bentuk dzikir

Tafsir Surat Al-Ra’du Ayat 28: Inilah Bentuk Dzikir yang Menenangkan Hati

Dzikir adalah upaya manusia untuk bermesraan dengan Tuhan. Dzikir bila dimaknai “mengingat Allah” tentu dilakukan oleh semua makhluk di planet bumi ini baik yang kasat mata dan yang tidak. Pohon, rerumputan, sungai, laut, gunung, matahari, bulan dan semua makhluk ciptaan Allah berdzikir dengan cara yang berbeda-beda.

Apalagi bagi manusia, dzikir menjadi gizi ruhani paling efektif. Ditambah janji Allah yang memastikan hati orang-orang yang beriman akan tenang dan tenteram bila berdzikir. Bentuknya bisa beragam. Beda kepala bisa beda bentuk dan pola dzikirnya. Sebagaimana ulama juga berbeda pandang tentang bentuk dzikir yang disebut-sebut dapat menenangkan hati.

Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram”. (QS. al Ra’du: 28).

Menafsirkan ayat ini, Imam Muhammad Ibnu Ali al Syaukani dalam karyanya bidang tafsir, yaitu kitab Fathu al Qadir (Juz 3, hlm.116) menulis, orang-orang yang beriman akan tentram dan tenang hatinya di saat berdzikir kepada Allah dengan lisan, seperti membaca al Qur’an, membaca tasbih, tahmid dan takbir. Atau dengan mendengarkan bacaan-bacaan tersebut.

Membaca al Qur’an termasuk dalam dzikir ini berdasar pada firman Allah, “Dan Qur’an ini dalah dzikir (kitab) yang mempunyai berkah yang telah kami turunkan”. (QS. al Anbiya: 50). Juga berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan dzikir (al Qur’an), dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. (QS. al Hijr: 9).

Al-Qurthubi dalam kitabnya yang masyhur dengan Tafsir al Qurthubi (juz 9, hlm. 315) menerangkan, dzikir yang dapat menenangkan dan menentramkan hati adalah dengan cara mempertebal keyakinan terhadap ketauhidan (keesaan) Allah serta berdzikir dengan lisan. Sebagian ulama menyatakan, ketenangan dan ketentraman hati dengan cara mengesakan Allah.

Baca Juga:  Jangan Sekedar Ikut-ikutan, Ini Tolok Ukur Ulama yang Patut dijadikan Panutan

Ada pula yang mengatakan dzikir yang dimaksud adalah ketaatan terhadap aturan Allah. Ulama yang lain mengatakan bahwa ketenangan dan ketentraman hati bisa diperoleh dengan selalu mengingat janji Allah. Pendapat berikutnya mengatakan bahwa ketenangan dan ketentraman hati bisa diraih dengan bersumpah atas nama Allah, sebab dengan sumpah seseorang dapat mengalahkan setan dengan pertolongan-Nya.

Sebagian ulama juga berpendapat bahwa ketenangan dan ketentraman hati bisa diraih dengan mengingat kasih sayang Allah. Sebagian yang lain mengatakan dengan melihat dan mengingat tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah.

Inilah ragam penafsiran ayat “Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram”. Perbedaan pola dzikir para ulama di atas tentu karena pengalaman bermesraan dengan Tuhan yang berbeda pula. Mulai dari dzikir dengan cara membaca al Qur’an, mempertebal ketauhidan, membaca tahlil, tahmid, takbir dan seterusnya. Kita bisa mengikuti satu atau lebih cara tersebut. Yang penting berdzikir dengan istiqamah.

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri