tips memlih guru agama 1
tips memlih guru agama 1

Tips Memilih Guru Menurut Islam

Beberapa hari terakhir publik dibikin tercengang oleh ulah pimpinan Pesantren Tahfidz Madani, Herry Wirawan, yang memperkosa 12 santriwati. Fakta ini bisa saja hanya satu kasus dari sekian kasus yang sama. Artinya, saat ini banyak orang-orang yang memiliki kepentingan duniawi memanfaatkan lembaga-lembaga keagamaan untuk tujuan pribadi. Pesantren dianggap media paling produktif untuk kepentingan tersebut. Tentu saja “Kamuflase Pesantren” yang sekarang lagi marak patut diwaspadai.

Sejatinya, Islam sendiri telah mengingatkan hal ini kepada umatnya agar selektif ketika mencari guru agama. Sebab, guru agama bukan mereka yang cuma memiliki kecakapan pengetahuan tapi juga mampu membimbing secara ruhani, mu’allim (pengajar) sekaligus murabbi (pembimbing ruhani).

Pertama, memilih guru agama yang sanad keilmuannya jelas. Sanad keilmuan adalah mata rantai transformasi keilmuan yang bersambung sampai kepada Rasulullah. Pentingnya sanad ini disampaikan oleh Abdullah bin Mubarak dalam muqaddimah Shahih Muslim. Menurutnya, sanad adalah bagian dari agama. Sanad merupakan syarat mutlak. Tanpa sanad seseorang bisa sesukanya mengucapkan sesuatu sesuai keinginan. Dalam kitab yang sama Muhammad bin Sirin mempertegas bahwa ilmu agama sejatinya agama itu sendiri. Karena itu harus selektif dalam mencari guru agama.

Kedua, harus mencari seorang guru agama yang memiliki kecakapan dan benar-benar pakar. Hal ini untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam memahami ajaran-ajaran agama, lebih-lebih yang terkait dengan hukum Islam. Imam Syathibi dalam karya monumentalnya dalam bidang Ushul Fikih menyampaikan, untuk memperoleh ilmu yang sempurna dan menyeluruh kita harus belajar kepada pakarnya.

Ketiga, belajar sungguh-sungguh, sabar dan dalam waktu yang lama. Sabar dan rentang waktu yang lama menjadi syarat wajib bagi seorang murid. Seperti disampaikan oleh Syaikh al Zarnuji dalam Ta’lim al Muta’allim. Hal senada juga disampaikan oleh Abu Nu’aim al Asbahani dalam kitabnya Hilyatu al Aulia. Memang demikian, ilmu agama tidak bisa dikuasai dalam tempo yang singkat. Harus melalui proses panjang dan tidak bisa instan.

Baca Juga:  Tiga Sikap Orang Tua terhadap Anak yang Dibenci Rasulullah

Role model guru agama seperti ini kalau di Indonesia bisa kita temukan di pesantren-pesantren tradisional. Ciri pesantren seperti ini mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama. Pengasuh atau kiainya memiliki sanad keilmuan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan dan pakar dalam bidang ilmu agama. Dipastikan, di pesantren tradisional tersebut tidak pernah terdengar terjadi kasus pelecehan seksual yang menimpa santrinya.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …