Kerusuhan Muslim-Hindu di India, Bagaimana Umat Islam Harus Bersikap?

0
16147
muslim-hindu

Kerusuhan meledak di India di wilayah timur New Delhi, Selasa, yang terjadi antara umat muslim-Hindu (25/2/2020). Bentrokan ini sebenarnya dilatari oleh pro-kontra UU Amandemen Kewarganegaraan di India yang telah disahkan pada Desember tahun lalu. UU tersebut dinilai sangat diskriminatif terhadap umat Islam.

Dilaporkan bahwa akibat kerusuhan ini korban tewas dan luka-luka semakin bertambah setiap hari. Aksi protes terhadap UU ini sebenarnya sudah lama terjadi sejak disahkan.

Umat muslim India melakukan protes karena seolah memberikan kemudahan bagi non-muslim dari tiga negara tetangga yakni Bangladesh, Pakistan dan Afganistan untuk mendapatkan suaka dan kewarganegaraan di India. Namun, kemudahan ini tidak berlaku bagi mereka yang beragam Islam.

Tentu ini bagian dari dinamika politik dalam negeri di India. Sebagai umat Islam kita patut mendoakan untuk kebaikan sesama muslim yang berada di India. Perjuangan mereka untuk mendapatkan hak adalah bagian dari perjuangan di negaranya.

Sebagai umat Islam, persaudaraan dalam Islam ibarat satu tubuh. Jika anggota tubuh yang lain sakit, maka seluruh tubuh juga merasakannya. Persaudaraan umat Islam adalah persaudaraan yang dibangun dengan kokoh karena persamaan keyakinan.

Nabi bersabda : “Seorang Muslim adalah saudara bagi muslim lainya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkanya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhanya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan bgainya dari kesusahan-kesuhan hari kiamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat. (H.R Bukhari)

Lalu, bagaimana sesama Islam memberikan empati, simpati dan bantuan kepada sesama umat Islam yang sedang dalam kondisi kesusahan?  

Sebagai umat Islam tentu konflik dan penderitaan yang dialami saudara sesama muslim adalah bagian yang harus menjadi keprihatinan. Namun, memilih langkah yang tepat dan efektif juga harus dipertimbangkan.

Kita banyak belajar dari berbagai konflik di Timur Tengah yang tak kunjung selesai. Begitu pula muslim Uighur, Rohingya, Kashmir, dan masih banyak yang lain. Memahami peta dan kondisi menjadi sangat penting agar tidak mudah terpengaruh dan mengambil langkah yang salah.

Pemahaman yang utuh tentang konflik dan kedaulatan negara lain juga harus dipertimbangkan. Begitu pula pilihan mafsadat dan maslahah patut menjadi prioritas pertimbangan.

Tentu, bukan dengan cara berangkat ingin membela dan mati konyol di negeri orang. Banyak pengalaman yang justru niat baik, tetapi dilakukan dengan ketidaktahuan justru menemukan jalan sesat dan sesal.

Pun jika kita merasa memiliki solidaritas yang tinggi terhadap sesama muslim, banyak sekali persoalan serius dalam bangsa ini dan lingkungan sekitar kita yang juga membutuhkan uluran tangan kita. Banyak juga problem sosial yang membutuhkan kepedulian kita di tanah air.

Nabi pernah berkata : “Suami dan anakmu lebih berhak kamu kasih sedekah daripada orang lain.’ (HR. Bukhari: 1462). Berdasarkan hadist ini banyak ulama berpendapat bahwa sedekah, zakat dan infaq lebih didahulukan yang paling dekat keluarga, sanak famili terdekat, family jauh, tetangga dan masyarakat secara umum.

Sebenarnya prioritas ini mengandaikan untuk tidak lalai pada keluarga dan lingkungan sekitar yang juga saudaramu untuk membantu yang lain. Jika keluargamu masih butuh dan lingkungan sekitarmu masih butuh maka bantulah dari yang terdekat.

Pernyataan ini bukan tidak boleh bersimpati kepada sesama muslim yang lebih jauh, namun sudah selesaikah tanggungjawab kita terhadap yang terdekat? Jangan meninggalkan yang terdekat dengan alasan ingin memperjuangkan yang jauh.

Berdoa tentu adalah senjata terbaik bagi suadara kita yang jauh agar terhindar dari bahaya. Mari kita selalu mendoakan agar saudara kita diberikan kemudahan oleh Allah dalam melewati ujian dan musibah.