ciri waliyullah

4 Macam Ujian dan Cara yang Tepat Melaluinya Menurut Wali Qutub

Seorang hamba diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah. Tidak lebih dari itu. Makanya segala macam kondisi yang dialami seorang hamba, kewajiban beribadah kepada Allah akan terus melekat. Menurut peribahasa, kehidupan itu seperti roda yang berputar. Kadang manusia di posisi atas (nikmat), kadang pula manusia berada di posisi bawah (sengsara).

Bermacam-macam kondisi kehidupan ini harus dilalui dengan baik dan tepat. Sehingga apapun yang terjadi, tidak membuat kita lengah dan terlena melupakan ibadah kepada Allah SWT. Berbeda hal dengan pembagian masa atau kondisi dalam peribahasa umum di atas. Menurut Imam Syihabuddin Abu al-Abbas bin Ahmad bin Umar Al-Anshory Al-Mursi, seorang yang masyhur disebut sebagai wali qutub pada zamannya ini membagi 4 masa yang dialami manusia di dunia.

Selain membagi 4 masa yang dialami oleh seorang hamba, Al-Mursi juga memberikan tips atau cara yang tepat melaluinya dengan tetap beribadah kepada Allah. Abu al- Abbas al-Mursi sendiri disebut-sebut lahir pada tahun  616 H/1219 M di kota Marsiyyah, salah satu kota di Andalus, Spanyol, dan wafat pada tahun 686 H/1287 M. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Alexandria, Mesir.

Beliau merupakan murid utama dari Abu Hasan Al-Syadzili, pendiri thariqah Syadziliyah. Maka setelah Abu Hasan wafat, Imam thariqah Syadziliyah praktis dipegang olehnya. Walaupun sang wali qutub ini sampai wafatnya tak sempat meemiliki karya kitab, namun beliau sukses mendidikan 3 murid utamanya menjadi ulama’ yang masyhur dengan karyanya.

Ketiga murid utama beliau adalah Yaqut bin Abdullah al-Habasyi al-‘Arsyi (w. 732 H), Ahmad bin Muhammad bin Atha’illah As-Sakandari (w. 709 H) pengarang kitab al-Hikam yang monumental itu dan Abu Abdillah Al-Bushiry (w. 695 H) pengarang kitab qasidah burdah yang keindahan syairnya tak ada tandingannya.

Baca Juga:  Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Solusi Menyelamatkan Dunia dari Wabah Covid-19

Atas petunjuk dari Allah dan didikan dari Abu Hasan as-Syadzili, Abu al-Abbas al-Mursi ini mendapat maqam tinggi, yakni menjadi wali qutub. Beliau sudah sampai derajat makrifat dan ditambah mahabbahnya kepada Rasulullah SAW begitu besar.

Sampai-sampai diceritakan dalam kitab Lathaifu Al-Minan, beliau berkata: “Jika sesaat saja saya tidak bertemu dengan Rasulullah Saw, maka saya tidak akan bisa hidup di dunia ini.” Pernyataan ini mengindikasikan dengan jelas akan cintanya yang sangat besar kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

4 Masa yang dialami seorang hamba dan cara yang tepat melaluinya

‎قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْعَبَّاسِ الْمُرْسِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَوْقَاتُ الْعَبْدِ أَرْبَعَةٌ لاَ خَامِسَ لَهَا اَلنِّعْمَةُ وَالْبَلِيَّةُ وَالطَّاعَةُ وَالْمَعْصِيَةُ وَلِلّٰهِ تَعَالىٰ عَلَيْكَ فِي كُلِّ وَقْتٍ مِنْهَا سَهْمٌ مِنَ الْعُبُوْدِيَّةِ يَقْتَضِيْهِ الْحَقُّ مِنْكَ بِحُكْمِ الرُّبُوْبِيَّةِ٬٬٬

Berkata Sayyidi Abul ‘Abbas Al-mursiy Ra : Seorang hamba cuma mempunyai 4 masa dalam hidupnya, tidak lebih dari itu. (Yaitu) : Masa memperoleh nikmat dari Allah, Masa memperoleh musibah (diuji oleh Allah), Masa dapat ta’at kepada Allah dan Masa bermaksiat. Dan Allah SWT senantiasa menuntut ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) pada waktu-waktu tersebut :

Memperhatikan kewajiban beribadah yang terus melekat tanpa kenal waktu itu, Abu al-Abbas al-Mursiy kemudian memberikan tips atau cara beribadah seorang hamba kepada Allah di masing-masing masa. Hal ini beliau lakukan supaya seorang hamba tak salah orientasi dalam mendekatkan diri pada Allah. Berikut tips dan tata cara beribadah di bawah ini:

‎فَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الطَّاعَةُ فَسَبِيْلُهُ شُهُوْدُ الْمِنَّةِ مِنَ اللهِ عَلَيْهِ أَنْ هَدَاهُ لَهَا وَوَفَّقَهُ لِلْقِيَامِ بِهَا٬

1. Jikalau dalam kondisi melakukan ta’at kepada Allah, maka hendaknya dia melihat bahwasanya semua itu adalah pemberi dari Allah sehingga mendapat taufiq dapat beribadah kepada Allah

Baca Juga:  Selamat Tahun Baru 1442 H : Cara yang Utama Merayakan Tahun Baru Islam

‎وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الْمَعْصِيَةُ فَمُقْتَضَى الْحَقِّ مِنْهُ وُجُوْدُ الْاِسْتِغْفَارِ وَالنَّدَمِ٬

2. Jikalau dalam kondisi terpeleset melakukan maksiat, maka tuntutan Allah (yang perlu dilakukan) ialah supaya ia segera bertaubat, beristighfar dan menyesalinya.

‎وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ النِّعْمَةُ فَسَبِيْلُهُ الشُّكْرُ وَهُوَ فَرَحُ الْقَلْبِ بِاللهِ٬

3. Jikalau dalam kondisi mendapat nikmat, maka seyogyanya ia perlu bersyukur dengan mengungkapkan kebahagiaan atas apa yang Allah berikan padanya.

‎وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الْبَلِيَّةُ فَسَبِيْلُهِ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالصَّبْرِ.

4. Jikalau dalam kondisi tertimpa musibah (diuji oleh Allah), maka hendaknya dia rela dengan ketentuan Allah dan sabar menghadapinya.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar