keberadaan sihir
keberadaan sihir

Tafsir Ahkam Al-Baqarah 101-103 (2) : Hukum Belajar dan Mengajarkan Sihir

Salah satu kandungan hukum dalam Surat al-Baqarah ayat 101-103 tentang sihir adalah bagaimana hukum mempelajari dan mengajarkan ilmu ini? Bolehkah sekedar mempelajari tetapi tidak mengajarkan dan mempraktekkan?

Sebagian ulama membolehkan untuk belajar ilmu sihir berdasar pada kisah malaikat yang telah mengajarkannya pada manusia. Sebagaimana disebut dalam al Qur’an, “Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut”, (QS. al Baqarah: 102). Pendapat ini diamini oleh Imam Fakhru al-Razi, salah seorang ulama dari kelompok Ahlussunnah waljama’ah.

Al-Alusi mengatakan, mayoritas ulama ahli tafsir berpendapat bolehnya mempelajari ilmu sihir berdasarkan keumuman firman Allah, “Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS. al Zumar:9).

Bolehnya mempelajari sihir ini berangkat dari argumen, tidak mungkin bisa membedakan antara mukjizat dan sihir bila tidak mempelajarinya. Oleh karena itu, mempelajairinya tidak tergolong perbuatan jelek atau haram. Bahkan sebagian ulama mewajibkan seorang mufti untuk mempelajari sihir supaya bisa menetapkan hukum qishash (hukum pancung) bagi seseorang yang membunuh orang lain menggunakan ilmu sihir.

Namun begitu, al-Alusi secara pribadi tidak sepakat dengan pendapat ini. Ia lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama. Menurutnya, mempelajari sihir haram kecuali ada sebab yang direstui oleh syariat Islam. Al-Alusi mengkritik pendapat Imam al Razi.

Pertama, walaupun secara esensi sihir dalam kapasitasnya sebagai ilmu bukan sesuatu yang jelek, namun akibat buruknya yang menyebabkan ia diharamkan. Karena media yang bisa menghantar pada sesuatu yang diharamkan hukumnya juga haram. Dalam hal ini al-Alusi memakai teori tindakan preventif (syad al dzari’ah).

Kedua, untuk membedakan sihir dengan mukjizat tidak perlu mempelajarinya. Sebab para ulama dulu bisa membedakan keduanya tanpa mempelajari sihir. Andaikata mempelajari sihir itu boleh tentu ulama-ulama  salaf mempelajarinya.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Fatihah Ayat 2-4: Makna Syukur kepada Penguasa Segalanya

Ketiga, keputusan mufti terhadap wajib qisash atau tidak bagi pembunuh dengan menggunakan ilmu sihir tidak mewajibkannya untuk mempelajari ilmu sihir. Karena sebagaiman pendapat ibnu Hajar, bila ada dua ahli sihir yang telah tobat dan menjadi saksi bahwa seseorang telah melakukan pembunuhan dengan menggunakan ilmu sihir, mufti bisa memutuskan hukum pancung pada orang tersebut.

Menurut Jumhur Ulama hukumnya haram belajar atau mengajarkan ilmu sihir. Al Qur’an secara tegas mencela dan menyatakan dengan bahasa “kafir”. “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (QS. al Baqarah:102). Dengan demikian, menurut Jumhur Ulama, bagaimana mungkin menuntut atau mengajarkannya bisa halal?. Padahal Nabi juga menggolongkan sihir sebagai dosa besar.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Jauhilah tujuh dosa besar, para sahabat bertanya, “apa saja wahai Nabi”?. Nabi menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, menghilangkan nyawa yang Allah haramkan kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina kepada wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman dan bersih dari zina”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hayyan berkata, sihir adalah bentuk kekafiran karena mengagungkan selain Allah. Haram mempelajari dan mempraktikkannya. Begitu pula ilmu yang belum diketahui secara persis apakah sihir atau bukan (jenis ilmu hitam) dan segala ilmu yang bisa menipu dan memperdaya orang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

sistem demokrasi

Siapa Bilang Sistem Demokrasi tidak Islami?

Syura (musyawarah) sangat penting dalam relasi antar manusia. Dalam segala hal, musyawarah sangat dibutuhkan untuk …

akhlak al-quran

Mempraktekkan Akhlak Al-Quran

Akhlak yang mulia adalah sebaik-baiknya sesuatu. Semulia-mulianya manusia adalah sebaik-baik akhlaknya. Sebagaimana misi kenabian utama …