034281500 1621846186 830 556

Tema Lomba Tulis BPIP Tuai Polemik, UAH Sarankan Ganti Tema Yang Lebih Relevan Dengan Santri

JAKARTA – Polemik terus bermunculan atas Lomba penulisan yang digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam rangka menyambut Hari Santri 2021. Belum sempat bergulir suara pro dan kontra bermunculan ada sebagian yang menyatakan bahwa tema tersebut relevan namun tidak sedikit yang mengkritik dengan tegas dan menolak dengan asumsi membenturkan agama dengan negara.

Terkait pro dan kontra yang yang terjadi atas tema tersebut, pendakwah Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyarankan supaya diganti dengan tema yang lebih soft agar tidak menimbulkan perdebatan dan polemik di masyarakat.

“Kalau kita mempunyai niat yang sama, nilai kebangsaan dalam perspektif keagamaan, saya kira lebih baik cari tema yang sesuai. Tema diganti yang sesuai dengan karakteristik santri dan kebutuhan santri sehingga bisa melahirkan genersi terbaik,” kata UAH dalam video Tanggapan UAH Tentang Tema Lomba Menulis BPIP di kanal Youtube Adi Hidayat Official dan seperti dilansir dari laman ihram.co.id Senin (16/8).

UAH menyimpulkan tema yang diajukan dalam lomba menulis BPIP tidak tepat meskipun tujuannya untuk meningkatkan rasa cinta negara atau penguatan keagamaan dalam konteks kebangsaan. UAH mengusulkan BPIP membuat tema lain yang dinilai selaras dengan santri. Contohnya, peran ulama dalam melahirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap wilayah di Indonesia bisa memunculkan ulamanya masing-masing.

UAH menilai, tema yang diusung dalam lomba tersebut mengundang banyak pertanyaan.Bahkan, dia mempertanyakan apa tujuan yang ingin dicapai oleh para panitia.

“Hormat bendera menurut hukum Islam? Sekarang pertanyaannya apakah belum diketahui bagaimana hukum Islam terkait penghormatan bendera. Kalau belum tahu seharusnya bertanya, datang ke ulama atau ke MUI nanti MUI beri fatwa yang akan disosialisasikan,” ujar dia.

Baca Juga:  Kepala BPIP: Sejujurnya Musuh Terbesar Pancasila Adalah Agama Bukan Kesukuan

Akan tetapi jika tujuan lomba hanya ingin mengklasifikasi ragam pemahaman keislaman masyarakat tentu tidak harus digeneralisasi dengan membuat tema yang umum. Misal, jika BPIP mengetahui ada sudut pandang tertentu sebagian kecil komunitas Muslim yang memandang hormat dalam bendera tidak diperlukan bisa memberikan edukasi atau diadakan dialog sebab ini dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

“Jadi saya kira dasar pemikirannya sangat lemah mengapa harus memunculkan tema seperti ini,” ucap dia.

Yang paling menarik lagi kata UAH, sasaran lomba ini adalah santri. Sedangkan dalam konstruksi hukum Islam untuk melahirkan sebuah hukum bukan ranah santri. Sebab, santri masih dalam ranah pembelajaran dasar-dasar hukum yang sudah mutlak dan disampaikan oleh ulama berdasarkan refrensi sumber-sumber hukum Islam.

Dalam hukum yang mengatur kehidupan dengan manusia atau muamalah terdiri dari sembilan turunan. Turunan-turunan itu akan dipelajari secara berjenjang berdasarkan tingkat keilmuan dan pendidikan.

“Anda ingin memberikan beban konstruksi hukum pekerjaan ulama kepada para santri yang masih di level dasar? Yang dalam konteks belum masuk untuk merumuskan suatu hukum? Ini yang menjadi persoalan,” tuturnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Hubungan suami istri

Heboh Anal Seks, KH Cholil Nafis: Haram Hukumnya!

Jakarta – Akhir-akhir ini heboh pemberitaan seorang wanita dan istri yang melaporkan suaminya yang juga …

umat muslim melaksanakan ibadah shalat idul fitri hijriah

Ini Alasan Aceh Disebut Serambi Makkah

JAKARTA – Orang-orang Indonesia sejak zaman Belanda telah melaksanakan ibadah haji, dahulu kala menggunakan kapal …