doa keburukan pada pemimpin
doa keburukan pada pemimpin

Doa Menjaga Lisan Supaya Tidak Berkata Kotor

Saat ini, caci maki, cercaan, hinaan, bahkan fitnah menjadi menu sajian sehari-hari. Terutama di media sosial, berlalu lalang tanpa sedikitpun khawatir menyakiti dan membuat luka pada orang lain. Padahal, ajaran Islam sangat melarang hal ini. Lisan menjadi bahaya besar tak terobati bila kadung menyakiti orang lain. Lebih dari itu, lisan menjadi ukuran kesejatian muslim sesungguhnya.

Syaikh Musthafa Muhammad ‘Amarah, dalam Jawahir al Bukhari wa Syarh Qasthalani menulis syair bernada bahr wafir tentang keutamaan menjaga lisan. Tulisnya, muslim terbaik adalah yang menjaga lisan dan tangannya untuk tidak menyakiti muslim yang lain. Lisan disebut lebih dulu karena luka akibat lisan jauh seribu kali lebih dahsyat dari luka akibat pukulan tangan.

Pada bait berikutnya beliau menulis, luka-luka di tubuh karena tertancap anak panah akan menutup dan bisa sembuh. Tapi luka akibat lisan tak akan sembuh secara total meski waktu telah lama berlalu.

Menyimak penjelasan ini, tepat pepatah yang mengatakan “Lisan lebih tajam dari pedang”. Lisan dengan fitnahnya akan banyak membunuh orang, dengan ghibahnya ia juga melukai orang lain dengan bekas yang tak hilang dalam waktu yang lama, dan dengan cemoohannya hilanglah persaudaraan menjadi permusuhan.

Sebab itu, Imam al Muhasibi dalam kitabnya Risalah al Musytarsyidin menjelaskan apa yang semestinya dilakukan oleh lisan. Penjelasannya, lisan wajib berkata jujur saat senang maupun marah, menahan diri untuk tidak menyakiti di waktu sendirian ataupun di keramaian, dan tidak berlebihan dalam berkata-kata; perkataan baik maupun buruk.

Demi tujuan menjaga lisan, Islam mengajarkan beberapa doa yang bisa diamalkan supaya manjadi muslim sejati yang tidak menyakiti orang lain dengan lisannya. Di antara doa tersebut adalah berikut ini:

اللهم اجعل صمتي فكرا ونطفي ذكرا

Allahummaj’al Shomti Fukra wa Nuthqi dzikran

Artinya, ” Ya Allah, jadikanlah diamku berfikir, dan bicaraku berdzikir”.

Inilah cara dan doa menjaga lisan supaya tidak berkata-kata yang melukai hati orang lain. Seperti memfitnah, mencela, mencemooh, mencaci, dan ucapan-ucapan buruk yang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

sirah nabi

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …

escortescort