Covid 19
Covid 19

Virus Namimah Merusak Ukhuwah di Tengah Wabah

Seluruh dunia menghadapi wabah yang sama. Sudah hampir dua tahun rasanya wabah covid-19 ini menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tentu merasa lelah untuk membiasakan diri dalam kondisi pandemi. Perasaan dibatasi memang muncul karena kita tidak sedang berada di kondisi normal.

Masyarakat dunia dan pemerintah semua menguras pikiran untuk mencegah dan meminimalisir dampak wabah. Semua berikhtiyar untuk menjaga jiwa sebagaimana perintah agama untuk menjaga jiwa manusia.

Namun, masih ada pula yang mencoba membenturkan masyarakat dengan narasi namimah berupa provokasi dan adu domba. Kebijakan pemerintah dan ormas dianggap hanya membatasi dan melarang beribadah. Lebih parahnya, ada anggap wabah ini sekedar konspirasi untuk melarang umat beribadah.

Ketika masyarakat menghadapi gelombang kedua dengan keterpaparan yang semakin meningkat mestinya semakin mempersatukan semua kalangan untuk berikhtiyar bersama. Momentum wabah harus semakin menguatkan ukhuwah, bukan semakin memperlebar jarak dengan rajin namimah.   

Sungguh tidak punya nurani ketika banyak tenaga kesehatan yang gugur dan lama berjuang memberikan kesehatan dan kesembuhan lalu muncul narasi covid-19 adalah konspirasi. Pertanyaan mulai muncul kenapa yang wafat yang hanya di rumah sakit? Kenapa yang isolasi mandiri tidak ada yang meninggal? Kenapa rumah ibadah ditutup? Kenapa ibadah dilarang?

Pertanyaannya kenapa kita tidak punya empati kepada orang yang mati sekalipun?

Saya menduga mereka yang selalu menyebar namimah di tengah wabah ini memang ingin membuat situasi lebih kacau di tengah kepanikan masyarakat. Tujuan mereka cuma satu bahwa covid-19 harus menjelma menjadi krisis sosial dan anarki. Ketika penambahan semakin tinggi masyarakat menjadi panik, di situlah para anarki bermain.

Saya ingin mengatakan sesungguhnya virus yang lebih ganas dari virus corona ini adalah virus namimah dengan tebar provokasi, adu domba dan kebencian. Namimah bisa merusak lingkungan sosial dan hubungan harmonis antar sesama.

Baca Juga:  Bagaimana Cara Mencintai Al-Qur’an?

Maka, sungguh wajar ketika Rasulullah bersabda : “Maukah kalian aku beritahu tentang orang-orang yang jahat?. Mereka menjawab : baik Nabi. Beliau mengatakan : “Ialah orang-orang yang kesana kemari menyebarkan fitnah, orang-orang yang merusak hubungan persahabatan dan orang-orang yang mencari-cari keburukan orang lain yang tak bersalah”.

Perilaku namimah bukan hanya jahat secara sosial, tetapi juga perilaku dosa dalam agama. Bahkan Nabi memasukkan perilaku namimah seagai penghalang untuk masuk surga. Rasulullah bersabda, “Pelaku adu domba tidak akan masuk surga” (HR Muslim no. 303).

Karena itulah, saudaraku para tenaga kesehatan, aparat yang menjaga ketaatan dan kedisiplinan dan masyarakat yang menaati kebijakan untuk menekan laju wabah ini adalah para mujahid yang sesungguhnya. Jangan pernah terprovokasi oleh narasi yang hanya membenturkan ukhuwah kita dalam melawan bersama wabah ini.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

Haji

Tidak Bisa Haji dapat Pahala Haji : Ulama Besar Pun Kaget dengan Amalan Tukang Sol Sepatu Ini

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi yang merupakan ulama terkenal di Makkah pada …

tidak mengambil keringanan

Peringatan Rasulullah bagi yang Tidak Mengambil Keringanan: Mereka Merasa Lebih Dekat dengan Allah?

Sesungguhnya dalam Islam sudah ada keringanan yang juga disyariatkan ketika kondisi yang susah. Namun, terkadang …