berbuka puasa
berbuka puasa

4 Jalan Meraih Keberkahan Berbuka Puasa

Bulan Ramadan memang memiliki magnet tersendiri di hati kaum muslimin. Bulan ini begitu sangat istimewa tidak hanya soal obral pahala dan diskon dosa yang dijanjikan. Bagi sebagian masyarakat perantau yang mengais rejeki di negeri orang, Ramadan menjadi bulan yang dirindukan untuk segera istirahat pulang ke kampung halaman berkumpul bersama keluarga dan sanak famili. Beristirahat dari hiruk-pikuk kehidupan kota, dari kepenatan aktifitas monoton yang menyita tenaga dan pikiran, untuk sejenak bercengkerama dan menikmati keindahan alam kelahiran. Alam yang membesarkan mereka beserta cerita masa kecil yang melingkupinya.

Oleh karena itu, kesempatan ini tidak disia-siakan begitu saja. Di bulan ini, seluruh perhatian dicurahkan untuk mendekatkan diri kepada Sang Ilahi. Seluruh waktu digunakan untuk memetik keberkahan Ramadan dalam berbagai cara dan laku. Setiap rangkaian aktifitas puasa selalu diisi dengan keutamaan-keutamaan yang menjadi anjuran agama, agar tercapai keberkahan yang maksimal. Berikut adalah keberkahan yang dapat diraih saat berbuka puasa:      

1. Segera Berbuka

Sunnah untuk segera berbuka ketika matahari benar-benar diyakini telah terbenam, sebab waktu puasa sudah berakhir. Dengan demikian, tidak ada manfaatnya menunda-nunda berbuka. Imam Syafi’i mengatakan dalam kitab Al-Umm, andaikata orang yang mengakhirkan buka meyakini keutamaan segera berbuka, maka hukumnya makruh mengakhirkan buka, karena menyalahi sunnah. Kanjeng Nabi bersabda:

لاَ يَزَال النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Artinya: “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan dalam berbuka” (Muwattha’ Imam Malik, No. 639).

Dalam riwayat Muslim yang lain diceritakan bahwa Abu ‘Athiyah dan Masruq berkunjung ke rumah ‘Aisyah kemudian mengadu: “Wahai ummul mu’minin! Ada dua sahabat Rasulullah, yang satu menyegerakan berbuka dan segera shalat, yang satunya mengakhirkan berbuka dan mengakhirkan shalat”. Lalu ‘Aisyah bertanya, “siapa di antara mereka berdua yang menyegerakan berbuka dan shalat? Kami menjawab, Ibnu Mas’ud. Lalu ‘Aisyah berkata, demikianlah yang dilakukan Rasulullah. (Syekh Badruddin al-‘Aini, ‘Umdah al-Qari, XI/67).

Baca Juga:  Kisah Pengkhianatan Ular Jelmaan Iblis Kepada Seorang Pemuda

2.  Berbuka Kurma

Saat tiba waktu berbuka, sunnah yang pertama kali dimakan adalah buah kurma, sebagaimana hadis Rasulullah:

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ فَاِنْ لَمْ يَجِدْ تمَرْاً فَالْمَاءُ فَإِنَّهُ طَهُوْرٌ

Artinya: “Apabila salah satu di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan kurma, sesungguhnya kurma itu berkah, namun jika tidak menjumpai kurma, maka berbukalah dengan air, sesungguhnya air itu suci lagi mensucikan”. (Sunan At-Tirmidzi, No. 660).

Hadis ini menunjukan anjuran berbuka dengan kurma, jika tidak menjumpai kurma, beralih pada air putih. Untuk jenis kurma diutamakan kurma basah (ruthab), jika tidak menjumpai kurma basah, beralih ke kurma kering (tamr), sebagaimana yang terdapat dalam hadis riwayat Anas. Kemudian pilihan terakhir adalah air putih. Berbuka dengan kurma sunnah dalam hitungan ganjil mulai dari angka tiga. Ada ulama yang berpendapat paling afdal 7 biji. (Abu al-‘Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri Tuhfah al-Ahwadzi, II/233., Muhammad Abdurrauf al-Munawi, Faidl al-Qadir, I/374).

3. Berdo’a segera setelah Berbuka

Ketika suapan makanan atau tegukan minuman pertama kali sudah masuk di tenggorokan saat berbuka, maka sunnah membaca do’a yang sudah ma’tsur yaitu:

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ، وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إنْ شَاءَ اللهُ تَعاَلى.

Artinya: “Ya Allah! Hanyalah untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rejeki-Mu aku berbuka, dahaga telah sirna dan urat-urat telah basah dan pahala telah ditetapkan jika Allah menghendaki”.

Ada kebiasaan dalam masyarakat yang perlu diluruskan tentang waktu membaca do’a ini, yakni di antara mereka terbiasa membaca do’a ini sebelum berbuka. Artinya, sebelum hidangan buka puasa masuk ke mulut. Seharusnya do’a ini dibaca setelah kita merasakan segar kembali dengan seteguk air atau sesuap makanan, pasca menahan dahaga sepanjang hari sebagai rasa syukur karena dapat menikmati rejeki yang diberikan Allah sebagaimana yang ditunjukkan makna dari do’a tersebut.

Baca Juga:  Virus Corona ini Menyehatkan Fitrah Kemanusiaan Kami

Di samping do’a ma’tsur di atas, juga sunnah berdo’a sesuka hati sesuai kebutuhan, karena waktu ini termasuk waktu yang istijabah sebagaimana hadis Rasulullah:

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

Artinya: “Sesungguhnya doa orang yang berpuasa pada saat berbuka tidak akan ditolak”. (Ibnu Majah, No. 1825).

4. Menyuguhkan Buka kepada Orang yang Berpuasa

Jika waktu berbuka telah tiba disunnahkan berbagi dengan sesama, yakni memberi makan orang lain yang berpuasa, walaupun hanya sebiji kurma atau seteguk air, lebih afdal jika apa yang kita berikan sampai mengenyangkan. Kesunnahan ini berdasarkan hadis Rasulullah: 

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئاً

Artinya: “Barang siapa menyuguhkan buka bagi orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang tersebut, tetapi tidak mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun”. (Sunan At-Turmudzi, No. 812).[]

Wallahu a’lam Bisshawab!

Refrensi utama:

Wahabh al-Zuhali, Al-Fiqh al-Islamiy, II/632-633.

Muhaamad Hasan Hitu, Fiqh al-Shiyam, 114-115.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

kaidah fikih

Kaidah Fikih: Yang Tersembunyi Menjadi Tampak

Tak ada yang mampu menyelam dan memahami hati dan pikiran seseorang. Pikiran, niat, bisikan hati …

harus berdoa

Mengapa Harus Berdoa, Jika Takdir Telah Ditetapkan?

Pada tahun 1998 jagat pertelevisian Indonesia dihebohkan dengan lirik sebuah lagu yang dilantunkan oleh aktris …