Semangat Hari Valentine dalam Islam

0
1218
hari valentine

Sebenarnya kasih sayang alias cinta itu adalah sebuat syari’at atau wahana untuk menciptakan kedamaian.

“bila cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang”.

Lirik ini adalah cuplikan lirik lagu Iwan Fals yang begitu familiar, ada nuansa asmara yang melankolis dan politik yang bombastik. Bila dipikir pikir secara mendalam, memang cinta akan selalu menghadirkan sesuatu yang positif. Artinya segala kebaikan di dunia ini, dengan segala dimensinya, lahir atas nama cinta.

Valentine’s Day (hari Valentine) adalah momentum bagi muda mudi atau seluruh insan secara umum untuk mengeksplorasi semua gejolak cintanya yang mendayu hingga mampu mendengdangkan sebuah harmoni. Entah kepada kekasih pujaan hatinya, sahabat maupun kepada keluarganya, atau bahkan kepada tanah leluhurnya, Indonesia.

14 Februari, atau yang lebih akrab dengan sebutan Hari Kasih Sayang, mungkin bisa dijadikan titik landas untuk memulai atau merajut kembali benang yang pernah kusut. Hari Valentine, secara ikonis merupakan restu pangestu dari seorang Pastur bernama Valentino kepada dua sejoli. Namun restu itu di kalangan Pastur lainnya dinilai dosa yang tak bisa diampuni.

Akhirnya, valentino dieksekusi mati pada tangga 14 Februari. Kira-kira satu abad pasca terbunuhnya Valentino, orang orang mengapresiasi hari tersebut dengan merayakannya dengan sebutan Valentine Days atau Hari Valentine (hari kasih sayang).

Lalu muncul pertanyaan besar, apakah dalam Islam terdapat ajaran hari kasih sayang sebagaimana semangat Hari Valentine tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita awali dengan sebuah firman suci dalam Allah

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ ﴿﴾ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ ﴿﴾

Kemudian dia termasuk orang orang yang beriman, dan saling memberikan wasiat (pesan) untuk bersabar dan berwasiat untuk saling mengasihi dan menyayangi. Mereka itu adalah kelompok kanan. QS: al-Balad:17-18.

Al-Qusyairi memberikan tafsir “marhamah” dengan sebagian (seseorang) memberikan kasih sayang kepada sebagian yang lain. Kalimat dari Imam al-Tasturi, kasih sayang kepada makhluk. Tafsir al-Qusyairi, 8/79. Tafsir al-Tasturi, 2/296.

Yang perlu dikaji dari ayat ini, berfokus pada tiga kalimat. Pertama, amanu (keimanan). Kedua, bi al-Shabr (kesabaran). Ketiga, bi al- Marhamah (kasih sayang). Seakan-akan ayat ini hendak menegaskan, bahwa kasih sayang dan kesabaran merupakan bagian dari jewantah keimanan. Artinya keimanan seseorang seseorang salah satu tolok ukurnya, adalah kesabaran dan kasih sayang.  Kenapa?

Kasih sayang alias cinta bukanlah sebuah metafora. Tetapi ia merupakan sampel konkrit dari kalimat thayyibah, artinya kalimat yang baik. kalimatnya baik, mestinya, isinyapun harus baik. Ibarat mobil, cinta adalah sebuah Lamborgini dengan harga fantastik hingga milliaran rupiah, di dalamnya duduk Gus Dur tau Bung Karno, dan orang orang baik lainnya.

Iman itu adalah adalah kebaikan, isinyapun harus baik, yaitu kesabaran dan kasih sayang. Maka, sejatinya, Islam sangat mengharuskan umatnya untuk saling memberikan kasih sayang, karena itu cerminan dari keimanan seseorang.

Selaras dengan Sabda Nabi Muhammad saw.

عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” لا يؤمن أحدكم ، حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Dari Anas, dari NAbi Muhammad saw. Bersabda: “salah satu di antara kalian tidak bisa disebut orang yang beriman, kecuali mencintai saudaranya (orang lain) melebihi rasa cintanya kepada dirinya sendiri”. HR: BUkhari: No 13.

Betapa Nabi dan al-Qur’an sangat getol anjurkan umatnya untuk menebar kasih sayang setiap saat, bukan musiman. Sebab, sebenarnya kasih sayang alias cinta itu adalah sebuat syari’at atau wahana untuk menciptakan kedamaian. Alasannya sederhana, dalam konteks komunitas sosial  dan kenegaraan, seseorang yang mempertahankan kasih sayang alias cinta tak bisa membiarkan terjadinya penyimpangan, baik sosial maupun politik. Maka ihwal yang wajar bila rakyat menjadi brutal dan bringas saat kasih sayang alias cinta itu dikucilkan dari kehidupan mereka.

Maka, Hari Valentine adalah sebuah tawaran aksentuasif perlunya segenap mekanisme hidup dan kehidupan kita, dikembalikan pada pola fitrahnya: prinsip damai mengasihi dan menyayangi. Bila tawaran ini diterima, artinya semua elemen umat diminta mengembalikan aneka mekanisme politik, sosial, ekonomi, dan hukum yang telah jauh menyimpang untuk masuk ke dalam gandar yang semestinya, di bawah kendali kasih sayang alias cinta yang mengatur hukum berkeadilan dan berkemanusiaan.