#Hari Ini Aku Telah Datang Dan Memerangi Kalian <Thoghut>

#Dan Pesanku Untuk Ikhwan Dimanapun Berada Bangun Dan Sadarlah

#Jihad Ini Tak Akan Pernah Henti. Sampai Kiamat Sekalipun

#Maka Bangun Dan Sadarlah Dari Tidur Yang Panjang Ini

Bangun dan Sadarlah

Kalimat di atas adalah tulisan yang ada di secarik kertas yang ditemukan dari pelaku serangan terhadap Kantor Kepolisian Sektor Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Seorang pelaku yang membawa atribut ISIS, Senin (1/6/2020) melancarkan aksinya dengan sebuah samurai yang merenggut satu korban dari anggota kepolisian setempat.

Kembali pada secarik kertas yang tertulis dengan semangat tersebut dan diakhiri dengan logo ISIS dan tertera namanya : Ana Abdurrahman. Surat ini nampaknya sengaja dibawa untuk bukti dan motivasi yang akan dikisahkan dan disebarkan untuk memompa semangat yang lain. Lazimnya teror akan menyukai publisitas dan pemberitaan sehingga menyebarkan teror dan membangkitkan semangat kepada jaringannya.

Kalau diamati narasi-narasi yang muncul dari secarik kertas itu sepertinya pelaku adalah kelompok pengidap takfiri. Ia menganggap aparat kepolisian sebagai thogut sebagaimana lazim dimiliki kalangan takfiri seperti ISIS. Ia pun mengajak kepada “ikhwan” sebutan khas dalam jaringan mereka untuk tidak berhenti jihad sampai kiamat sekalipun.

Narasi takfiri dan kebencian terhadap aparat pemerintah dan negara yang dalam pandangan mereka adalah kafir merupakan penyulut yang mematikan. Tidak hanya itu nalar takfiri juga menganggap mereka umat Islam yang berbeda juga kafir.

Sepertinya nalar takfiri tidak mengenal kondisi, bahkan di tengah pandemi pun mereka melancarkan aksi. Nalar takfiri seolah tidak kenal kemanusiaan sekalipun di tengah kondisi pandemi.Tak peduli bagaimanapun kondisi masyarakat, terpenting aksi yang dalam bayangan mereka adalah jihad harus kapanpun dilaksanakan.

Saya ingin mengutip pandangan seorang Mantan Pendiri dan Ketua Dewan Syuro al-Jamaah Al-Islamiiyah Mesir, dr. Najih Ibrahim yang sangat resah dengan cara nalar takfiri yang sangat merusak Islam. Menurutnya nalar takfiri digambarkan dalam tiga bentuk.

  1. Nalar takfiri adalah nalar berfikir yang dangkal. Disebut dangkal karena nalar ini tidak bisa membedakan antara persoalan Syariah, akidah dan sosial keumatan. Bagi kelompok semuanya dipandang dalam mindset perbedaan akidah antara kekufuran dan keimanan. Bagi mereka yang setuju dipandang muslim, sementara yang berbeda adalah kafir.
  2. Nalar takfiri tidak memahami sifat kasih sayang dan ampunan Allah SWT. Bahkan mereka melupakan bagaimana cara Nabi bersosialisasi dan berinteraksi dengan santun kepada para penguasa, negara dan masyarakat yang berbeda keyakinan. Mereka memandang semua orang berdosa tanpa ampunan dari Allah seolah mereka seperti penjaga surga dan neraka yang bisa memutuskan siapa yang masuk surga dan neraka.
  3. Nalar berfikir kaum Takfiri seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya “Mereka yang berkata hancurlah manusia, maka sesungguhnya perkataan itu menghancurkan mereka sendiri.” Kaum Takfiri tidak sadar ketika mereka mengkafirkan para penguasa, polisi, tentara, politisi, Kaum Sufi dan masyarakat lainnya, sejatinya mereka telah menghancurkan diri mereka sendiri.

Dengan nalar takfiri tersebut menjadi wajar jika mereka tidak akan mengenal rasa kemanusaian dan kasih sayang. Di tengah pandemi pun ketika semua orang sibuk saling membantu dan bangkit dari pandemi, mereka justru memanfaatkan celah untuk melakukan aksi.

Sungguh bahaya nalar takfiri lebih merusak dari pada wabah covid-19 ini. Bagi mereka yang mengidap takfiri selalu memandang yang berbeda selalu adalah target untuk dibunuh kapapun jika mereka mampu. Dan kesimpulan dr. Najih mereka ISIS dan kelompok takfiri lainnya, bukan sedang ingin membela Islam, tetapi justru menghancurkan Islam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.