rupa rupanya tidak sependapat. Menurut Imam Syafii, Imam Malik dan Imam Ahmad misalnya, satu mud sama dengan 1 dan 1/3 kati Baghdad (128 dan 4/7 dirham. Bila dikonversi dalam ukuran gram, menjadi 675 gram. Berarti ukuran zakat fitrah yang wajib di keluarkan menurut madzhab ini adalah 4 mud x 675 gram sama dengan 2.700 gram (2.7 Kg) Tetapi menurut hitungan Imam Abu Hanifah mengkonversi satu mud dengan 2 kati (260 dirham) jika dikonversi ke ukuran gram satu mud sama dengan 950 gram. Berarti ukuran zakat fitrah yang wajib di keluarkan menurut madzhab ini adalah 4 mud x 950 gram sama dengan 3.800 gram (3.8 Kg). Fikih Kontekstual, Idrus Ramli, 22

Lalu bagaimana menyikapi perbedaan ukuran ini? Kita zakat fitrah dengan 2,7 Kg atau 3,8 Kg?

Ada kaidah fikih yang berbunyi:

القاعدة الثانية عشرة   الخروج من الخلاف مستحب

Kaidah fikih yang ke 12: keluar dari perbedaan pendapat (antara Imam Abu hanifah dan Jumhur Ulma’ (Syafii, Malik, Ahmad) soal ukuran zakat fitrah adalah dianjurkan. Al-Asyabh Wa al-Nadhair, 1/136

Artinya: Dengan mengikuti, pendapat Imam Abu Hanifah, 3,8 Kg maka berarti pula menerapkan pendapat JUmhur yang menetapkan zakat fitrah 2,7 Kg. jelasnya, ukuran yang benar secara syar’iy zakat fitrah adalah 3,8 Kg karena merangkum ukuran dibawahnya, secara tidak langsung kita mengamalkan semua fatwa Imam madzhab.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …