Tafsir Surah al-Ankabut
Tafsir Surah al-Ankabut

Tafsir Surah al-Ankabut ayat 64: Sudah Benarkah Pemahaman Kita Tentang “Dunia Hanya Permainan”?

“Dunia hanya permainan” dipahami oleh kebanyakan orang sebagai anjuran untuk mengabaikan dunia. Di dalam tulisan ini akan diterangkan tentang bagaimana masih ada orang yang berpandangan bahwa terdapat ajakan untuk tidak terlalu memikirkan dunia atau bahkan meninggalkannya sama sekali.

Sebagai contoh,  dalam surah al-Ankabut: 64 :

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.

Sementara di ayat lain terdapat ayat tentang berkompetisi di dunia agar mendapat kebaikan:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (al-Baqarah: 201)

Membahas penafisiran ataupun contoh ayat ‘kehidupan dunia hanya permainan’, bisa saja dicontohkan seperti dalam permainan sepak bola.Walaupun hanya permainan, apakah ketika kita sudah berada di lapangan akan menjalaninya dengan tidak serius? Apalagi di dalam sebuah pertandingan besar,  tentu membutuhkan keseriusan maksimal dan mengeluarkan tenaga. Semua itu dilakukan agar kita meraih kemenangan.

Beralih ke ibarat lain, kali ini,  diperagakan oleh dua orang anak kecil. Tak jarang kita melihat mereka asyik bermain bersama mainannya. Bahkan memperebutkan mainan. Sebagai contoh mobil-mobilan, yang kita tahu bahwa itu hanya sekadar mainan, dan ketika ditawarkan dengan mobil asli, apa reaksi mereka? Tentu tidak menginginkan. Anak-anak tadi lebih memilih mobil mainan.

Itulah beberapa permisalan yang biasa ditemui dikehidupan sehari-hari. Kehidupan dunia yang hanya sementara diibaratkan sebagai sebuah mainan. Manusia terkadang lupa atau bahkan tak menyadari bahwa ada kehidupan yang seseungguhnya. Cinta dunia telah menyatu di dalam diri manusia. Untuk itu, sebagai umat Islam, seharusnya tidak lalai terhadap kesenangan dunia.

Baca Juga:  Tafsir Surat al-Furqan 63 : Muslim Istimewa Memiliki Sifat Ramah dan Lemah Lembut

Telah dipaparkan di surah al-Ankabut ayat 64 tentang kehidupan dunia. Dari ayat tersebut, bermacam-macam orang mengartikannya. Karena secara bahasa saja, kita mestinya bisa mengartikan kemudian mengambil kesimpulan. Namun, apakah pemahaman yang ditangkap sudah benar? Jawabannya ialah belum tentu. Sebab, pembahasan tentang ayat itu merupakan bagian dari bentuk amtsal atau permisalan. Di dalam al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang termasuk amtsal.

Menurut Ibn Al Qayyim, amtsal ialah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya. Amtsal juga bertujuan untuk mendekatkan sesuatu yang bersifat abstrak dengan yang bersifat indrawi. Perumpamaan-perumpamaan di dalam al-Qur’an bentuknya beragam dan menginformasikan bahwa ada makna pesan yang terkandung di dalamnya.

Di sini, perlu diingat juga bahwa ada balasan bagi manusia di akhirat. Dan yang tidak memaksimalkan umurnya untuk berbuat baik, hidupnya penuh dengan keburukan, maka ada siksaan dari-Nya(az-Zalzalah:7-8). Bagi siapa saja yang ingin bertaubat dan memperbaiki diri, maka ampunan dan karunia Allah begitu besar.

Karena pada dasarnya, kehidupan dunia memiliki daya tarik yang dapat menipu. Jika manusia berpikiran dewasa, dengan menggunakan nalar spiritual yang baik, maka akan memilih kehidupan nyata, yakni akhirat. Sebagaimana perumpamaan tadi, bahwa anak kecil tidak mau memilih mobil sungguhan. Lalu, apa tindakan nyata yang harus dilakukan oleh seorang muslim?

Seharusnya, dengan adanya ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa dunia ini hanya permainan,  tidak menjadikan kita enggan menguasai dunia. Akan tetapi dunia harus kita kuasai dengan segala ilmu yang ada di dalamnya,  guna menghadapi tempat terbaik. Bukankah umat Islam merupakan umat terbaik(khoiru ummah)? Maka dari itu, kita harus menghadapi segala (permainan) yang ada di dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat kelak. Bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Ikhsan Hidayat

Avatar of Muhammad Ikhsan Hidayat
Peneliti di Pon-pes Dar al-Qolam Semarang

Check Also

wali nikah

Menikah di Bulan Syawal, Mengikuti Sunnah Nabi, Benarkah?

Bulan Syawal menjadi bulan istimewa bagi umat Islam. Setelah melewati rangkaian ibadah di bulan Ramadan, …

hadist dhaif

Sempat Dilarang, Ini Alasan Mengapa Hadits Dibukukan

Hadits pada awalnya ditulis oleh beberapa sahabat. Namun penulisan ini dilakukan tidak secara resmi, masih …