jangan biasakan berbohong
bohong

Untuk Tiga Hal Ini Kamu Boleh Berdusta

Di era mutakhir seperti sekarang ini harga kejujuran sangat mahal. Berbohong menjadi makanan sehari-hari manusia modern. Hal yang sama menimpa masyarakat Indonesia. Masyarakat Nusantara yang dulu dikenal karena keramahan dan kejujurannya, tergerus dalam sifat hipokrit atau munafik.

Stereotip mentalitas orang Indonesia dalam masa kini yang suka berbohong sedikit demi sedikit menghilangkan budaya dan prinsip tetua Nusantara yang jujur, ramah dan toleran. Realitas budaya bohong ini tidak hanya ada dalam ruang interaksi sesama manusia; misalnya bisnis atau perdagangan. Tapi, telah merambah jauh ke dalam wilayah agama. Kebohongan atas nama agama menjadi trend dan menjadi karakteristik keberagamaan sebagian masyarakat Indonesia.

Agama jelas tidak merestui “budaya berbohong”. Berbohong atau berdusta adalah akhlak tercela, dosa dan diancam siksa. Setiap kebohongan adalah kedustaan yang harus dipertanggungjawabkan.

Memang benar begitu, tapi ada tiga kebohongan yang diizinkan oleh agama. Selain tiga kondisi ini berdusta atau berbohong tidak ditolerir.

Dalam Musnad Ahmad ibnu Hanbal dimuat satu hadits “Dusta tidak boleh dilakukan kecuali dalam tiga hal; seorang suami yang bohong kepada istrinya, berdusta dalam peperangan karena perang adalah tipu daya, dan berbohong dalam rangka ishlah (mendamaikan) diantara manusia”.

Hadits ini mengatakan secara jelas bahwa tidak semua dusta itu tercela. Dalam kondisi tertentu berdusta menjadi keharusan. Namun perlu diperhatikan bahwa diperbolehkan untuk berdusta disini karena ada nilai maslahat bagi seseorang atau kelompok. Misalnya suami berdusta untuk suatu kebaikan dan dalam rangka menghibur istrinya. Berdusta disini tentunya bukan dalam ranah apa yang dilarang agama. Namun sebatas untuk menyenangkan. Seperti, suami berkata kepada istrinya dirinya tidak merasa lelah usai kerja, padahal dirinya sangat lelah, dst.

Sama dengan berdusta yang tidak selamanya tercela, jujur juga demikian. Tidak semua kejujuran itu baik. Seperti ditulis dalam kitab Bihar al Anwar dan Ithafu al Sadati al Muttaqin. Contohnya, berita yang bertujuan untuk mengadu domba tidak boleh diberitakan atau disampaikan secara jujur, informasi yang tidak disenangi oleh keluarga tidak boleh disampaikan secara jujur, dst.

Tapi ingat, selain yang telah disebutkan, kebohongan tidak boleh dilakukan karena merupakan ciri orang munafik. Kebohongan berarti kedustaan dan kedustaan akan ditimpakan siksaan.

Dalam Fathul Bari Nabi mengingatkan “Sesungguhnya jujur mengantarkan kepada kebaikan, kebaikan akan mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seorang laki-laki harus jujur sehingga ia menjadi seorang Siddiq”.

Allah juga mengingatkan “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama-sama orang yang jujur “. (Al Taubah: 199).

Demikian, tiga dusta yang ditolerir oleh agama. Selain tiga kondisi tersebut tidak boleh berdusta. Karenanya, budaya berbohong hendaklah segera dihilangkan. Mari kita kembalikan “budaya jujur” leluhur bangsa ini. Martabat seseorang dan martabat bangsa ini ditentukan oleh perilaku jujur masyarakatnya. Sifat hipokrit atau munafik hanya akan menjadikan bangsa kita menjadi bangsa yang tidak bermartabat.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

ilmu agama di internet

Viral Anak Membunuh karena Media Sosial, Inilah 4 Aturan Fikih Mendidik Kesalehan Bermedia Sosial Anak

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang siswa sekolah menengah atas terhadap seorang bocah berumur …

Abdullah bin Abbas

Kisah Ibnu Abbas Menginsyafkan 2000 Muslim Radikal

Kisah ini diriwayatkan oleh beberapa orang perawi hadits seperti Thabrani, Baihaqi, Hakim dan Nasa’i. Satu …

escortescort