ujian
ujian

Agar Tak Terpaku pada Nilai, Berikut Tuntunan Nabi dalam Belajar

Hari-hari ini, banyak dari kita sedang sibuk menemani anak anak belajar di rumah. Selain karena pandemi, minggu ini adalah minggu ujian akhir. Anak anak sibuk belajar membekali diri agar bisa menuntaskan proses evaluasi dengan hasil maksimal. Gairah belajar yang menggeliat membuat kita para orang tua mendaratkan harapan, ujian adalah klimaks dalam proses pembelajaran.

Berhasil melalui ujian dengan baik adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, setelah berhasil menuntaskan tugas demi tugas, lalu mendapatkan nilai yang bagus di raport, kita bisa menelisik lagi ke dalam diri kita. Sebagai orang tua, inikah tujuan akhir pendidikan sang anak yang kita harapkan? Setelah mendapat nilai yang memuaskan, selanjutnya apa? Benarkah ini harapan yang selama ini kita bangun, cukup dengan anak mendapatkan nilai bagus di sekolah?

Nilai bagus di sekolah pada satu sisi memiliki manfaat yakni untuk memotivasi siswa agar rajin belajar. Namun jika nilai bagus tersebut dijadikan sebagai tujuan belajar, maka pada titik ini kita perlu melakukan refleksi ke dalam diri. Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan Ibn Majjah dijelaskan:

“Janganlah kamu belajar dengan tujuan untuk membanggakan diri kepada para ulama, untuk menipu orang bodoh, dan untuk mencari kedudukan. Siapa yang melakukan hal itu, maka neraka tempatnya yang utama.” (HR. Ibn Hibban dan Ibn Majah)

Hadits tersebut memberikan rambu kepada kita bahwasannya tujuan belajar bukanlah untuk mencapai kebanggaan. Seseorang yang belajar agar mendapatkan penghargaan, kekaguman dan pengakuan dari orang lain belum mencapai pada tujuan akhir pendidikan. Seseorang belajar semestinya dengan niatan agar menjadi orang yang berilmu, menjadi sujana, yang dengan ilmu dan pemahamannya bisa menjadi manusia yang arif dan bijaksana.

Baca Juga:  Setan Pun Tertawa dengan Hadirnya Media Sosial Penuh Umpatan dan Makian

Menjadikan nilai sekolah sebagai tolok ukur kesuksesan menyempitkan cara pandang kita terhadap proses. Pada hakikatnya, belajar adalah laku hidup. Belajar tidak hanya saat di sekolah atau di institusi pendidikan formal. Belajar adalah suatu rangkaian sepanjang usia dimana kita sebagai manusia mendayagunakan potensi dasar dan mengolahnya untuk kebaikan bersama. Nilai rapor hanyalah satu dari berbagai sarana yang tersedia untuk mengetahui sejauh mana kita berproses. Dan, sebagai bagian dari suatu system, nilai rapor juga mengandung subyektifitas dan tidak bisa dijadikan pegangan yang valid.

Bisa jadi seorang anak memiliki nilai yang bagus dalam ranah kognitif, namun tidak tercerminkan kelebihan kognitif itu dalam etika dan tingkah laku keseharian. Oleh karena itu, dalam salah satu hadits nabi disebutkan bahwa ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang disertai dengan akhlak mulia yang mengantarkan pada keselamatan, bukan ilmu yang menggelincirkan ke dalam dosa – dosa hati.

“.. Yaa Allah, tambahkanlah ilmu untukku dan janganlah Engkau gelincirkan hatiku setelah Engkau memberiku petunjuk. Dan, anugerahkanlah kasih sayangMu kepadaku, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Hibban).

Mengetahui bahwa nilai rapor bukanlah tujuan utama belajar, maka sepatutnya kita sebagai orang tua mengarahkan anak anak agar sedari awal meniatkan belajar sebagai kebutuhan. Sebagaimana tubuh yang membutuhkan makan, demikian pula jiwa dan pikiran manusia yang membutuhkan belajar untuk bertumbuh. Dengan memahami belajar sebagai kebutuhan, maka belajar tidak lagi menjadi beban dan tidak perlu diiming imingi dengan hadiah atau prestasi tertentu untuk memenuhi itu.

Filosof pendidikan Charlotte Mason dalam seri bukunya tentang pendidikan volume 6 (Towards a Philosophy of Education) halaman 109 menuliskan bahwa “Seseorang dibangun dari dalam, bukan dari luar. Ia adalah makhluk yang hidup, dan upaya apapun yang memaksakan pendidikan dari luar dirinya, hanya akan menjadi ornament – ornament hiasan, tak akan menetap sebagai bagian vital dari identitasnya”.

Baca Juga:  Menyelami Hikmah Puasa versi Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni

Menjadikan nilai rapor sebagai motivasi belajar adalah hal yang lumrah, namun menjadikan itu sebagai patokan keberhasilan belajar atau malah menjadikan itu sebagai tujuan sekolah, adalah kekeliruan. Cara ini menjauhkan anak dari mencintai proses belajar, hanya akan menjadi ornament hiasan bagi identitasnya, dan tak sampai ilmu yang diperoleh masuk dan menjelma dalam karakter dan jiwanya.

Wahai ayah dan ibu, jika pada saat ini Ananda sedang berpeluh letih menghabiskan waktu untuk mendalami materi materi ujian sekolahnya, berilah semangat yang membangun. Yakni semangat yang menjadikan mereka terus mencintai proses memperdalam ilmu, terlepas apapun hasil yang diperoleh nanti dalam buku rapornya. Nilai rapor hanya pemanis, yang perlu terus dipupuk adalah semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Insya Alloh dengan demikian Ananda akan memahami belajar sebagai suatu kebutuhan, alih alih beban yang berat untuk dijalani.

Bagikan Artikel ini:

About Nuroniyah Afif

Avatar of Nuroniyah Afif

Check Also

anak terkonfirmasi covid-19

Anak Terkonfirmasi Covid-19, Jangan Panik! Berikut Ikhtiar Lahir dan Batin untuk Dilakukan

Grafik kenaikan kasus Covid – 19 di Indonesia belum menunjukkan tanda akan melandai. Covid – …

8 fungsi keluarga

Momentum Menguatkan Kembali 8 Fungsi Keluarga di Masa Pandemi

Meningginya kasus Covid – 19 hingga menyentuh angka 30 ribu kasus baru per hari memaksa …