tips memilih ustadz
tips memilih ustadz

Imam As-Syatibi Berikan 2 Tips Memilih Ustadz yang Kredibel

Di zaman modern ini, nampaknya kita semua menikmati segala fasilitas teknologi terbaru, kemudahan mendapatkan informasi dan efisien dalam berkomunikasi. Hal-hal tersebut tentunya sebagai bentuk dari sebuah kemajuan, maka kita perlu syukuri. Namun di sisi lain, fenomena ini tanpa kita sadari ternyata juga membahayakan. Khususnya yang berkaitan dengan bergelimangnya informasi dan pengetahuan yang entah dari mana saja asalnya.

Asal muasal sebuah informasi, pengetahuan atau ilmu sekalipun harus diketahui. Apalagi yang berkaitan dengan agama, dalam hal ini Islam. Sebagai orang awam, kita wajib tahu dari mana tulisan atau ucapan di social media itu berasal. Karena hal ini berkaitan dengan kredibilitas sosok dan keilmuan seseorang yang mengeluarkan statement tersebut.

Bagaimanapun fenomena ngaji online lewat pelbagai platform media sosial dewasa ini telah menjadi tren di kalangan milenial. Baik ngajinya dalam sistem bandongan (guru membaca dan memaknai sebuah kitab dan audiennya mengikuti dengan cara menulisnya di kitab) maupun tausiyah atau mauidzoh hasanah. Berbicara mengenai ngaji atau pengajian di zaman ini yang beredar di media sosial, maka sosok guru agama atau ustadz yang kita baca atau dengar pengajiannya harus diperhatikan.

Tak dipungkiri, bahwa di media social yang kita arungi setiap hari ini penuh sesak dengan pengajian yang diasuh oleh banyak ustadz yang tak tahu asal rimbanya. Kita tak tahu mereka berasal dari mana, sosok sehari-harinya bagaimana dan sebelumnya mereka menimba ilmu dimana. Kita patut prihatin terhadap fenomena di atas. Karena beberapa dari mereka juga sempat membuat polemik dan cenderung menyesatkan umat

Anehnya mereka banyak digandrungi oleh kalangan milenial, terutama daerah perkotaan. Parahnya statement atau pernyataan yang mereka keluarkan tidak berdasarkan ilmu agama, melainkan hawa nafsunya. Padahal dalam Islam, seorang ustadz tak boleh menyampaikan materi agama secara sembarangan. Harus ada semacam rel atau jalur yang menghubungkan pernyataan seorang ustadz dengan gurunya  dari gurunya sampai kepada nabi SAW, yang dalam Islam disebut sanad.

Baca Juga:  Mengenali Tanda-tanda Lailatul Qadar

  قال عبد الله بن مبارك  الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Imam Abdullah bin Mubarak mengatakan ‘Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada kewajiban mengambil sanad, niscaya siapa pun akan mengucapkan apa pun yang ia inginkan (mengenai agama)’.” ( Muqaddimah Shahih Muslim, hal. 9).

Jalur atau Sanad keilmuan ialah salah nilai pokok dalam mencari ilmu agama. Oleh karena itu, agama memerintahkan kita untuk harus selektif dalam memilih seorang ustadz untuk diikuti pengajiannya, walaupun di media social sekalipun.

قَالَ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Imam Muhammad bin Sirin mengatakan ‘Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian’.” (Muqaddimah Shahih Muslim, hal. 10).

Tak hanya memilih jodoh yang harus selektif, memilih ustadz untuk di follow pun perlu selektif. Tujuannya jelas, agar ilmu yang kita dapatkan memang berasal dari al-Qur’an dan hadist yang pernah disampaikan oleh nabi SAW, para sahabat, tabi’in, ulama salaf dan seterusnya sampai kepada kita. Selain itu, tentu agar ilmu yang kita dapat menjadi manfaat dan barokah, minimal buat kita sendiri.

Tips Memilih Ustadz Kredibel

Oleh karenanya, penulis menukil pendapat dari Syekh Ibrahim bin Musa asy-Syathibi dalam kitab al-Muwafaqat mengenai tips memilih ustadz yang kredibel (terpercaya).

من أنفع طرق العلم الموصلة إلى غاية التحقق به أخذه عن أهله المتحققين به على الكمال والتمام  

“Di antara jalan untuk mencari ilmu yang dapat mengantarkan pelajar ke ujung kepakaran dalam bidangnya adalah mengambil ilmu dari ahli/pakar yang telah membidangi ilmu tersebut secara sempurna dan menyeluruh” (Ibrahim bin Musa asy-Syathibi, al-Muwafaqat 2007, Juz 1 hal. 139).

Baca Juga:  Benci Orangnya atau Perilakunya, Inilah Penjelasan Imam Ghazali Mengenai Benci karena Allah

Dalam statement asy-Syatibi di atas ada kalimat kunci “mengambil ilmu dari ahli/pakar yang telah membidangi ilmu tersebut secara sempurna dan menyeluruh”. Kemudian muncul pertanyaan susulan, bagaimana kita bisa melacak seorang itu betul-betul ahli/pakar sehingga ideal dijadikan ustadz yang kredibel keilmuannya. Beliau dalam kitab yang sama menjabarkan setidaknya dua tips mencari ustadz yang ahli atau kredibel.

1. Cari tahu apakah sang ustadz telah mengamalkan apa yang telah ia ucapkan

Apabila perilakunya sehari-hari tak sesuai sebagaimana ucapannya maka ia bukan ahli/pakar yang kredibel dan tak pantas untuk diikuiti dan diambil ilmunya. Cara terbaik dalam mengaplikasikan tips ini yakni dengan belajar langsung secara tatap muka rutin kepada sang ustadz atau kiai tersebut. Jika terkendala jarak atau kesempatan, minimal pernah bertemu langsung dengannya, agar engkau tahu sedikit banyak perilakunya.

2. Cari tahu apakah sang ustadz pernah belajar kepada para pakar dalam bidang keilmuan tersebut.

Jika sang ustadz diketahui dulunya belajar dengan para pakar, maka ia telah sah dikatakan kredibel. Karena ia mengambil ilmu dari guru-gurunya serta ia telah lama hidup bersama (mulazamah) dengan para guru-gurunya. Sehingga ia pantas mendapatkan pujian dan gelar sebagaimana guru-gurunya.

Tradisi ulama sejak dulu

Menurut Imam asy-Syatibi, begitulah tradisi ulama terdahulu. Pada mulanya, para sahabat Nabi hidup bersama (mulazamah) dengan Nabi, mereka mengambil manfaat dari segenap perkataan dan perbuatan Nabi. Dan tradisi para sahabat Nabi diturunkan kepada generasi selanjutnya. Kemudian, para tabi’in juga meneladani tradisi para sahabat bersama Nabi. Sehingga, para tabi’in mampu sampai ke dalam derajat kesempurnaan dalam ilmu syariat.

Oleh karenanya, cukuplah menjadi bukti bahwa tak ada seseorang yang alim lagi masyhur bermanfaat di antara masyarakat, kecuali mereka memiliki panutan yang masyhur diikuti di zamannya. Dan sedikit sekali ditemukan golongan atau seseorang yang  melenceng dari sunnah Nabi, kecuali mereka telah menyimpang dari sifat-sifat (guru) yang telah dijelaskan di atas. (Ibrahim bin Musa asy-Syathibi, al-Muwafaqat, 2007, juz 1 hal. 139).

Baca Juga:  Inilah 4 Golongan yang Dirindukan Surga

Dari penjelasan Imam asy-Syathibi, ada hal yang telah menjadi sebuah tradisi sejak zaman dahulu yang relevan hingga sekarang, yaitu seorang yang alim pasti tercetak dari guru-guru yang alim dan kompeten di bidangnya. Sebagaimana contoh Gus Baha’ yang terkenal alim yang dididik oleh seorang guru agung bernama KH. Maimoen Zubair dan kealiman KH. Said Aqil Siradj juga sebab ditempa oleh KH. Mahrus Aly dan KH. Ali Maksum.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

sultan mahmud II

Rahasia Kegemilangan Sultan Muhammad II Dalam Memimpin Penaklukan Konstantinopel

Penaklukan Konstantinopel ialah salah satu kegemilangan terbesar pasukan Islam dalam menaklukan lawan-lawan besarnya. Konfrontasi di …

hari tasyrik

4 Pendapat Mengenai Kapan Waktu Takbiran Idul Adha

Umat Islam di seluruh dunia sebentar lagi akan merayakan hari raya Idhul Adha. Di Indonesia, …