WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.46
WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.46

Terima Kasih Ramadan (2) : Merawat “Pelajaran Menahan” Pasca Ramadan

Terima kasih Ramadan yang telah menggembleng umat selama sebulan. Hari kemenangan tentu bukan akhir segalanya dengan ueforia dan melepas segalanya. Ramadan adalah madrasah yang mendidik akhlak umat Islam melalui ibadah. Ritual dilaksanakan sebenarnya dalam rangka mendidik perilaku yang baik. Jika baik pasca Ramadan, berarti puasa kita telah berhasil mendidik akhlak kita.

Setelah pelajaran penting tentang rasa lapar pada tulisan berikutnya ada pelajaran kedua yang mestinya harus terus dirawat setelah bulan Ramadan. Pelajaran itu bernama “menahan”. Puasa Ramadan mengajarkan umat Islam untuk belajar menahan diri dari berbagai kejelekan bahkan hal yang halal sekalipun ketika berpuasa seperti makan, minum dan berhubungan dengan pasangannya.

Memang secara bahasa berpuasa (shiyam) berarti menahan (imsak). Puasa mengajarkan pelakunya untuk menahan diri untuk melakukan aktifitas yang dapat merusak puasanya. Tetapi, sejatinya puasa tidak hanya mengajarkan menahan, tetapi puasamu adalah perisai atau benteng dari perbuatan yang membatalkan dan perbuatan buruk lainnya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa” (HR. Al Bukhari).

Menahan adalah bagian dari kerja perisai. Puasa adalah perisai ketika godaan dan ajakan kejelekan sedang menghampiri. Ketika ada berita hoax, informasi yang menghasut, mengadu domba dan memprovokasi jadikan puasa sebagai benteng. Katakanlah saya sedang berpuasa sehingga tidak bisa melakukan apapun kejelekan.

Puasa sebagai “pelajaran menahan” ini harus membentuk perisai yang kuat pasca Ramadan. Tentu hal yang membatalkan puasa sudah tidak berlaku di luar Ramadan. Orang bebas makan dan minum di siang hari. Namun, puasa harus meninggalkan benteng kuat dan perisai kokoh sebagai jejak puasa selama sebulan.

Baca Juga:  Inilah 8 Manfaat Silaturrahmi

Sungguh akan menjadi sia-sia jika Ramadan tidak berhasil menempa benteng dalam diri kita. Puasa hanya menjadi rutinitas dan formalitas tahunan yang hanya meninggalkan euforia ketika lebaran. Sekali lagi Ramadan mengajarkan banyak hal bukan sekedar memenuhi kewajiban semata. Salah satunya Ramadan sedang membuatkan kita satu perisai yang kuat yang bisa dibawa pasca Ramadan.

Maka, orang yang kualitas ibadah puasanya berhasil adalah ketika memiliki perisai setelah Ramadan. Jika ada berita hoax, maka katakanlah saya punya perisai Ramadan. Ketika ada ajakan kekerasan, cacian, bergunjing dan memfitnah, maka katakanlah saya punya perisai Ramadan.

“Pelajaran menahan” selama Ramadan harus mewujudkan perisai akhlak hati, lisan dan perilaku pasca Ramadan agar tidak terjatuh dalam perilaku maksiat dan dosa. Semoga amal ibadah kita selama Ramadan diterima oleh Allah. Amin

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

khilafiyah

Menyoal Khilafiyah : Kenapa Dalilnya Sama, Tetapi Hukumnya Beda?

Kata Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya al Sawa’iq al Mursalah, “Terjadinya perbedaan di kalangan …

Ustad Adi Hidayat

Soal Adi Hidayat dan Imam al Zuhri : Kasus Sama, Endingnya Beda

Adi Hidayat kembali berulah. Setelah sebelumnya menyatakan doa iftitah tidak ada dalil hadisnya, kali ini …