Tajin Suro Muharram
Tajin Suro Muharram

Tajin Suro di Muharram : Antara Tradisi dan Ajaran

Digadang-gadang sebagai bulan mulia dan agung, menghinggakan Muharram (Jawa: Suro) lebih familiar di kalangan umat dibandingkan bulan lainnya. Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro dianggap sebagai bulan yang keramat.

Tak heran, bila ada pantangan untuk menyelenggarakan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pasalnya, bila tidak di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Di sisi lain, Batara Kala sang penguasa Suro juga diyakini merupakan penguasa waktu yang menjalankan hukum karma atau sebab akibat buruk. Tak heran, bulan Suro lengang dari berbagai acara.

Selain itu, untuk memperoleh keselamatan diadakan berbagai ritual. Sebagian masyarakat mengadakan tirakatan guna mendapatkan kedigjayaan pada malam satu Suro (Muharram). Ada sadranan, nasi tumpeng yang dihiasi aneka lauk dan kembang lalu di larung (dihanyutkan) di laut selatan disertai kepala kerbau.

Dalam tradisi Madura terdapat “tajin surah” di Jawa dikenal juga tajin atau bubur Suro untuk dibagikan kepada sanak keluarga, handai tolan dan tetangga. Tujuannya mencari keselamatan dengan berbagi (bershadaqah). Lalu bagaimana Islam menyikapi tradisi ini.

Allah berfirman:

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. QS. Al-Qashas ayat 77.

Al-Thabari mengatakan bahwa perbuatan baik yang dimaksud ayat di atas adalah berbagi rezki dengan sesama. Untuk merekatkan dan membangun solidaritas demi kerukunan bertetangga. Jami’ al-bayan, 19/625

Maka sesungguhnya apa yang ditafsirkan al-Thabari sepenuhnya menjadi Ruh dari tradisi “Tajin Surah”.

Sabda nabi:

Baca Juga:  Pemakaman Tertua di Makkah yang Pernah Dihancurkan Kerjaan Arab Saudi

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بن إِبْرَاهِيمَ أَبُوعُبَيْدَةَ الْعَسْكَرِيُّ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بن أَبِي طَالِبٍ الْبَزَّازُ، حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بن الشَّدَّاخِ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ

Artunya : Abdul Warits Ibn Ibrahim Abu ‘Ubaidah al-‘Askari menceritakan kepada kami, Ali Ibn Abi Thalib al-Bazzar menceritakan kepada kami, al-haitsam Ibn al-Syaddakh menceritakan kepada kami dari al-A’masy dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallama beliau bersabda: barang siap yang memberikan keleluasaan (berbuat baik) kepada keluarganyadi Hari ‘Asyura’ maka senantiasa ia akan berada dalam keleluasaan (kebaikan) Allah di sepanjang tahunnya. HR. Thabrani No. 9864

Sayyid al-Bikri yang memiliki nama lengkap Abu Bakar Ibn Muhammad Syatha al-Dimyathi memaparkan setidaknya ada dua belas amalan yang bisa dilakukan di Bulan Suro. Di antaranya adalah Silaturrahmi, bershadaqah, Memperluas tali persaudaraan. (I’anah al-Thalibin, 2/301-302)

Tidak ada tujuan lain di balik tradisi “Tajin Surah” kecuali silaturrahmi dengan berbagi riski berbentuk tajin surah guna memperluas tali persaudaraan.

Maka bisa disimpulkan. Tradisi Asyura tidak patut dipersoalkan karena memiliki legalitas formal dari agama. Selamat menyambut tahun baru Islam. Dalam bingkai tatanan hidup yang baru (new normal) untuk menjadi pribadi yang baru dengan keimanan yang baru pula.

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo