athaillah al sakandari
athaillah al sakandari

Tuntutan Taubat ala Syekh Athaillah al-Sakandari

Nabi membaca istighfar sebanyak tujuh puluh kali sehari semalam. Disebut sendiri oleh beliau dalam rekaman riwayat-riwayat hadis. Kita pasti paham bahwa jumlah tersebut adalah jumlah minimal istighfar yang beliau ucapkan setiap harinya.

Kenapa Nabi yang ma’shum masih  taubat? Beliau hendak mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya taubat. Supaya setiap hari meminta ampun kepada Allah.

Bagaimana cara taubat yang benar?

Taubat pada hakikatnya meminta penghapusan dosa karena melanggar perintah Allah. Untuk diterima, tidak segampang yang dibayangkan sebab yang dilanggar adalah perintah yang Maha Kuasa. Apalagi kalau perbuatan dosa tersebut disengaja. Oleh karena itu para ulama terutama ulama sufi banyak menulis dan mencontohkan jalan taubat.

Salah satunya ditulis oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin ‘Athaillah al Sakandari dalam kitabnya Taju al ‘Arus al Hawi li Tahdib al Nufus. Tulisnya, semua hamba Allah mestinya selalu berupaya untuk bertaubat setiap waktu. Karena Allah menganjurkan hal tersebut (QS. al Nur: 31, al Baqarah: 222). Demikian juga Nabi Muhammad dalam hadis riwayat Imam Turmudzi, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah yang menyatakan bahwa Nabi membaca istighfar sebanyak tujuh puluh kali sehari semalam.

Seseorang yang ingin bertaubat harus selalu mengingat-ingat (tafakkur) sepanjang umurnya. Merenungi apa yang telah diperbuat disiang hari disepanjang umurnya tersebut. Jika disiang harinya melakukan ketaatan maka syukurilah. Namun jika melakukan kemaksiatan hendaklah mengingatkan diri sendiri dengan cara menjelekkan atau mengejek dirinya sendiri bahwa hal itu adalah dilarang, lalu secepatnya minta ampun kepada Allah. Karena tidak ada majlis yang lebih disenangi oleh Allah dan paling bermanfaat untuk manusia kecuali majlis yang berisi menjelekkan diri sendiri. Dengan catatan menghardik diri sendiri sendiri tersebut dilakukan dengan serius dan dengan sikap yang betul-betul hina.

Baca Juga:  Cara Berpakaian Nabi Ketika Menyambut Tamu Agung

Ibnu Athaillah mengutip perkataan salah seorang wali abdal Syaikh Makinuddin al Asmar yang berkata bahwa dirinya selalu berpikir tentang apa yang telah diperbuatnya setiap hari. Jika dirinya mengucapkan kebaikan meskipun sedikit maka disyukuri, sebaliknya bila menemukan dirinya mengucapkan hal yang buruk ia segera bertaubat. Muhasabah (introspeksi) seperti itu dilakukan tiap sore. Dan ini yang mengantarkan dirinya mencapai derajat wali abdal.

Dan disaat melakukan amal semuanya harus karena dan untuk Allah semata, serta sadar bahwa semua perbuatan akan dihisab dan dikoreksi oleh Allah.

Yang perlu diingat, dosa itu menutupi hati. Hati menjadi hitam pekat dan susah menerima hidayah sehingga banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap perintah Allah.

Menurut Ibnu ‘Athaillah, untuk menghindari dosa tidak ada jalan lain kecuali berusaha mengikuti Nabi, meniru seluruh perbuatan maupun ucapan. Ngikut Nabi ini ada dua model, yakni dhahir maupun batin. Yang dhahir seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Sedangkan upaya mengikuti secara batin harus memenuhi dua syarat, yakni penyatuan antara ucapan dan hati saat beribadah. Seperti Nabi ketika shalat selalu mampu menyatukan ucapan dan hati. Khusyu’ disaat beribadah tanpa terganggu oleh urusan yang lain.

Demikian cara bertaubat kepada Allah yang ditulis Ibnu ‘Athaillah al Sakandari. Cara taubat yang kemungkinan besar berangkat dari pengalaman spiritualnya sehingga ia mencapai derajat yang tinggi. Cara ini tidak mustahil, bisa dilakukan oleh siapapun. Dan, bila hal ini dilakukan akan mengangkat kita pada derajat yang tinggi sebagai kekasih Allah.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …