Kebinasaan
Kebinasaan

Amalan Pendatang Kebinasaan (Bagian 1)

Al-Quran telah meriwayatkan mengenai kisah-kisah orang terdahulu, yang menunjukkan kebinasaan suatu kaum. Baik itu perorangan atau sekelompok orang, disebabkan buruknya perbuatan serta pembangkangan mereka.

Perhatikanlah bahwa kebinasaan tersebut terjadi karena sebab-sebab dibawah ini :

Kekafiran dan Pembangkangan

Sebagaimana keadaan kaum Nabi Nuh AS, yang telah diabadikan didalam al-Quran :

·  وَلَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا نُوۡحًا اِلٰى قَوۡمِهٖۤ اِنِّىۡ لَـكُمۡ نَذِيۡرٌ مُّبِيۡنٌۙ‏

25. Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), “Sungguh, aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu,

·  اَنۡ لَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰهَ‌ؕ اِنِّىۡۤ اَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ اَلِيۡمٍ

26. agar kamu tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih.” (Q.S Hud : 25-26)

Dalam ayat tersebut terdapat penjelasan mengenai tujuan dakwah dan kandungan risalah, yakni menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan maksudnya adalah tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah swt, dan tidak menyekutukan-Nya.

Dengan bertauhidlah manusia dapat terselamatkan dari dari kemurkaan Allah dan dijauhi dari azab-Nya yang pedih.

Allah berfirman :

·  فَقَالَ الۡمَلَاُ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا مِنۡ قَوۡمِهٖ مَا نَرٰٮكَ اِلَّا بَشَرًا مِّثۡلَنَا وَمَا نَرٰٮكَ اتَّبَعَكَ اِلَّا الَّذِيۡنَ هُمۡ اَرَاذِلُــنَا بَادِىَ الرَّاۡىِ‌ۚ وَمَا نَرٰى لَـكُمۡ عَلَيۡنَا مِنۡ فَضۡلٍۢ بَلۡ نَظُنُّكُمۡ كٰذِبِيۡنَ‏

27. Maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.” (Q.S Hud : 27).

Baca Juga:  Menghadirkan Wajah Islam Kaffah dengan Memanfaatkan Ushul Fikih

Dalam ayat ini terdapat penolakan, pembangkangan serta tuduhan yang tidak baik kepada Nabi Nuh dan orang-orang beriman yang mengikutinya. Adapun awal munculnya seluruh sikap tersebut adalah kekafiran sebagaimana dikatakan diawal : “maka berkatalah pemimpin kafir dari kaumnya”……..

Namun Nabi Nuh melanjutkan penyampaian risalah kenabian dan dakwahnya untuk memahamkan mereka akan kandungannya. Termasuk meyakinkan mereka bahwa tidak ada jalan keselamatan kecuali beriman kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Hal ini terus beliau lakukan sampai beliau merasa putus asa dan yakin bahwa mereka tidak mau beriman. Sehingga beliau berdoa kepada Allah, dan doa beliau diabadikan didalam Al-Quran.

Allah berfirman :

·  وَ قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى الۡاَرۡضِ مِنَ الۡكٰفِرِيۡنَ دَيَّارًا‏

26. Dan Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

·  اِنَّكَ اِنۡ تَذَرۡهُمۡ يُضِلُّوۡا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوۡۤا اِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

27. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur. (Q.S Nuh : 26-27).

Doa ini sebelumnya didahului oleh ayat-ayat yang menjelaskan kondisi Nabi Nuh bersama kaumnya dalam dakwah beliau, dan menerangkan sejauh mana perkembangan serta kemaksiatan kaumnya. Sebagaimana telah dilukiskan dalam Al-Quran tentang pengaduan Nabi Nuh kepada Allah serta penjelasan sebab-sebabnya, sebelum beliau mendoakan kaumnya dengan doa penghancuran

Allah berfirman :

·  قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ اِنَّهُمۡ عَصَوۡنِىۡ وَاتَّبَعُوۡا مَنۡ لَّمۡ يَزِدۡهُ مَالُهٗ وَوَلَدُهٗۤ اِلَّا خَسَارًا‌

21. Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya,

·  وَمَكَرُوۡا مَكۡرًا كُبَّارًا‌

Baca Juga:  Waspada Gaya Politik Khawarij: Mengkafirkan Sesama Muslim

22. dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.”

· وَّ لَا يَغُوۡثَ وَيَعُوۡقَ وَنَسۡرً وَ قَالُوۡا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًاا‌

23. Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suw±‘, Yagµ£, Ya‘µq dan Nasr.”

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا

24. Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kesesatan. (Q.S Nuh : 21-24).

Inilah penjelasan secara global keadaan kaum Nabi Nuh serta kekafiran, kesesatan, dan tipudaya yang ada pada diri mereka. Suatu hal yang telah diketahui, bahwa mereka telah menyembah Tuhan selain Allah yakni kuburan orang-orang nenek moyang mereka, yang bernama Waada, Suuwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Setelah itu Allah melanjutkan dengan penjelasan akan adanya rasa putus asa dalam diri Nabi Nuh, bahwa beliau adalah orang yang dikalahkan oleh kaumnya, beserta penjelasan keadaan yang ada pada diri kaum tersebut, sebelum doa penghancuran yang telah diterangkan oleh Nabi Nuh didalam al-Quran :

·  فَدَعَا رَبَّهٗۤ اَنِّىۡ مَغۡلُوۡبٌ فَانْـتَصِرۡ

10. Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).”

·  فَفَتَحۡنَاۤ اَبۡوَابَ السَّمَآءِ بِمَآءٍ مُّنۡهَمِرٍ

11. Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah,

·  وَّفَجَّرۡنَا الۡاَرۡضَ عُيُوۡنًا فَالۡتَقَى الۡمَآءُ عَلٰٓى اَمۡرٍ قَدۡ قُدِرَ‌ۚ

12. dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan.

(Q.S Al-Qamar : 10-12)

Ayat tersebut menjelaskan kehancuran orang-orang kafir lagi pembangkang dan keselamatan Nabi serta orang-orang mukmin. Selanjutnya dalam Firman-Nya :

Baca Juga:  Mengenal Darah Haid dan Tata Cara Mandi Setelah Haid

·  وَحَمَلۡنٰهُ عَلٰى ذَاتِ اَلۡوَاحٍ وَّدُسُرٍۙ

13. Dan Kami angkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan pasak     

( Q.S Al-Qamar : 13)

Yakni sebuah kapal yang besar yang dibuat dari bahan-bahan berupa sekumpulan papan kayu yang diperkuat dengan paku-paku.

Al-Quran telah mencantumkan mengenai tahpan-tahapan tentang kehancuran mereka. Sebagaimana Firman Allah :

·  حَتّٰۤى اِذَا جَآءَ اَمۡرُنَا وَفَارَ التَّنُّوۡرُۙ قُلۡنَا احۡمِلۡ فِيۡهَا مِنۡ كُلٍّ زَوۡجَيۡنِ اثۡنَيۡنِ وَاَهۡلَكَ اِلَّا مَنۡ سَبَقَ عَلَيۡهِ الۡقَوۡلُ وَمَنۡ اٰمَنَ‌ؕ وَمَاۤ اٰمَنَ مَعَهٗۤ اِلَّا قَلِيۡلٌ

40. Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Ternyata orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit. (Q.S Hud : 40)

Jika diperhatikan, kita akan menemukan pemisah antara kehancuran dan keselamatan adalah kekafiran dan keimanan beserta macam-macamnya, bukan berpangkal pada ajal.

Oleh karena itu barangsiapa yang beriman dan mengikuti Rasul, maka ia akan selamat. Adapun bagi mereka yang kafir setelah datangnya ilmu Allah kedalam hatinya, maka sekali-kali dia tidak akan beriman, sehingga ia akan binasa disebabkan kekafiran serta pembangkangannya.

Bagikan Artikel

About Dr. Ahmad Syah Alfarabi

Avatar