zakat fitrah
zakat fitrah

Zakat Fitrah (1) : Bolehkah Zakat Fitrah dengan Uang?

Di penghujung Bulan Ramadhan dan sebagai khatimah dari puasa Ramadhan, agama mensyari’atkan zakat fitrah,  Sebagai manifestasi dari kepedulian sosial yang menjadi agenda utama ibadah puasa Ramadhan. Lumrahnya, zakat fitarh ditunaikan dengan bentuk makanan pokok. Beras, gandum dan lainnya.

Namun belakangan, muncul wacana zakat fitrah dengan uang tunai. Alasannya pragmatis, karena kaum du’afa di hari lebaran bukan saja membutuhkan makanan, tetapi juga membutuhkan pakaian baru, kue lebaran, ang pau dan lain lain. Jika zakat fitrahnya dengan uang, kebutuhan kaum du’afa mudah terpenuhi. Beda jika mereka menerima bahan makanan. Makanan untuk lebaran tercukupi, namun kebutuhan lainnya terbengkalai.

Tak semua Ulama’ madzhab sejalan dalan satu fatwa, soal berzakat dengan uang tunai. Madzhab Syafi’iyyah misalnya, didukung penuh oleh Madzhab Hanabilah, tidak memperkenankan berzakat fitrah dengan uang tunai, sementara madzhab Malikiyyah menghukumi boleh namun makruh. Madzhab Hanafiyyah berfatwa  berzakat dengan uang tunai diperbolehkan.

Berpedoman pada pendapat yang memperbolehkan berzakat fitrah dengan uang tunai [madzhab Hanafiyah] maka menurut madzhab ini, kadar uang yang harus dikeluarkan adalah disesuaikan dengan nilai atau harga bahan-bahan makanan yang manshush (disebutkan secara eksplisit dalam hadis) sebagai zakat fitrah, yaitu harga tamar, gandum dan anggur dengan  mengacu pada nilai harga saat mulai terkena beban kewajiban (waqtul wujub) zakat fitrah, saat tenggelamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 6/113

Sementara ukuran zakat fitrah yang wajib dikeluarkan adalah satu  sha’ tamar (kurma kering) atau satu sha’ gandum sya’ir. Rad al-Mukhtâr 2/286

Satu sha’ menurut Madzhab ini jika dikonversi menjadi ukuran gram atau Kilo gram seukuran dengan 3800 garm (3.8 Kg). jika harga tamar Rp. 50.000 perkilo. Maka uang yang harus dikeluarkan sebagai zakat fitrah senilai Rp. 190.000. hasil perkalian dari 3.8 Kg dikalikan Rp.50.000

Baca Juga:  Zakat Fitrah (6) : Siapa yang Bertanggung Jawab Atas Zakatnya Anak Zina ?

Alasannya pragmatis, karena kaum du’afa di hari lebaran bukan saja membutuhkan makanan, tetapi juga membutuhkan pakaian baru, kue lebaran, ang pau dan lain lain. Jika zakat fitrahnya dengan uang, kebutuhan kaum du’afa mudah terpenuhi. Beda jika mereka menerima bahan makanan. Makanan untuk lebaran tercukupi, namun kebutuhan lainnya terbengkalai. Yang dipaparkan madzhab Hanafiyyah jelas jelas menyimpang dari nilai filosofi (hikmah) zakat fitrah.

Menurut al-Syafi’iyah, zakat fitrah didedikasikasan semata sebagai thu’matan lil masakin (makanan untuk kaum miskin, agar di hari lebagai mereka juga mampu bergembira menyambut dhiyafah min Allah  dan nilai nilai thu’matan  dan dhiyafah itu ada pada makanan pokok bukan pada uang.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …