Kisah tentang umat yang gemar menuntut yang paling menonjol di dalam Al-Qur’an adalah kisah Bani Israil, umat Nabi Musa. Tidak hanya tuntutan ekonomi berupa ketahanan pangan (manna wa salwa), tetapi juga berkaitan dengan teologi, penetapan hari suci. Dari yang semula hari jum’at minta digantikan hari sabtu. Lebih jauh dari itu, juga tuntan tentang tuhan, yang harus seperti keinginan mereka.

Menariknya, dalam studi ilmu Qur’an, kisah-kisah tersebut bisa dijadikan pelajaran dengan prinsip esensi dari cerita. Yaitu, sikap menuntut yang berlebihan itu sangat dilarang oleh Islam. Bahkan menurut Khudlari Bik, syariat Islam sendiri pondasi dasarnya antara lain taqlilu at-taklif (meminimalisir tuntuntan).

Seperti yang disampaikan dalam Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 101, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan kepada Nabimu (menuntut), hal-hal yang jika dijawab (dikabulkan) justru akan menyusahkanmu.” Ayat ini turun ketika ada sebagian sahabat yang bertanya kepada Nabi, apakah haji itu diwajibkan setiap tahun? Maka seandainya Nabi menjawab, “Iya,” maka tidak akan terbanyang bagaimana repotnya umat Islam saban tahunnya.

Tuntutan-tuntan lain juga pernah terjadi dari masyarakat di sekitar Nabi Muhammad. Ujung-ujungnya tidak berbeda dengan yang dilakukan umat terdahulu. Yaitu tidak mau ikut dengan ajakan Nabi Muhammad (iman). Seperti peristiwa ketika Nabi Muhammad didatangi oleh para pembesar suku Quraiys, yang di antara mereka pada akhirya ada yang masuk Islam, namun sebagian besar tetap tidak mau masuk Islam, seperti Abu Jahal dan Walid bin Al-Mughirah.

Para pembesar itu sengaja ramai ramai mendemo Rasulullah untuk menggugat ajaran yang disebarkannya. Dari pernyataan yang begitu panjang, mereka menuntut agar Nabi Muhammad menghentikan dakwahnya karena dituduh telah mencemari kepercayaan yang telah lestari dari para leluhur.

Tidak hanya itu, Nabi juga didakwa telah mempermainkan agama, menghina para tuhan, serta telah melakukan upaya propaganda pembangkangan. Anehnya, di balik itu, mereka juga memberi iming-iming jika seandainya Nabi Muhammad mau menghentikan dakwahnya, maka akan diberikan harta melimpah sampai jadi orang terkaya di Mekkah saat itu, (Shawi, 2:450).

Tetapi Rasulullah tetap pada pendiriannya, tidak mau gentar dan tidak mau mundur. Beliau menegaskan bahwa apa yang ia bawakan adalah utusan dari Allah. Misi yang ia bawakan adalah untuk kemaslahatan umat (Khudlari Bik, 25) agar tidak ada lagi tumpang tindih keadilan, rasisme, otoritarian, dan dekadensi moral.

Lalu bagaimana kalau ada para penuntut yang hadir di tengah-tengah pemimpin yang sedang menerapkan misi yang sama dengan misi Nabi? Mari kita renungi bersama!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.