doa

Satu Amalan yang Mampu Mengatasi Seribu Masalah

Ibnu “Ajibah mengkisahkan sebuah kisah kolosal penuh makna. Datanglah seorang laki-laki menemui Imam Hasan al-bishri. Dari raut mukanya, tampak jelas, beban hidup sedang diembannya. Tak lama kemudian laki-laki itu berkata kepada Sang Imam.

“Saya adalah seorang petani wahai Imam, namun belakangan ini hujan sudah lama tak basahi tanaman kami. Tanaman kami nyaris mengalami kekeringan dan terancam gagal panen. Rasanya paceklik diambang mata kami. Bagaimana caranya menyelesaikan masalah kami ini ya Imam? Laki-laki itu dengan nada berat menceritakan masalahnya kepada Imam.

Sambil tersenyum santun Sang Imam berkata: “bacalah Istighfar”!. Merasa mendapatkan solusi laki-laki inipun pamit pulang. Sejurus kemudian laki-laki lain masuk mengucapkan salam. Sang Imampun menyambut kedatangannya.

“Sudah 20 tahun saya bekerja keras guna mencukupi kebutuhan keluarga agar tergolong keluarga sejahtera. Namun selama itu pula kami merasa kebutuhan kami tidak pernah tercukupi, kami merasa ‘fakir’. Bagaimana caranya agar kehidupan kami berubah drastis dan status sosial ekonomi kami meningkat?” ujar laki-laki ini memulai curhatannya.

Sang Imam berkata: “bacalah istighfar”!. Seperti laki-laki pertama, iapun beranjak pergi dengan penuh ceria. Tapi baru saja ia keluar melewati palang pintu, masuklah seorang laki-laki ketiga.

“Wahai Imam, kami sudah 10 tahun berkeluarga, namun Allah tak jua mengkaruniai kami seorang anak. Istriku divonis mandul oleh dokter. Bagaimana caranya agar kami cepat diberi ‘momongan’” curhat laki-laki ini kepada Imam.

Sang Imam berkata dengan penuh keyakinan: “bacalah istighfar”!. Senyum kecil terlihat jelas di bibir laki-laki ini, petanda ia senang dan bahagia mendapatkan solusi. Orang-orang yang hadir di pendopo Imam dan menyaksikan semua kejadian itu, merasa terheran-heran.

Mereka menyimpan rapat sebuah pertanyaan besar. Kenapa Imam hanya memberikan solusi membaca istighfar kepada tiga orang laki-laki itu padahal masalahnya berbeda-beda. Celetuk salah satu jamaah yang hadir di pendopo itu meretas keheningan. Selepas menghela nafas panjang nan lembut sang Imam berkata: “ apakah kalian semua tidak pernah membaca al-Quran surat Nuh ayat 10-12 yang berbunyi :

Baca Juga:  Argumen Agama: Mencegah Lebih Baik dari Mengobati

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

Artinya : Maka aku berkata (kepada mereka) ber-istighfar-lah kalian semua kepada Tuhanmu. Sungguh Dia maha pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu dan mengadakan kebun kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.

Di sadur dari Kitab Anis al-Mu’minin, hal 60. Al-Bahr al-Madid, Ibnu ‘Ajibah, 8/216

Era yang makin tak karuan ini, di mana dosa dinilai biasa, umat semakin terpojok tak mampu berkutik dan menjauh dari tingkah penuh maksiat dan meyiksa.  Maka, Abdullah Ibn Alwi al-Haddad mengutip petutur sebagian orang arif bijaksana memaparkan, dizikir yang layak diwiridkan di zaman seperti sekarang saat ini tiada lain hanyalah istighfar dan shalawat. Al-Nafais al-‘Alawaiyyah, 194.

Kenapa?…karena Menurut Habib Zain Ibn Ibrahim Ibn Smith, istighfar ibarat membersihkan raga dari kotoran yang menderanya. Sementara shalawat laksana farfum guna mewangikan raganya. Al-FAwaid al-Mukhtarah, 212.

Terkadang kita mendekati Tuhan ketika butuh dan menghadapi musibah. Kita seolah menuntut janjiNya ketika doa akan dikabulkan. Namun, diri kita lupa apakag kita layak mendekatinya, apalagi memohon kepadanya. Lumpur dosa terus menjadi percikan kehidupan sehari-hari.

Kenapa kita tidak sadar membersihkan diri dulu dengan istighfar sebelum memohon sesuatu padaNya. Bukankah kita orang hina yang miskin dan hanya datang ketika butuh? Kenapa kita tidak mendekatinya dengan memohon ampunan, lalu memohon kebutuhan kita?

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo