Tafsir Surah al-Baqarah: Sebuah Pengantar

0
1057
surah al-baqarah

Kembali penulis menyapa pembaca Islam Kaffah lewat rubrik tafsir. Kali ini sebuah pengantar sebelum memasuki ayat demi ayat pada surah al-Baqarah. Apa saja makna kandungan, keutamaan, serta hakikat surah ini.

Surah al-Baqarah sendiri bermakna sapi betina. Tapi tahukah anda apa sebabnya surah ini dinamakan al-Baqarah?

Di dalam tafsir Al-Munir karya Syaikh Wahbah Zuhaily, dinamakan “surah al- Baqarah” karena di dalamnya terdapat kisah baqarah (sapi betina). Allah memerintahkan Bani Israel untuk menyembelihnya guna mengungkap tabir siapa sebenarnya pembunuh seseorang di antara mereka dengan cara memukul orang yang mati itu dengan salah satu organ sapi tersebut.

Atas izin Allah, orang mati itu pun hidup lagi lalu memberi tahu mereka tentang jati diri si pembunuh. Kisah tersebut dimulai dari ayat 67 pada surah ini. Kisah ini sungguh amat menarik, membuat pendengarnya merasa takjub dan ingin menyimaknya.

Surah ini termasuk surah yang turun di kota Madinah (Madaniyyah). Jumlah ayat keseluruhannya 286. Pada tafsir Al-Mishbāh, ayat-ayat dalam surah ini berbicara menyangkut peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa yang cukup panjang.

Ada peristiwa pengalihan kiblat (ayat 142), kemudian perintah untuk berpuasa (ayat 183), firman Allah tentang percaya atas hari kemudian (ayat 281). Hanya saja ayat 281 ini turun di Mina ketika Haj Wada’ (haj perpisahan). Ini berarti surah al-Baqarah secara keseluruhan turun dalam masa sepuluh tahun.

Surah kedua al-Quran ini berisi tasyri’ (aturan aturan hukum) yang menata kehidupan kaum Muslimin dalam masyarakat baru di Madinah, masyarakat agama dan negara sekaligus. Keduanya tak terpisahkan satu sama lain, keduanya memiliki hubungan yang inheren (erat, tak terpisahkan) seperti raga dan jiwa.

Oleh karena itu, tasyri’ pada periode Madinah berlandaskan pada pemurnian akidah Islam, yang prinsipnya adalah beriman kepada Allah dan kepada alam gaib, serta percaya bahwa sumber Alquran adalah Allah ‘Azza wa Jalla, keyakinan yang teguh kepada apa yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya (Muhammad) dan kepada para nabi.

Keutamaan Surah Al-Baqarah

Keutamaan surah ini sangatlah agung dan pahalanya amat besar. Surah ini juga disebut Fusthāt al-Qur’ān (tenda Alquran), dikarenakan sangat besar dan megah. Surah ini juga berisi hukum-hukum dan wejangan-wejangan. Rasulullah Saw. bersabda:

 “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan menjauh dari rumah yang di dalamnya dibaca surah al-Baqarah”. [HR. Muslim]

Keutamaan yang lain, surah ini merupakan posisi puncak Al-Quran, diturunkannya surah ini bersamaan diturunkannya 80 Malaikat pada setiap ayatnya. Seperti yang telah diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah Saw. bersabda:

“Surah al-Baqarah adalah puncak Alquran, diturunkan bersamaan dengan turunnya delapan puluh malaikat pada tiap-tiap ayatnya. Dikeluarkan dari ‘Arasy firman-Nya, “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)” [Q.S. al-Baqarah: 255]; kemudian disambungkan dengannya, yakni dengan surah al-Baqarah. Yāsīn adalah Kalbu Alquran, tidak sekali-kali seorang lelaki membacanya karena mengharapkan pahala Allah dan hari kemudian (surga-Nya) melainkan diampuni baginya. Bacakanlah surah Yāsīn buat orang-orang mati (diantara) kalian.” [HR. Ahmad]

Dari redaksi hadits diatas, sangatlah menggambarkan perilaku ibadah umat Islam di Indonesia. Bahwa amalan-amalan mayoritas Muslim di Indonesia tidak jauh dari membaca sebagian surah al-Baqarah dan membaca surah Yasin.

Keutamaan yang lain ialah Rasulullah Saw bersabda:

“Pelajarilah surah al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambil surah al-Baqarah membawa berkah, dan meninggalkannya mengakibatkan penyesalan, dan sihir tidak dapat mengenai pemiliknya.” (HR Ahmad).

Hadits di atas menyatakan ada suatu proteksi diri jika kita membaca surah al-Baqarah, terhindarlah kita dari gangguan-gangguan yang bersifat tak kasat mata ataupun semacamnya. Dan tentunya ada keberkahan setiap kita membaca surah al-Baqarah.

Wallāhu a’lam bi ash-shawāb