Jamaah Islamiyah
Jamaah Islamiyah

Al Jama’ah Al Islamiyah Mesir Masa Kini

Pada Desember 2018, Partai Bina wa Tanmiyah menyatakan keluar dari Aliansi Nasional Pendukung Legitimasi dan Anti Kudeta. Hal ini adalah langkah politik penting dalam sejarah Al Jama’ah Al Islamiyah setelah pada tahun 2013 turut bersama Al Ikhwan Al Muslimun turut serta dalam menggagas Aliansi Nasional tersebut, berserta Partai Al Wathan (pecahan Partai An-Nur), Partai Al Ashalah dan Partai Al Fadlilah yang ketiganya berhaluan Salafi. Tidak hanya itu, pada akhir tahun 2017, Thariq Az Zumar dimasukkan dalam daftar teroris oleh Mesir, Arab Saudi, UEA dan Bahrain. Keempat Negara Arab ini bergabung dan membentuk Pakta Anti Terorisme, sehingga daftar figur dan organisasi teroris atau donatur teroris, keempat negara ini adalah sama.

Partai Bina wa Tanmiyah kemudian menggelar kongres luar biasa pada awal tahun 2018 untuk mengganti Thariq Az Zumar yang sejak tahun 2013 berada di Qatar. Tujuan dari kongres luar biasa tersebut tidak lain untuk memberikan kesan agar Partai Bina wa Tanmiyah, tidak memiliki keterkaitan dengan Thariq Az Zumar. Muhamamd Taisir terpilih menggantikan Thariq Az Zumar dalam kongres luar biasa di mana peran dominan sang kakak, Abud Az Zumar ssebagai anggota Dewan Syuro Al Jama’ah Al Islamiyah, sangat dominan. Sayangnya, proses pembubaran Partai Bina wa Tanmiyah di Pengadilan Tinggi Administrasi Mesir masih berjalan.

Pengadilan Tinggi Administrasi Mesir pada Mei 2020 telah mengeluarkan keputusan untuk membubarkan Partai Bina wa Tanmiyah. Keputusan tersebut tentunya, tidak serta-merta menutup pintu partisipasi kader-kader Al Jama’ah Al Islamiyah dalam Pemilu 2020 ini. Bahkan, pada Pemilu 2015 beberapa kader Al Jama’ah Al Islamiyah, maju sebagai calon anggota legislatif secara independen melalui daerah pemilihan yang merupakan basis Al Jama’ah Al Islamiyah seperti Nahiya Giza (basis faksi Thariq Az Zumar) dan Dairut Asyut (basis faksi Najih Ibrahim). Salah satu caleg adalah Bayumi Ismail dari daerah pemilihan Bandar Asyut dengan tanda pilih raket. Sayangnya, caleg-caleg yang diusung oleh Partai Bina wa Tanmiyah, tidak ada yang lolos ke Parlemen.

Baca Juga:  Kiamat Gerakan Islamis

Isu yang digunakan oleh faksi Thariq Az Zumar dan faksi Najih Ibrahim adalah keinginan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, mengingat Mesir tidak memiliki dewan/ majelis perwakilan di tingkat provinsi atau distrik. Parlemen hanya ada satu, yaitu yang berkedudukan di Cairo, bersebrangan dengan kantor Dewan Kabinet. Maka, setiap calon independen di sebuah distrik harus berhasil mendapatkan dukungan mayoritas dari penduduknya, untuk memenangkan Pemilu dan duduk di Parlemen.

Sedangkan para tokoh senior Al Jama’ah Al Islamiyah Mesir yang berada di Suriah seperti Rifa’i Ahmad Thaha yang merupakan rekan satu kampus dengan Najih Ibrahim, tewas dalam serangan drone Pasukan Amerika Serikat di Idlib Suriah. Sejak tahun 2012 sampai tewasnya di tahun 2016, Rifa’i Thaha berusaha mendamaikan Al Qaeda dan ISIS di Suriah. Sayangnya, usaha tersebut tidak berhasil. Sampai saat ini, tokoh-tokoh Al Jama’ah Al Islamiyah Mesir di Suriah terus berupaya mendamaikan ISIS dan Al Qaeda, bahkan mendamaikan Haiah Tahrir Asy Syam dengan elemen-elemen Al Qaeda lainnya seperti Hurasuddin.

Berbeda dengan aktifitas kedua faksi tersebut, faksi Najih Ibrahim yang konsisten dengan Deklarasi Revisi Pemikiran dan Anti Kekerasan Al Jama’ah Al Islamiyah, hidup normal dan dapat berbaur dengan masyarakat. Tidak hanya itu, Najih Ibrahim juga mengasuh keluarga mendiang Amir Al Jama’ah Al Islamiyah, Isham Darbalah, yang meninggal dunia saat masih berada di dalam tahanan.

Pada awal tahun 2017, penulis diundang oleh Najih Ibrahim dalam pernikahan anak perempuan mendiang Amir Al Jama’ah Al Islamiyah Isham Darbalah, yang bernama Dzuriyah, di salah satu gedung serba-guna milik satuan Armed Tentara Mesir. Najih Ibrahim menceritakan, paman dari suami Dzuriyah adalah seorang tentara dengan pangkat kolonel, sehingga diperkenankan menggunakan gedung serba guna yang terletak di pinggiran timur provinsi Cairo tersebut.

Baca Juga:  Berjihadlah dengan Tulisan

Acara pernikahan tersebut penuh dengan musik dan berbagai atraksi khas masyarakat Mesir. Tamu undangan tidak hanya dari pihak keluarga saja. Beberapa anggota Parlemen dari provinsi Asyut dan para tokoh senior legenda Al Jama’ah Al Islamiyah, seperti mantan Amir Al Jama’ah Al Islamiyah Mesir, Karam Zuhdi, turut hadir.

Sekitar April 2017, penulis bersama istri berlibur ke Alexandria dan menyempatkan sowan kepada Najih Ibrahim yang sudah menganggap penulis sebagai anak sendiri. Ternyata, anak bungsu dari mendiang Isham Darbalah, Hasan, ada di rumah tersebut. Anak ini masih berumur 10 tahun dan belum masuk ke jenjang sekolah menengah. Penulis mengetahui bahwa saat ini, anak-anak mendiang Isham Darbalah, diasuh oleh Najih Ibrahim. Sehingga setiap liburan, keluarga mereka berlibur ke Alexandria.

Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa latar belakang Najih Ibrahim yang merupakan ‘orang kampung’ yang taat beragama memberikan dorongan bagi jiwa dan hatinya untuk selalu menjadi manusia biasa. Berbeda dengan kedua faksi lainnya yang berasal dari ‘daerah pinggiran ibukota’ yang selalu tertekan dengan berbagai permasalahan dan konflik sosial masyarakat yang padat penduduk dan dekat dengan pusat kekuasaan, sehingga terdorong untuk terus aktif memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya walau harus berkonflik. Seolah-olah, berkonflik adalah sebuah keniscayaan yang pasti dihadapi dan dianggap sebagai hal wajar. Berbeda dengan faksi Najih Ibrahim yang berusaha menyelesaikan konflik tanpa menimbulkan konflik-konflik baru atau memperluas konflik dengan melibatkan pihak-pihak lainnya.

* Tulisan ini merupakan bagian dari buku Misguided Arabism & Takfirism

Bagikan Artikel

About Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc

Avatar
Pengamat Terorisme di Timur Tengah