tafsir surat al-ankabut
tafsir

Tafsir Surat Al-Ankabut ayat 45: Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Pembentukan Akhlakul Karimah

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali nilai-nilai pendidikan Islam, salah satunya pada surat Al-Ankabut ayat 45. Berbagai kitab tafsir telah coba menguraikan ayat-ayat tersebut, misalnya Tafsir Al-Maraghi, menjelaskan bahwa pada ayat ini Rasulullah diberi tuntunan oleh Allah mengenai bagaimana caranya memperteguh jiwa menghadapi tugas yang berat (melakukan dakwah kepada manusia) yaitu hendaknya selalu membaca, merenungkan dan memahami isi dari wahyu yang diturunkan Allah kepadanya dan hendaknya mendirikan shalat secara sempurna seraya mengharapkan keridhaannya dengan khusyu’ dan merendahkan diri.

Sedangkan dalam Tafsir Fi Zhilalil-Quran dijelaskan bahwa ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar selalu membaca, mempelajari dan memahami Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Serta mengerjakan shalat, karena ketika shalat didirikan akan mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Karena shalat itu merupakan hubungan dengan Allah yang di dalamnya orang akan malu jika ia membawa dosa-dosa besar dan perbuatan keji ketika ia berjumpa dengan Allah.

Padahal shalat itu merupakan ritual untuk membersihkan diri dan menyucikannya sehingga tak sesuai dengan kotoran perbuatan keji dan kemungkaran. Maka orang yang mengerjakan shalat, tapi shalatnya itu tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, berarti ia belum mendirikan shalat dengan sebenarnya. Karena terdapat perbedaan besar antara mengerjakan shalat dengan mendirikan shalat. Shalat itu ketika didirikan, maka orang itu berzikir kepada Allah. Maka dari itu penulis ingin menjelaskan tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam pada surat Al-Ankabut ayat 45 sebagai pembentuk akhlakul karimah.

Tafsir dan Isi Kandungan QS Al-Ankabut ayat 45

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Muhammad Quraish Shihab menafsirkan bahwa ayat ini berpesan kepada Nabi Muhammad SAW lebih-lebih kepada umatnya bahwa, Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab yakni Al-Qur’an dan laksanakanlah shalat secara bersinambung dan khusyu’ sesuai dengan rukun syarat dan sunnah-sunnahnya. Sesungguhnya shalat yang dilaksanakan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya secara bersinambung dan baik, maka hal itu akan senantiasa melarang atau mencegah pelaku dari keterjerumusan dalam kekejian dan kemungkaran. Hal itu disebabkan karena substansi shalat adalah mengingat Allah. Siapa yang mengingat Allah, dia terpelihara dari kedurhakaan, dosa dan ketidakwajaran. Dan sesungguhnya mengingat Allah, yakni shalat, adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu sekalian senantiasa kerjakan baik atau buruk.

Baca Juga:  Tafsir Surah Ali Imran Ayat 104: Seruan Berdakwah bagi Kaum Muslimin

Dari ayat yang menggandengkan kata al-fahsya’ dan munkar dapat disimpulkan bahwa Allah SWT melarang manusia melakukan segala macam kekejian dan pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat karena yang memerintahkan kekejian dan pelanggaran adalah setan. Dan shalat mempunyai peranan yang sangat besar dalam mencegah kedua bentuk keburukan itu, apabila ia dilaksanakan secara sempurna dan bersinambung, disertai dengan penghayatan tentang substansinya.

Banyak pendapat ulama tentang pengaitan ayat ini dengan fenomena yang terlihat dalam masyarakat. Ada yang memahaminya dalam pengertian harfiah, mereka berkata sebenarnya shalat memang mencegah dari kekejian. Kalau ada yang masih melakukannya maka hendaklah diketahui bahwa kemungkaran yang dilakukannya dapat lebih banyak daripada apa yang terlihat atau diketahui itu, seandainya dia tidak shalat sama sekali.

Thabathaba’i ketika menafsirkan ayat ini menggaris bawahi bahwa perintah melaksanakan shalat pada ayat ini dinyatakan sebabnya, yaitu karena “shalat melarang atau mencegah kemungkaran dan kekejian”. Ini berarti bahwa shalat adalah amal ibadah yang pelaksanaannya membuahkan sifat kerohanian dalam diri manusia yang menjadikannya tercegah dari perbuatan keji dan munkar, dan demikian hati menjadi suci dari kekejian dan kemungkaran serta menjadi bersih dari kotoran dosa dan pelanggaran.

Dengan demikian shalat adalah cara untuk memperoleh potensi keterhindaran dari keburukan dan tidak secara otomatis atau secara langsung dengan shalat itu terjadi keterhindaran yang dimaksud. Sangat boleh jadi dampak dari potensi itu tidak muncul karena adanya hambatan-hambatan bagi kemunculannya, seperti lemahnya dzikir atau adanya kelengahan yang menjadikan pelaku shalat tidak menghayati makna dzikirnya. Karena itu, setiap kuat dzikir seseorang dan setiap sempurna rasa kehadiran Allah dalam jiwanya, serta semakin dalam kekhusyu’an dan keikhlasan, maka setiap itu pula bertambah dampak pencegahan itu, dan sebaliknya kalau berkurang maka akan berkurang pula dampak tersebut.

Bentuk Nilai-Nilai Pendidikan Islam

Kehidupan manusia tidak terlepas dari nilai dan nilai itu selanjutnya diinstitusikan. Institusional nilai yang terbaik adalah melalui upaya pendidikan. Pandangan Freeman But dalam bukunya Cultural History Of Western Education yang dikutip Muhaimin dan Abdul Mujib menyatakan bahwa hakikat pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi nilai, proses pembiasaan terhadap nilai, proses rekonstruksi nilai serta proses penyesuaian terhadap nilai.

Dalam pendidikan Islam terdapat bermacam-macam nilai Islam yang mendukung dalam pelaksanaan pendidikan bahkan menjadi suatu rangkaian atau sistem di dalamnya. Nilai tersebut menjadi dasar pengembangan jiwa agar bisa memberi output bagi pendidikan yang sesuai dengan harapan masyarakat luas. Dengan banyaknya nilai-nilai Islam yang terdapat dalam pendidikan Islam, maka penulis mencoba membatasi pembahasan dari penulisan ini dan membatasi nilai-nilai pendidikan Islam dengan nilai ibadah dan nilai akhlak (khuluqiyah). Adapun penjelasannya yakni:

Baca Juga:  Tafsir al-Baqarah 2:12 : Mengira Pejuang Kebenaran Ternyata Pembuat Kerusakan

Pertama, Nilai Ibadah

Ibadah sering diartikan dengan ma yuhibbuhullah wa yurdlihi (segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT). Dengan demikian, segala tingkah laku, ucapan dan sebagainya adalah ibadah sepanjang itu semua bersifat positif dan diniati secara ikhlas serta bertujuan mendapat ridha Allah. Secara harfiah ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT, karena didorong dan dibangkitkan oleh aqidah tauhid. Majelis Tarjih Muhammadiyah mendefinisikan ibadah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya.

Kedua, Nilai Akhlak (Khuluqiyah)

Pendidikan akhlak merupakan jiwa pendidikan Islam, dimana pendidikan akhlak ini terjadi melalui satu konsep atau seperangkat pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu bisa terwujud. Konsep atau seperangkat pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu, disusun oleh manusia di dalam sistem idenya. Kaidah atau norma yang merupakan ketentuan ini timbul dari satu sistem nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an atau Sunnah yang telah dirumuskan melalui wahyu Illahi maupun yang disusun oleh manusia sebagai kesimpulan dari hukum-hukum yang terdapat dalam alam semesta yang diciptakan Allah SWT.

Secara etimologis akhlaq adalah istilah bahasa Arab. Kata akhlaq merupakan bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata Khaliq (Pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan). Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlaq tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq (Tuhan) dengan perilaku makhluq (manusia). Atau dengan kata lain, tata perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlaq yang hakiki manakala tindakan atau perilaku tersebut didasarkan kepada kehendak Khaliq (Tuhan). Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlaq bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesama manusia (hablun minannās), tetapi juga norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan (hablun minallāh) dan bahkan dengan alam semesta sekalipun.

Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Pembentukan Akhlakul Karimah

Dalam pembentukan akhlakul karimah dijelaskan bahwa akhlak merupakan hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras serta sungguh-sungguh. Dimana akhlak berkaitan erat dengan nilai-nilai dan norma-norma. Nilai-nilai yang hendak dibentuk atau diwujudkan dalam pribadi anak didik agar fungsional dan aktual dalam perilaku muslim, adalah nilai Islami yang melandasi moralitas (akhlaq).

Adapun relevansi nilai-nilai pendidikan Islam yang terdapat dalam QS Al-„Ankabut ayat 45 dengan pembentukan akhlakul karimah diantaranya yaitu:

Pertama, Penjelasan perintah membaca Al-Qur’an dalam QS Al-Ankabut ayat 45, Allah telah mengingatkan hambanya untuk terus membaca Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat petunjuk hidup, pembeda antara hak dan batil, obat penenang jiwa dan rahmat bagi seluruh alam. Penjelasan di atas sesuai dengan tujuan pembentukan akhlakul karimah, yang di dalamnya menuntut seseorang untuk membiasakan berbuat atau melatih jiwa dalam perbuatan yang baik. Dimana pembinaan akhlakul karimah ini akan membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Baca Juga:  Mengenal Tafsir Ahkam : Menggali Hukum dari al-Qur’an

Kedua, Apa yang dijelaskan dalam QS Al-Ankabut ayat 45 tentang perintah mendirikan shalat, dimana shalat dapat membentengi diri dari perbuatan keji dan mungkar. karena shalat mengandung berbagai macam ibadah, seperti takbir, tasbih, berdiri di hadapan Allah, rukuk, dan sujud dengan kerendahan hati, seraya pengagungan, lantaran di dalam ucapan dan perbuatan shalat terdapat isyarat untuk meninggalkan kekejian dan kemungkaran. Penjelasan di atas selaras dengan pembentukan akhlakul karimah yang mengajarkan untuk membersihkan jiwa. Pembentukan akhlak dalam Islam terintegrasi dengan pelaksanaan rukun Islam. Hasil analisis Muhammad al-Ghazali terhadap rukun Islam yang lima telah menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan akhlak. Hal ini menandakan bahwa Islam sangat memberi perhatian yang besar terhadap pembinaan akhlak, termasuk cara-caranya. Hubungan antara rukun iman dan rukun Islam terhadap pembinaan akhlak, menunjukkan bahwa pembinaan akhlak yang ditempuh Islam adalah menggunakan cara atau sistem yang integrated, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan akhlak.

Ketiga, Dalam QS Al-Ankabut ayat 45 dijelaskan mengenai dzikir kepada Allah yaitu menghadirkan hati untuk senantiasa mengingat Allah. Shalat merupakan salah satu bentuk dzikrullah (mengingat Allah) yang hakiki dan sejati. Tujuannya pun untuk mengingat Allah sesuai firmanNya: “Dan laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14) Buah dari shalat adalah terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Tetapi terdapat maksud yang lebih besar dari itu yaitu dapat tercapai dzikrullah (mengingat Allah) seperti yang dikandung oleh shalat itu sendiri, dimana di dalamnya terdapat dzikrullah baik dengan hati, lisan maupun dengan anggota badan. Dengan demikian, substansi shalat yakni mengingat Allah itulah yang menjadikan seseorang terpelihara.

Penjelasan di atas selaras dengan pembentukan akhlakul karimah yang merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Perhatian Islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak ini dapat pula dilihat dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatanperbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

datang ke dukun

Apa Hukum Datang ke Dukun? Berikut Penjelasannya menurut Islam

Akhir-akhir ini media sosial di hebohkan dengan terbongkarnya trik perdukunan berkedok agama yang di lakukan …

george bin todzira

Belajar Dari Kisah George Bin Todzira: Hidayah Datang Saat Di Medan Perang

Memang hidayah itu istimewa, mahal dan berharga. Kedudukan dan status sosial bukanlah ukuran mendapatkannya. Gelimang …