Akidah Islam tentang Agama Saya dan Agamamu
Akidah Islam tentang Agama Saya dan Agamamu

Akidah Islam tentang Agama Saya dan Agamamu

Islam mempunyai doktrin cantik sekaligus panduan moral dalam merawat keimanan di tengah keragaman. Doktrin ini pula menjadi pedoman seseorang ketika bergaul dengan yang berbeda tanpa harus menjauhkan diri dari keragaman.

Kata لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ termasuk dalam ayat ke-6 surat Al Kafirun memiliki arti untukmu agamamu dan untukku agamaku. Ayat ini merupakan bentuk ketegasan umat Islam dalam beragama, tetapi juga menjadi panduan untuk tidak mengisolasi diri dari keberagamaan.

Ayat ini diturunkan di kota Mekkah dan ditujukan untuk kaum quraisy yang kafir, yang tidak mau menerima seruan dan petunjuk kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah kepada mereka. Saat itu Rasulullah telah berdakwah dan pada orang kafir malah mereka mengajak Rasulullah untuk menyembah Tuhan mereka dan nanti setahun kemudian mereka yang bergantian akan menyembah Allah.

Orang-orang kafir menilai bahwa hal yang diutarakannya merupakan jalan tengah supaya mereka mampu mengenal agama mana yang lebih baik, karena mereka sama-sama merasakan agama tersebut.

Setelah kejadian inilah Allah telah menurunkan surat al-Kafirun ini sebagai jawaban atas tawaran para kafir quraisy. Allah berfirman dalam surat al-Kafirrun ayat 1-5 yang berbunyi, “Katakanlah wahai Muhammad: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembahDan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.”

Dalam ayat diatas tersirat bahwa surat tersebut ditujukan kepada orang kafir yang tidak mempercayai adanya Allah dan Rasulullah menolak tawaran dari kaum kafir Quraisy karena Rasulullah hanya meyakini bahwa Allahlah satu-satunya tuhan yang pantas disembah dan tidak ada sekutu baginya, bahkan para kafir tersebut tidak akan pernah menyembah Allah sesuai syariat, karena mereka beragama Islam bukan dari hati mereka melainkan hanyalah sebuah paksaan karena perjanjian.

Baca Juga:  Pria Tendang Sesajen, MUI: Berdakwah Itu Menyampaikan Pesan Ilahi dengan Cara Baik, bukan Semau Sendiri

Jika membahas tentang akidah dalam Islam. Allah merupakan tuhan satu-satunya dan hal ini tidak dapat dikompromikan untuk tawar menawar. Sebagai umat Islam hendaknya lebih memahami akan akidah ini. Perlu di ketahui juga bahwa setiap agama memiliki kepercayaan yang berbeda-beda, jadi seorang muslim juga tidak boleh mencoba menghakimi para pemeluk agama lain atas kepercayaan yang dianutnya.

Ajaran Islam memberi kebebasan kepada siapa pun untuk menentukan agamanya sendiri. Tidak ada paksaan dalam memeluk agama islam. Terlihat dalam Alquran, Allah berfirman, “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Khafi ayat 29)

Dalam surat diatas menegaskan bahwa Allah menyuruh Rasulullah untuk memberitahukan kebenaran akan adanya Allah sebagai Tuhan yang layak di sembah. Namun Allah juga berpesan untuk membiarkan mereka yang kafir tanpa memaksa mereka dalam memeluk Islam. Karena Allah telah menyiapkan Neraka untuk orang-orang yang ingkar.

Ungkapan ayat “untukmu agamamu dan untukku agamaku” sarat dengan kalimat penyerahan. Berserah diri kepada Allah namun tetap berusaha menyampaikan kebenaran. Namun tanpa memaksakan kebenaran kebenaran kepada mereka yang menolak. Seperti Rasulullah saat dicacimaki dan dilemparin batu oleh mereka yang ingkar, namun Rasulullah tetep tidak mau memaksakan Islam masuk kepada mereka yang tidak mau. Pada akhrinya pedoman muslim di tengah keragaman adalah membentengi imannya. Tidak boleh iman ditawar dan dipermainkan apalagi ditukarkan. Namun, akidah menjaga umat untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain ketika tidak mau berubah. Allah yang Maha Menghakimi dan Pemberi Hidayah. Manusia hanya berusaha membentengi akidah dan berdakwah.

Bagikan Artikel ini:

About Triyanto S

Avatar of Triyanto S

Check Also

nilai puasa

Menuju Puasa Panca Indra dan Batin

Puasa adalah menahan diri dari lapar dan haus serta hal-hal yang mampu membatalkannya mulai dari …

keragaman

Pelajaran Berharga dari Rasulullah : Jika Sesama Manusia Kenapa Tidak Dihormati Apapun Agamanya

Kerap sekali umat saat ini begitu ingin menunjukkan marwah Islam dengan muka sangar dan berapi-api. …