syirik
syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid Rububiyah tanpa mempertimbangkan niat dan tujuan pelaku. Akibat dari konsep yang demikian, maka Wahabi dengan tegas mengkafirkan umat Islam seluruh dunia, bahkan para sahabat sekalipun.

Mengapa demikian ?

Sudah maklum bilqat’i  (diketahui secara pasti kebenarannya) bahwa umat Islam sejak masa Nabi saw, para sahabatnya banyak bertawassul dan bertabarruk. Begitu juga setelah Nabi saw sudah wafat, mereka bertawassul dan bertabarruk kepada orang-orang yang terdekat, bahkan kepada sisa-sisa peninggalnya. Kita ambil contoh tabarruknya para sahabat Nabi saw melalui jubah peninggalan Nabi saw.

Dalam riwayat Abdullah Maulanya Asma’ bin Abu Bakar ra, ketika Asma’ bin Abu Bakar ra mengeluarkan jubah dari kain sutra, ia berkata: “Ini jubah Rasulullah saw yang berada pada Aisyah ra, manakala Aisyah ra wafat, aku mengambilnya. Dan kita selalu membasuhnya manakala ada orang yang sakit untuk diberikan kesembuhan melalui air dari jubah tersebut” (HR. Ahmad bin Hanbal)

Contoh lain tentang bertawassulnya Umar bin Khattab ra yang sangat masyhur dalam Islam. Dalam do’anya:

اللهم إِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami (dulu) berawassul kepadamu melalui Nabi kami, lalu engkau memberi hujan kepada kami, dan sesungguhnya kami (sekarang) bertawassul melalui paman Nabi kami, maka siramilah kami dengan hujan” (HR. Bukhari)

Dari riwayat di atas, kita dapat melihat bagaimana kebiasaan para sahabat Nabi saw yaitu bertabarruk dan bertawassul. Begitu juga umat Islam setelahnya karena meniru perbuatan orang-orang shalih yang hidup pada masa Nabi saw. Padahal dua perbuatan ini merupakan menurut Wahabi merupakan perbuatan-perbuatan syirik.

Baca Juga:  Wahabi bukan Pengikut Ulama Salaf, Ini Buktinya ?

Mari kita lihat bagaimana pernyataan tokoh-tokoh Wahabi dalam mengkafirkan umat Islam.

Dikutip dari kitab Ad Duror As Saniyah karya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan tentang pernyataan Muhammad bin Abdil Wahab:

إِنَّمَا أَدْعُوْكُمْ إِلَى التَّوْحِيْدِ وَتَرْكِ الشِّرْكِ بِاللهِ … وَجَمِيْعُ مَا هُوَ تَحْتَ السَّبْعِ الطِّبَاقِ مُشْرِكٌ عَلىَ الْإِطْلَاقِ وَمَنْ قَتَلَ مُشْرِكًا فَلَهُ الْجَنَّةُ

Artinya: “Hanyasaja saya mengajak kalian kepada Tauhid dan meninggalkan syirik kepada Allah… dan seluruh yang berada di bawah tujuh lapis langit, secara mutlak telah syirik, dan barang siapa yang membunuh orang syirik, maka baginya mendapatkan balasan syurga”[1]

Ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa berkata:

وَأَمَّا زِيَارَةُ قُبُورِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ لِأَجْلِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ مِنْهُمْ أَوْ دُعَائِهِمْ وَالْإِقْسَامِ بِهِمْ عَلَى اللَّهِ أَوْ ظَنِّ أَنَّ الدُّعَاءَ أَوْ الصَّلَاةَ عِنْدَ قُبُورِهِمْ أَفْضَلُ مِنْهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْبُيُوتِ فَهَذَا ضَلَالٌ وَشِرْكٌ وَبِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: “Ziarah kubur para nabi dan orang-orang shalih karena meminta agar kebutuhannya dikabulkan, atau meminta kepada mereka dan bersumpah dengan mereka atasnama Allah swt, atau menyangka bahwa berdo’a atau shalat di kuburan lebih utama daripada di masjid-masjid atau rumah-rumah, maka ini semua merupakan perbuatan sesat dan syirik dan bid’ah berdasarkan kesepakatan umat Islam” [2]

Pengkafiran-pengkafiran ini tiada lain karena konsep syirik yang diusung oleh Wahabi tidak mempertimbangkan niat seseorang. Sehingga mereka menilai setiap orang yang bertawassul atau bertabarruk telah menetapkan ada dzat selain Allah swt yang dapat memberikan manfaat dan mudhorot. Padahal faktanya, sebagaimana do’a Umar bin Khattab ra, hanyalah sebatas perantara saja. Ini lah akibat kesalahan dalam suatu konsep sehingga dapat mudah mengklaim orang lain menjadi kafir.

Wallahu a’lam

 

[1] Ahmad Zaini Dahlan, Ad Duror Assaniyah Fi Roddi Al Wahabiyah, Hal 46

Baca Juga:  Memahami Sifat Allah Qiyamuhu Binafsihi

[2] Ibn Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, Juz 17, Hal 471

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

maulid nabi

Pemuda Nakal Menjadi Wali karena Mengagungkan Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Pada zaman Khalifah Harun Ar Rasyid di kota Bashrah terdapat pemuda yang menyia-nyiakan hidupnya. Para …

doa orang yang baru datang haji

Doa Orang yang Baru Datang Dari Haji

Berdo’a untuk suatu kebaikan tidak dipermasalahkan adalam agama, karena berdo’a sendiri merupakan anjuran dari Allah …