Quraisy
Quraisy

Tafsir Surat Quraisy Ayat 2: Solusi saat Terjadi Krisis Ekonomi

“(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas”. (QS. Quraisy: 2).

Krisis ekonomi pernah terjadi di Makkah. Terjadi sebelum Nabi diutus. Krisis ekonomi yang begitu parah sampai ada istilah al-I’tifar, bunuh diri massal satu keluarga dengan cara membangun tenda di tempat tertentu dan kepala keluarga membawa seluruh anggota keluarganya. Di situ mereka menahan lapar sambil menunggu ajal menjemput. Ada pula riwayat, satu keluarga menutup pintu sambil menunggu kematian sebab kelaparan.

Pada saat seperti itu, seorang pemuda Quraisy bernama Hasyim mencoba mengambil langkah mengatasi problem krisis tersebut. Karena bagi penduduk Makkah profesi yang paling mungkin adalah berdagang, maka Hasyim mengambil langkah dengan cara menghubungi raja-raja di luar Arab supaya membuka hubungan dagang dengan kaum Quraisy dengan jaminan keamanan.

Al-Qurthubi jelas dalam tafsirnya mengatakan, dibantu oleh tiga saudaranya, Abdu Syams, Naufal dan Mutthalib upaya diplomatik dimulai. Hasyim membangun komunikasi dengan Raja Romawi, Abdu Syams ke Habasyah, Naufal ke Persia, Mutthalib ke Yaman. Misi ini sukses. Sehingga kran perdagangan terbuka untuk orang-orang Quraisy. Alhasil, mereka memulai perjalanan dagang dan hasilnya dibagi rata. Tidak ada beda pendapatan antara kaya dan miskin. Tuntas sudah penderitaan kaum Quraisy, krisis berlalu dan mereka hidup sejahtera.

Kondisi ini dipotret oleh al Qur’an dengan “Rihlata al Syitaai wa al Shaif“. Perjalanan di musim dingin dan musim panas. Tradisi yang dilakukan turun temurun. Sejak ini pula, interaksi bangsa Arab, khususnya kaum Quraisy, dengan bangsa-bangsa lain dimulai. Mereka belajar dari mereka yang peradabannya lebih maju.

Ditulis oleh al Thabari dalam tafsirnya, pada musim panas, ekspedisi dagang orang-orang Quraisy berangkat ke Syam. Dan pada musim dingin ke Yaman. Al Wasith Lithanthawi menyebut tujuan dagang ini untuk memperoleh keuntungan, peningkatan ekonomi, dan pemenuhan segala kebutuhan hidup.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al-Baqarah 183-187 (4) : Tidak Puasa Orang Sakit dan Perjalanan, Rukhshah atau ‘Azimah?

Pelajaran yang bisa diambil, disaat krisis melanda, upaya yang dilakukan Hasyim, kakek buyut Nabi, layak ditiru. Harus melakukan terobosan-terobosan untuk memecah kebuntuan ekonomi. Baik dengan membuka akses perdagangan, pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal dan seterusnya. Yakinlah, bahwa Allah tidak akan membiarkan hambanya mati kelaparan selama mereka berupaya menjalani hidup dengan kreasi dan nalar terbaiknya. Tidak malas, bekerja keras dan doa.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri