tahlilan dan selamatan
tahlilan dan selamatan

Masyarakat Melayu dan Akar Tradisi Tahlilan di Nusantara

Sejarah tradisi Tahlilan pada masyarakat Melayu ternyata telah mengakar sejak lama. Ulama-ulama Jawi, penyebutan untuk Nusantara, keturunan Melayu telah mengenalkan dzikir yang pahalanya dihadiahkan untuk leluhur yang telah meninggal dunia ini sejak berabad-abad yang lampau.

Salah satunya adalah ulama berdarah Melayu, Syaikh Ismail Minangkabau dalam kitabnya Kifayatu al Ghulam fi Bayani Arkan al Islam wa Syuruthihi. Meskipun tidak menyebut secara eksplisit dengan tahlil, namun urutan-urutan bacaan dari awal hingga selesai adalah sama persis seperti bacaan tahlil yang dikenal saat ini.

Di kitab ini, bacaan tahlil ditulis pada halaman 42-43. Syaikh Ismail Minangkabau menulisnya dengan istilah “khatam Qur’an”. Dengan aksara Jawi atau Arab Pegon berbahasa Melayu.

Beliau menulis, “Ini suatu pasal pada menyatakan khatam Qur’an dan menyatakan tertib mula-mula maka hendaklah dibaca “Qul huwallahu Ahad” hingga akhirnya tiga kali”. Begitu seterusnya sampai pada ahir bacaan tahlil yang kita kenal saat ini. Persis sama tanpa beda.

Syaikh Ismail Minangkabau hidup pada penghujung abad 18 dan permulaan abad 19. Dengan demikian, pada masa itu, tradisi tahlilan telah dikenal oleh masyarakat Melayu. Hal ini tetap berlangsung hingga saat ini meskipun sebagian kecil masyarakat Melayu mulai melupakannya.

Apabila membaca kilas sejarah ulama-ulama Nusantara dalam jaringan ulama dunia, terutama hubungan mereka dengan ulama Haramain Makkah dan Madinah, dipastikan tradisi tahlilan ini telah diperkenalkan ke masyarakat Nusantara sejak abad 17 Masehi.

Pada abad 17 Masehi di Nusantara ada beberapa ulama yang sebab rihlah ilmiahnya ke Haramain membawa dan memperkenalkan ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Diantaranya, Syaikh Nuruddin al Raniri, Syaikh Abdurrauf al Sinkili, Syaikh Yusuf al Maqassari, dan yang lain.

Baca Juga:  Pilihan Jihad untuk Perempuan dan Orang Tua

Pada abad 18 Masehi ada Syaikh Abdussamad Palembang, Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari, Syaikh Muhammad Nafis al Banjari, Syaikh Daud bin Abdullah al Fathani, dan lain-lain.

Lalu pada abad 19 Masehi tercatat ulama-ulama sebagai generasi penerus. Diantaranya, Syaikh Ahmad Rifa’i Kalisalak, Syaikh Ahmad Khatib al Sambasi, Syaikh Nawawi al Bantani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Shaleh Darat, Syaikh Mahfudz Tarmasi, dan termasuk Syaikh Ismail Minangkabau sendiri.

Ulama-ulama Nusantara dari abad ke abad tersebut terikat dalam satu tali sambung. Satu dengan yang lain memiliki hubungan yang istimewa. Yaitu hubungan guru-murid, murid-murid dari guru yang sama, dan persahabatan sesama ulama.

Indikasi bahwa Syaikh Ismail Minangkabau adalah ulama Aswaja dan oleh karena itu beliau menulis bacaan tahlil, praktek amaliah kaum Ahlussunah wal Jama’ah, adalah satu karya beliau yang berjudul Syarah al Muqaddimah al Kubra, kitab setebal 180 halaman yang membahas dan menjelaskan secara panjang lebar aqidah Ahlussunah wal Jama’ah Asy’ariyah dan al Maturidiyah.

Bukti penguat yang lain bahwa beliau benar-benar ulama Ahlussunah wal Jama’ah adalah dalam kitab Kifayatu al Ghulam beliau menyebut referensi yang dibuat pedoman adalah kitab al Hawi karya Imam al Razi dan kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Hakim, M.H.I

Avatar of Abdul Hakim, M.H.I
Dosen IAIN Pontianak