Hector Bellerin
Hector Bellerin

UEFA & FIFA Sanksi Rusia, Pemain Timnas Spanyol Protes Perang di Palestina Diabaikan

Jakarta – Saat ini perang terkecamuk antara Rusia dan Ukraina. Rusia sebagai negara penyerang terus membombardir Ukrainan dengan ratusan rudal dan berbagai senjata berat lainnya. Ratusan orang pun tewas, dan ribuan lainnya mengungsi.

Tindakan Rusia ini langsung mendapat reaksi internasional mulai dari sanksi politik, sanksi ekonomi, dan terakhir dari UEFA dan FIFA. Akibat invasi Rusia itu, UEFA mencoret klub-klub Negeri Beruang Merah dari kompetisi Eropa, sementara FIFA menangguhkan partisipasi Timnas Rusia di kompetisi internasional, termasuk Piala Dunia.

Namun sanksi ini dikritik keras pemain timnas Spanyol, Hector Bellerin. Ia mengkritik sanksi UEFA dan FIFA kepada Rusia atas konflik di Ukraina, tapi abai soal perang di Palestina. Baginya sikap itu rasis dan tak adil.

Konflik Ukraina dan Rusia juga berimbas ke ranah sepakbola. Sanksi-sanksi FIFA dan UEFA kepada Rusia terkait serangan militer ke Ukraina mendapat sorotan Hector Bellerin. Bintang Real Betis itu mengkritik sikap FIFA-UEFA yang tegas kepada Rusia, tapi acuh kepada konflik-konflik di belahan dunia lain.

Bellerin memberi contoh sikap negara-negara Eropa dan FIFA-UEFA yang abai kepada konflik Palestina dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Dia menilai semestinya hukuman yang sama juga dijatuhkan kepada pelaku serangan di sana.

“Tampaknya cukup sulit untuk melihat bahwa kami lebih tertarik pada perang ini daripada yang lain. Saya tidak tahu apakah itu karena mereka lebih mirip seperti kami atau karena konflik itu dapat mempengaruhi kami secara lebih langsung secara ekonomi atau sebagai pengungsi,” kata Bellerin, dilansir dari Marca.

“Perang di Palestina benar-benar dibungkam, tidak ada yang membicarakan itu. Yaman, Irak … Sekarang Rusia tidak bermain di Piala Dunia, ini adalah hal-hal yang telah dilakukan negara-negara lain selama bertahun-tahun,” sambung pemain yang ini memperkuat Real Betis ini.

Baca Juga:  MUI Kecam Rentetan Islamofobia di Eropa, Dari Pembakaran Alquran Sampai Kartun Nabi Muhammad

“Ini terlihat rasis dan sangat sedikit empati karena nyawa hilang dalam banyak konflik. Kami hanya mementingkan mereka yang dekat dengan kami.”

“Kami telah berbalik mata yang buta dan tampaknya sulit bagi saya bahwa hanya hal-hal itu yang dianggap penting dan ada narasi seperti ini,” tutur mantan bek sayap Arsenal ini..

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

muslim houston amerika serikat rayakan idul fitri dengan menggelar festival

Komunitas Muslim Houston bagikan Makan Gratis Tunawisma

JAKARTA – Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, rahmat yang bukan saja untuk umat Islam namun …

ilustrasi logo nahdlatul ulama

Konbes NU 2022 Lahirkan 19 Peraturan untuk Perkuat Landasan Jam’iyah Optimalisasi Khidmah

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) 2022 …