Syahidkah Orang yang Meninggal karena Corona?

0
1718
meninggal karena corona
sumber foto: suara.com

Apakah umat Islam yang meninggal karena corona dinyatakan syahid?


Mungkin saja, dengan penuh rasa cemas bahkan was-was orang bicara soal ‘kematian’. Apalagi peristiwa yang bernama ‘kematian’ itu kerap kali dihubungkan dengan misteri ilahi. Teka-teki seperti itu (kematian) dalam benak kita serba intimidatif.

Kematian akan selalu menemukan jalannya sendiri. Dalam nalar logika, jatuh dari ketinggian 100 meter pasti mati, namun ada yang tidak seperti itu. Justru ada yang mati hanya jatuh dari kursi kantor saja.

Penderita penyakit akut dan divonis umurnya hanya menghitung hari, namun vonis itu meleset tak akurat. Tapi, penderita demam ringan mendadak meninggal dunia. Kematian menjadi misteri karena milik Sang Ilahi.

Prahara corona, membuktikan dikotomi ini. Ada yang positif sembuh, namun tak kunjung sembuh. Ada yang divonis tidak akut, namun meregang nyawa karenanya. Lalu bagaimana status korban atau meninggal karena corona yang gagal ditolong? Syahidkah mereka atau mati sia-siakah?!

Ragam Mati Syahid

Dalam literatur kitab fikih Madzhab Syafiiyyah, Muhammad Syatha al-Dimyathi, mengatakan bahwa syahid itu ada tiga macam variannya. Pertama, syahid dunia-akhirat. Kedua, syahid dunia saja. Ketiga, syahid akhirat saja. (I’anah al-Thalibin, 2/124).

Al-Nawawi memberikan gambaran soal syahid dunia. Dalam artian, bahwa ia tak perlu lagi dimandikan dan dishalati. Sementara syahid akhirat, bahwa ia mendapatkan ganjaran istimewa dari Allah.

Syahid dunia contohnya seperti orang yang berjihad hanya semata ingin mendapatkan harta dunia (ghanimah: harta rampasan perang), atau berjihad untuk mendapatkan popularitas belaka. Alasan al-Nawawi, sebab Khalifah Umar, Utsman dan Ali memandikan jenazah para pejuang dengan tujuan dunia ini, mereka juga sepakat mengatakan para pejuang dengan tujuan dunia adalah syuhada’ .

Syahid akhirat contohnya seperti orang yang terkena penyakit perut yang mematikan, seperti disentri, batu ginjal, kolera, dan lain lain hingga menemui ajalnya. Contohnya lagi seperti seseorang yang terjangkit wabah menular seperti tha’un, corona dan lain lain. Termasuk orang yang mati tenggelam dan kebakaran dan lain lain.

Sementara syahid dunia-akhirat seperti seseorang yang berjuang menegakkan agama Allah semata, tak ada tujuan lain selain itu. (Al-Majmu’ 5/264)

Janji Allah bagi syahid dunia-akhirat. Allah berfirman

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki. QS: Ali Imran 169

Menurut Jalaluddi al-mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi ayat ini turun untuk menjelaskan status Syuhada (orang orang yang dinilai mati syahid).  Seseorang yang mendapatkan kehidupannya kembali yang lebih abadi dan sejahtera. Tafsir al-Jalalain, 1/461

Dalam pandangan Ibrahim al-Qaththan, ayat ini hendak menanamkan sugesti atau bahkan obsesi untuk melakukan jihad, berjuang menegakkan agama Allah. Dengan janji kehidupan gemah ripah loh jinawi di alam baka. Berkecukupan dan tak berkesudahan. (Taysir al-Tafsir, 1/244).

Status Meninggal karena Corona

Lalu bagaimana dengan orang meninggal karena corona? Tak bisa dinafikan, wafat karena corona tergolong syahid akhirat. Kok syahid?

Seseorang yang terkena penyakit akibat virus corona, ia tengah dan pasti berjuang untuk melepaskan diri dari kungkungan penyakitnya. Berjuang untuk sembuh walaupun toh akhirnya, maut merenggutnya.

Orang yang meninggal karena corona mendapat pahala akhirat karena perjuangnnya. Sementara didunia, jasadnya tetap diperlakukan seperti jasad jasad biasanya. Konsekwensi logis fikihnya, jenazahnya tetap memiliki hak untuk di mandikan, dikafani, dishalati dan dikebumikan. (I’anah al-thalibin, 1/80).

Wallahu  a’lam