Jangan Sepelekan, Inilah Bahaya Hutang yang Perlu Diketahui

0
980
bahaya hutang

Berhati-hatilah dengan bahaya hutang. Seorang syahid pun ditunda masuk surga karena terganjal hutang yang belum dilunasi.


Gaya hidup masa kini, serta banyaknya persoalan yang membelit dalam keluarga membuat kita seakan tidak bisa lepas dari unsur hutang-piutang. Banyak orang yang tidak menyadari resiko yang akan ditanggung oleh orang yang tidak mampu membayar hutang. Bukan saja pertanggungan di dunia, tetapi kelak di akhirat.

Hutang piutang bukan hal sepele dan tidak boleh disepelekan. Dari Abdullah bin Jahsy Rasullullah bersabda,”Demi Allah jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya laki-laki terbunuh fi sabilillah kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh, kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh sementara ia punya hutang, sungguh ia tak akan masuk surga hingga terlunasi hutangnya.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad dan Hakim).

Dari penegasan di atas dapat dipahami betapa hutang dapat menjadi penghalang seseorang untuk masuk surga sekalipun ia telah memiliki amal dan ibadah sebesar jihad. Apabila jiwa seseorang tengah berada di tangan Allah lantas mati dalam keadaan berjihad di jalanNya, lantas dihidupkan kembali lalu ia memiliki hutang dan kemudian ia meninggal, maka jiwa nya tidak dapat masuk surga karena masih tertahan dengan hutang-hutangnya sebelum dilunasi.

Dalam hadits lain Rasulullah pun menegaskan: “Seorang yang Mati Syahid akan Diampuni Segala Dosa-dosanya Kecuali Hutang” (HR. Muslim No. 3498).

Menarik sekali apabila kita lihat dua redaksi hadist di atas. Rasulullah selalu menyandingkan kewajiban hutang dengan kematian syahid. Hal ini sebenarnya memberikan makna implisit bahwa persoalan bahaya hutang bukan hal sepele. Seseorang yang mati syahid pun tidak menjamin bisa masuk surga karena masih tersangkut hutang piutang.

Kenapa demikian? Seseorang yang mati dalam keadaan syahid sebenarnya telah memenuhi hak Allah (haqqullah) yang layak serta dijamin masuk surga. Namun, selain hak Allah ada lagi hak manusia (haqqul adami) yang melekat dalam diri seseorang, salah satunya adalah urusan kesalahan dan hutang.

Dalam konteks inilah, seseorang mati syahid pun yang masih membawa beban tanggungan kepada manusia menjadi terhalang untuk mencapai surga kecuali tanggungan tersebut dibebaskan. Allah tidak bisa mencabut dosa kepada sesama manusia. Allah akan mencabut semua dosa yang hanya berhubungan dengan Tuhan.

Karena itulah, biasanya dalam acara pemakaman seringkali dikatakan oleh sanak keluarganya apabila ada tanggungan yang dimiliki almarhum agar bisa diucapkan dan apabila ada kesalahan agar dimaafkan. Hal ini semata untuk memperlancar jenazah agar tidak ada sangkut paut dengan masalah hak sesama manusia.

Hikmah yang bisa tarik dari dua hadist di atas, jika seorang syuhada yang mati syahid saja tidak terampuni dosa hutangnya, apalagi kita yang hanya manusia biasa yang penuh dengan dosa. Mengingat begitu banyak dampak buruk dari berhutang, maka pastikan diri kita untuk tidak menyepelekan masalah hutang piutang.

Bekerja keras jika ingin memiliki sesuatu, jangan ingin terlihat ingin mewah di depan orang lain sementara di belakangnya kita banyak berhutang dan memaksakan kemampuan kita.

Selain menjadi penghalang untuk masuk surga, tidak segera membayar hutang juga akan memberikan banyak dampak buruk dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti rusaknya hubungan persaudaraan yang semula sangat erat bisa jadi renggang karena kita tidak mau membayar hutang dengan segera.