Ilustrasi Terorisme 181227192937 774

Terorisme Bukan Soal Ketidakadilan, Tapi karena Salah Pengajian

Tragedi-tragedi kejahatan dan kekerasan selalu saja menghiasi sejarah umat manusia. Mungkin ini juga yang menjadi kekhawatiran para malaikat saat Allah mengumumkan akan menciptakan manusia di bumi. “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana”? (al Baqarah:30).

Salah satu bentuk kejahatan dan kekerasan itu yang saat ini dikembangkan oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu adalah terorisme. Banyak cara yang dipakai untuk melakukan kejahatan kemanusiaan ini. Salah satunya adalah agama. Dan yang paling disodok adalah agama Islam yang jelas-jelas agama yang membawa rahmat kasih sayang dan kedamaian bagi umat manusia.

Kenapa Islam yang lebih dominan dipilih untuk menjadi tameng kejahatan dan kekerasan? Sebab pada dasarnya otak pelaku terorisme sangat anti dan membenci agama Islam. Kebencian tersebut diluapkan dengan mencoba menyusupi ajaran-ajaran Islam dengan memanfaatkan kelemahan umat Islam sendiri.

Satu di antara kelemahan yang dimanfaatkan tersebut adalah umat Islam yang awam digiring pada pola beragama seperti mie instan. Cepat saji dan praktis walaupun efek sampingnya sangat bahaya. Mereka digiring kepada komunitas mubaligh, ustad dan tokoh yang telah mereka siapkan yang direkrut dari para pembual atau tukang bohong. Mereka ini sebenarnya tidak pantas menjadi da’i, mubaligh, penceramah dan seterusnya, namun dipoles sedemikian rupa sehingga banyak yang berhasil ditipu.

Akhirnya, ada yang ikut pengajian mereka dan menjadi jama’ahnya. Mereka tidak sadar telah “salah pengajian”. Tak sadar kalau yang dianggap tokoh adalah para gadungan yang sengaja diciptakan untuk menipu. Tak pelak lagi, doktrin mulai dihembuskan, bahwa bom bunuh diri adalah jihad, semua yang tak sepaham harus dibungkam dan doktrin-doktrin radikal yang lain. Para jamaah dijadikan kerbau yang dicicil hidungnya sehingga mudah diperintah untuk menyeruduk dan membunuh orang lain.

Baca Juga:  Peduli Muslim Uighur: Pentingnya Tabayyun dan Tatsbbut Demi Solidaritas Islam

Disebut gadungan, karena para da’i, ustad dan tokoh yang mereka tampilkan sebenarnya adalah para juhala’ (sangat bodoh) yang tidak bisa bahasa Arab, tidak kenal kitab-kitab fikih, ushul fikih, tafsir, nahwu, sharaf dan lain-lain. Tidak bisa membedakan mana yang Qath’i dan yang dhanni, mana yang Ikhtilaf dan yang ijma’.

Dan dalam sejarah Islam para gadungan ini disebut sebagai mufti-mufti ruwaibidhah, yaitu mufti-mufti palsu yang menyeret ke neraka. Mereka sejatinya penjahat agama yang harus dijauhi dan dihindari.

Dalam kitab Adabu al Mufti wa al Mustafti ditulis, Rabiah berkata, “Sungguh sebagian orang yang berfatwa di sini lebih pantas dipenjara dari pada pencuri”.

Oleh karenanya, umat Islam terutama dari kalangan awam mestinya jeli supaya tidak “salah ikut pengajian”. Jangan mengaji kepada para gadungan karena akan tersesat dan bahkan menyesatkan kepada orang lain. Benar apa yang dikatakan oleh Rabi’ah di atas. Mereka layak dipenjara supaya rantai pembodohan massal terputus dan umat Islam terbebas dari jebakan mereka.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Sada'i

Avatar