surat yasin
surat yasin

Tafsir Yasin Ayat 6 (4): Perintah Memberi Peringatan Kepada Mereka yang Lupa

“Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai”. (Yassin: 6).

Dalam Tafsir Yasin Hamami Zadah dan Tafsir al Qurthubi, ada dua pendapat mengenai tafsir ayat ini. Dua pendapat ini berangkat dari perbedaan menentukan “ma” (ما) pada ayat ini.

Yang pertama berpendapat bahwa “ma” (ما)  pada ayat ini adalah ma Nafi (istilah ilmu nahwu) yang punya arti tidak. Dengan demikian ayat ini maknanya adalah, supaya Nabi memberikan peringatan kepada kaum yang leluhurnya tidak pernah diberi peringatan.

Pendapat kedua menyatakan (ما) bermakna (الذي). Jadi, makna ayat di atas adalah, supaya Nabi Muhammad memberikan peringatan kepada kaum seperti peringatan yang telah disampaikan kepada leluhurnya.

Dalam Tafsir al Wasith li Thanthawi, Alah menurunkan ayat ini dalam rangka menjelaskan hikmah diutusnya Nabi Muhammad, yaitu supaya memberi peringatan kepada kaum yang nenek moyang mereka tidak pernah mendapat peringatan sehingga mereka lalai.

Sedangkan yang dimaksud kaum pada ayat ini adalah orang-orang kafir Makkah. Risalah yang dibawa Nabi Muhammad adalah dalam rangka memberi peringatan kepada kaum Quraisy yang sejak Nabi Ismail tidak diturunkan Nabi kepada mereka sehingga mereka lalai dan tenggelam dalam perbuatan syirik. Mereka lalai dari kewajiban mereka untuk menyembah Allah.

Tafsir al Sa’di menjelaskan, setelah Allah bersumpah bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya dan menunjukkan bukti-bukti kenabiannya, kemudian Allah menurunkan ayat ini yang berisi perintah kepada Nabi supaya memberi peringatan kepada orang-orang Arab yang tak pernah diturunkan kitab dan rasul kepada mereka sehingga mereka diliputi kebodohan (jahiliah) dan berada dalam kesesatan.

Tafsir surat Yasin ayat 6 ini tidak berarti Nabi Muhammad hanya diutus kepada bangsa Arab, namun untuk seluruh manusia. Ayat ini merupakan satu spesifikasi terhadap orang-orang kafir Makkah yang pada awalnya tidak percaya terhadap kanabian dan kerasulan Nabi Muhammad.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah: 183-187 (7) : Bolehkah Tidak Puasa Ramadhan Tanpa Udzur dan Diganti dengan Fidyah?

Al Qur’an dan Nabi Muhammad merupakan petunjuk dan tempat bersandar bagi orang-orang yang beriman dan sebagai peringatan kepada mereka yang inkar. Ayat ini secara tegas memerintahkan Nabi untuk memberi peringatan kepada orang-orang Arab yang saat itu tidak percaya kepada al Qur’an dan kerasulan Muhammad.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

muadzin

Apakah Muadzin Disyaratkan Punya Wudhu’?

Dari al Zuhri, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAw, “Tidak boleh adzan kecuali orang yang …

menjaga kebersihan masjid

Anjuran Menjaga Kebersihan Masjid dan Memberinya Pengharum

Bukan suatu alasan dengan mengatakan terpenting adalah menjaga banyaknya jamaah di masjid sementara menjaga kebersihan …