Buka Luwur
Buka Luwur

Buka Luwur 10 Muharram : Potret Islam dan Tradisi Nusantara

Indonesia merupakan Negara yang memiliki aneka kebudayaan dan tradisi yang begitu megah. Islam datang di nusantara harus bergelut dengan tradisi yang besar itu hingga mampu diserap oleh masyarakat lokal. Tidak mengherankan, jika Wali Songo dengan kearifan budaya mampu memadukan Islam dan tradisi Nusantara sebagai metode dakwah. 

Salah satu tradisi yang masih tersisa dalam paduan antara budaya leluhur dalam penyebaran Islam di tanah Jawa yakni budaya Buka Luwur. Ritual Buka Luwur merupakan tradisi penggantian  kain  mori (luwur)  yang  digunakan  untuk  membungkus  nisan,  cungkup,  makam,  serta  bangunan  di sekitar  makam  Sunan  Kudus dan juga Sunan Muria yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram.

Tradisi ini dilakukan oleh kiai sesepuh terdahulu bertujuan untuk menghormati jasa Sunan yang telah menyebarkan dan mengenalkan Islam di daerah Kudus. Fenomena keagamaan seperti ini adalah perwujudan sikap dan perilaku manusia yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat, dan berasal dari sesuatu yang ghaib.

Kebudayaan di Pulau Jawa, merupakan gabungan ajaran nenek moyang terdahulu dengan ajaran Islam yang telah disebarkan oleh para wali yang ada di tanah Jawa. Meski di Jawa sebagian besar masyarakatnya memeluk agama Islam, namun Islam tidak masuk dengan tradisi dan budaya Arab. Islam di nusantara berdiri kokoh dengan esensi Islam yang dibalut dengan kebudayaan. 

Islam yang lahir di Pulau  Jawa  muncul dengan karakter Islam yang adaptif dan dinamis. Islam lahir dengan gaya toleransi dan elastisitas tinggi yang telah diajarkan oleh Rasulullah dalam penyebarannya.

Buka luwur merupakan upacara peringatan wafatnya sunan Kudus atau disebut dengan “Khaul” yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram atau 10 Syura. Banyak masyarakat yang menganggap tanggal 10 Muharram merupakan hari yang keramat dalam budaya Jawa dan juga dalam Islam.

Baca Juga:  Khutbah Jumat : Semangat Tahun Baru untuk Membentuk Pribadi Muslim yang Merawat Persatuan

Makna utama pelaksanaan Buka Luwur yakni untuk meneladani sosok dan perjuangan Kangjeng Sunan Kudus yang menyebarkan Islam dengan jalan damai serta mengembangkan kebudayaan lokal. Selain itu, buka luwur juga menjadi media refleksi untuk melestarikan peninggalan Kanjeng Sunan Kudus, terutama ajaran toleransi yang saat ini sangat dibutuhkan masyarakat.

Awal tradisi upacara Buka Luwur dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram setelah usai Shalat Subuh. Berawal dari acara penggantian kelambu atau kain putih yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran dan tahlil yang hanya khusus diikuti oleh para kyai.

Bersamaan dengan itu diadakan pembagian makanan yang berupa nasi dan daging yang dibungkus dengan daun jati, yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat yang datang dalam prosesi tersebut. Banyak masyarakat yang bersusah payah untuk mendapatkan nasi dan daging tersebut, karena banyak yang menganggap bahwa nasi tersebut memiliki berkah dari para Sunan.

Oleh kaenanya nasi tersebut biasa disebut dengan “sego mbah sunan” (nasinya sunan kudus). Setelah acara penggantian kelambu dan pembagian nasi tersebut, berakhir sudah upacara Buka Luwur.

Berbicara masalah upacara tradisional Buka Luwur tentu tidak terlepas dari keterkaitan antara kebudayaan dan keagamaan yang sangat erat hubungannya. Keterkaitan inilah yang akan mengatur kehidupan manusia agar mengerti dan mampu memahami bagaimana ia harus bertindak, berbuat dan menentukan sikap dalam hubungan dengan orang lain.

Dilihat dari Prosesinya, terdapat nilai religius yang nampak dengan jelas saat pembagian nasi dan daging. Ini merupakan bentuk sikap saling membantu dan tolong menolong antar manusia. Kemudian adanya prosesi mengganti luwur yang dalam menjalankan prosesinya para kiai diharuskan berziarah kubur dan juga membaca tahlil seperti yang disyariatkan oleh agama Islam.

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar