nyekar kuburan
nyekar kuburan

Tradisi Nyekar Kuburan, Adakah Jejak Sunnahnya?

Satu persatu orang orang shalih dipanggil oleh Allah. Kabar terakhir dan sekaligus berita duka bagi umat Islam, adalah wafatnya KH. Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Seorang Kiai kharismatik yang memiliki pertalian nasab kepada Syaikh Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Bikri, Penulis KitabI’anath al-Thalibin (salah satu kitab legendaris di kalangan dunia Pesantren).

‘Nyekar’ dalam budaya Nusantara adalah kegiatan wajib keluarga (family activities) yang nyaris dilakukan oleh setiap umat. Nyekar adalah kegiatan menabur bunga beraroma di atas kuburan orang yang diziarahinya. Lantas, Pernahkah Rasulullah melakukan ‘Nyekar’?

Tak terlalu sulit untuk menemukan jejak sunnah Rasul soal ‘nyekar’. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama. pernah berziarah kepada dua kuburan muslim yang sebelumnya tidak dikenal oleh beliau saw.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Thabrani, bahwasannya suatu saat Nabi SAW. melewati dua kuburan muslim, lantas beliau SAW. bersabda: Sesungguhnya kedua orang ini sedang disiksa, keduanya disiksa bukanlah karena suatu masalah yang besar. Kemudian beliau saw. mengambil pelepah kurma yang masih segar dan memotongnya, untuk dibawa saat menziarahi kedua kuburan tersebut, lantas beliau saw. menancapkan potongan pelepah kurma itu di atas dua kuburan tersebut pada bagian kepala masing-masing, seraya bersabda : Semoga Allah meringankan siksa dari kedua mayyit ini selagi pelepah korma ini masih segar. HR: Thabrani: 18545‏.

Dari hadits ini, lalu ‘Nyekar’ begitu digemari bahkan menjadi kegiatan wajib keluarga (family activities), sanak, handai tolan, orang yang dikenal maupun tidak.

Tentunya kondisi alam di Makkah dan Madinah saat Nabi saw. masih hidup, sangat berbeda dengan situasi di Indonesia. Nabi ‘nyekar’ dengan menggunakan pelepah kurma, karena pohon kurma sangat mudah didapatkan di sana, dan sebaliknya sangat sulit menemui jenis pepohonan yang berbunga. Sedangkan di Indonesia, pohon kurma sangatlah sulit dijumpai dan sangat gampang menemukan pepohonan yang berbunga.

Baca Juga:  Jangan Lalaikan Kewajibanmu karena Shalat Malammu

Berdalil bahwa yang terpenting dalam melakukan nyekar saat berziarah kubur, bukanlah faktor pelepah kurmanya, yang kebetulan sangat sulit pula ditemui di Indonesia, namun segala macam jenis pohon, termasuk juga jenis bunga dan dedaunan, selagi masih segar, maka dapat memberi dampak positif bagi mayyit yang berada di alam kubur, yaitu dapat meringankan siksa kubur sesuai sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama pada hadits di atas.

Karena Indonesia adalah negeri yang sangat subur, dan sangat mudah bagi masyarakat untuk menanam pepohonan di mana saja berada, Maka masyarakat Indonesia-pun menjadi kreatif, yaitu disamping mereka melakukan nyekar dengan menggunakan berbagai jenis bunga dan dedaunan yang beraroma harum, mereka juga menanam berbagai jenis pepohonan berbunga di tanah kuburan, tujuan mereka hanya satu yaitu mengamalkan hadits Nabi SAW., dan mengharapkan kelanggengan peringanan siksa bagi sanak keluarga dan handai tolan yang telah terdahulu menghuni tanah pekuburan. Karena dengan menanam pohon ini, maka kualitas kesegarannya pepohonan bisa bertahan relatif sangat lama.

Izzuddin Ibn Abdis sAlam, al-Qarafi dan Ibn al-Qayyim berkata: bahwa hukum ataupun fatwa, keduanya bisa berubah sesuai dengan berubahnya zaman, kebiasan, ataupun adat. Inilah yang diistilahkan dalam dunia akademik dengan istilah kontekstualisasi teks. Ushul al-Fiqh, ‘Iyadh Ibn Nami al-Silmiy, 1/322

Memang Nabi SAW. tidak mencontohkan secara langsung penanaman pohon di tanah kuburan atau tabur bunga kamboja, mawar dan melati. Namun bisa kita pahami spirit dari pelepah kurma yang masih segar. Seakan tidak memberikan ruang sempit bagi  umat Islam untuk melakukan hal yang sama dengan media yang berbeda. Seperti aneka bunga yang masih segar dan masih tercium aroma yang masih segar pula.

Baca Juga:  Tiga Hal yang Harus Diperbanyak agar Puasamu Tidak Sia-sia!

‘Nyekar’ yang dilakukan umat muslim di Indonesia, mereka bertujuan hanya satu, yaitu mengikuti jejak nyekarnya Nabi Muhammad SAW., namun mereka menginginkan agar keringanan siksa bagi penghuni kuburan itu bisa lebih langgeng, maka masyarakt-apun menanam pepohonaan di tanah pekuburan, hal ini dikarenakan sangat memungkinkan dilakukan di negeri yang bertanah subur seperti Indonesia ini.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

shaf shalat

Viral Imam Serukan Wajib Rapatkan Shaf Shalat, Bagaimana Hukum Sebenarnya?

Semenjak Covid-19 dinyatakan menjadi wabah layaknya tha’un, ada pemandangan yang tak sewajarnya terlihat di beberapa …

waktu kurban

Hari Tasyrik, Perbedaan Ulama tentang Waktu Kurban

Idul Adha memiliki dua sebutan popular, Idul Hajji (hari Raya Haji) dan Idul Qurban (Lebaran …