Tiga Dimensi Amanah dalam Kehidupan

0
818
amanah

Amanah adalah sikap jujur dan dapat di percaya. Orang amanah akan selalu dipercaya untuk memegang amanat. Amanah lebih tinggi dari sekedar jujur. Karena orang yang amanah pasti jujur dan bertanggungjawab dalam memegang kepercayaan.

Dahulunya ketika Rasulullah sebelum diangkat menjadi rasul, beliau sudah dijuluki “alamin” yang artinya dapat dipercaya atau orang yang amanah. Itu sebabnya sifat jujur dan tanggungjawab adalah elemen penting agar seseorang disebut sebagai amanah.

Menjadikan Rasullullah sebagai contoh teladan dalam kepemimpinan maupun dalam aspek kehidupan dan kesehariannya adalah sebuah keniscayaan. Amanah adalah akhlak dari para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang-orang yang paling baik dalam menjaga amanah, paling terpercaya dan paling jujur.

Sikap amanah merupakan salah satu empat sifat Nabi yaitu Siddiq, Amanah, Tablig dan Fathanah. Dalam firman allah pada surat an-Nisa’ ayat 58 berbunyi:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Dalam surat di atas menunjukkah bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan umatnya, untuk menyampaikan segala amanat Allah atau amanat orang lain kepada yang berhak secara adil. Tidak melebih-lebihkan dan tidak juga mengurangi apapun yang telah di amanatkan padanya.

Karena itulah, amanat mempunyai 3 dimensi. Pertama, amanat kepada Allah. Amanah terhadap Allah merupakan sikap ketaatan kita atas segala perintah dan menjauhi segala apa yang telah dilarang oleh-Nya. Manusia adalah makluk yang diciptakan oleh Allah, pencipta segala yang ada di dunia ini.

Baca Juga:  Media Sosial dan Lahirnya Generasi Gemar Umpatan dan Kata-kata Kasar

Itulah sebabnya manusia memiliki amanah terhadap Allah untuk beribadah hanya kepada-Nya. Manusia harus amanah terhadap semua yang sudah Allah anugerahkan kepada manusia. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah. Karena itulah, amanat sebagai khalifah dibebankan kepada manusia karena manusia dipercaya untuk mengembannya.

Kedua, amanat kepada sesama manusia. Dalam ranah sosial, sifat amanah harus menjadi ciri khas yang melekat bagi seorang muslim. Jabatan yang tinggi merupakan bentuk amanah yang harus dijaga. Karena setiap individu terlebih lagi seorang pemimpin untuk level manapun pasti Allah akan meminta pertanggung jawaban.

Ketiga, amanat kepada diri sendiri. Setiap individu memikul amanah. Karena kata Nabi: kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Artinya, amanah bukan sekedar untuk pemegang jabatan dan kekeuasaan, tetapi setiap diri kita adalah memegang amanat. Kita semua merupakan pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga. Sehingga, nanti kita pasti akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban tentang kepempinan kita.

Dengan demikian sikap amanah memiliki dimensi yang luas yang hanya bisa dipikul oleh orang yang beriman. Amanah adalah bagian dari ekspresi keimanan. Orang yang beriman pasti memiliki sifat amanah. Salah satu ciri orang beriman adalah orang yang teguh memegang amanah ketika dipercaya. Keimanan seseorang harus dipraktekkan dalam bentuk amanah.


 لا دِينَ لِمَنْ لا عَهْدَ لَهُ وَلا إِيمَانَ لِمَنْ لا أَمَانَةَ لَهُ

Artinya : “ Tidak ada agama bagi yang tidak menepati janji, dan tidak ada iman bagi yang tidak mempunyai amanat “ ( HR Ahmad, hadist shahih ).

Tinggalkan Balasan