tanah yang dijanjikan
tanah yang dijanjikan

Tafsir Surat Al-Anbiya 105 : Bani Israel Harus Shaleh Dulu Baru Mewarisi Tanah yang Dijanjikan

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis) al Dzikr bahwasannya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh”. (al Anbiyaa: 105).

Imran N Hosein, pakar eskatologi Islam, dalam bukunya, Jerusalem in the Qur’an, tanah yang dijanjikan kepada Bani Israil akan diberikan dengan syarat mereka harus menjadi hamba-hamba yang shaleh.

Dalam kitab Mazmur 37: 29 “Orang-orang shaleh akan mewarisi Tanah (suci) dan tinggal disana selamanya”. Mazmur adalah Zabur. Di Indonesia,  dikenal dengan kitab perjanjian lama.

Ungkapan Hosein ini didasarkan pada fakta sejarah. Ketika Bani Israil meninggalkan prilaku shaleh, mereka terpaksa harus hengkang dari Tanah Suci.

Pertama, pada tahun 585 SM Bani Israil diusir oleh bangsa Babilonia di pimpin oleh rajanya, Nebukadnezar, berhasil menghancurkan Yerusalem. Dan untuk kedua kalinya, Titus, komandan tentara Romawi juga berhasil memporak-porandakan Yerussalem pada tahun 70 M. Kisah ini diabadikan oleh al Qur’an dalam surat al Isra’: 4-7).

Apakah benar kesimpulan yang dibuat Hosein bahwa Bani Israil bisa mendapatkan Tanah Suci yang dijanjikan dengan syarat harus menjadi hamba-hamba yang shaleh?

Dalam tafsir al Qurthubi, menafsiri ayat di depan, yang dimaksud tanah warisan atau Tanah Suci pada ayat ini adalah tanah surga. Karena sebagaima diketahui, tanah di muka bumi ini telah diwariskan kepada semua penduduk bumi, baik yang shaleh dan yang tidak. Pendapat ini dikemukakan oleh Sa’id bin Jabir. Pendapat yang sama juga dikatakan oleh Imam Mujahid, Ibnu Abbas dan lainnya.

Tetapi dalam riwayat yang lain, Ibnu Abbas berpendapat, ada dua tafsir untuk tanah warisan. Pertama, adalah tanah yang disucikan (Yerussalem). Kedua, tanah orang-orang kafir yang mereka wariskan kepada umat Islam setelah ditaklukkan.

Baca Juga:  Jangan Salah Paham dengan Istilah Islam Nusantara

Sedangkan yang dimaksud dengan hamba-hamba yang shaleh dalam ayat tersebut mayoritas ulama ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud adalah umat Nabi Muhammad.

Dari secuplik penjelasan di atas, ungkapan Imran N Hosein sejalan dengan apa yang ditulis oleh al Qurthubi dalam tafsirnya sebagaima telah diulas.

Dengan demikian, usaha apapun yang dirancang oleh Bani Israil untuk menguasai Tanah yang dijanjikan (the promised land) selama mereka tetap dalam kedzaliman, kekejaman, dan masih angkara murka adalah mimpi belaka. Selamanya tidak akan berhasil. Karena Tanah Suci dikhususkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang shaleh.

Wallahu A’lam

Bagikan Artikel

About Ahmad Sada'i