posisi shaf anak
posisi shaf anak

Berbondong-bondong Shalat Berjamaah Saat Ramadan, Apakah Anak Kecil dapat Memutus Shaf?

Pada bulan Ramadan seperti saat sekarang ini, intensitas shalat berjamaah begitu menggeliat. Tak hanya orang dewasa, anak-anak yang belum baligh pun turut berbondong-bondong ke masjid dan musholla untuk menunaikan shalat isya, tarawih dan witir secara berjamaah.

Anak-anak tersebut, adakalanya berangkat shalat jamaah karena kemauan mereka sendiri lantaran teman sebayanya juga ikut ke masjid. Selain itu juga karena diajak oleh orang tua mereka. Terdapat berbagai tujuan dan alasan para orang tua mengajak anaknya tersebut, seperti sebagai bentuk qudwah (sikap keteladanan) agar sang anak terbiasa dan ringan melangkahkan kakinya untuk menunaikan shalat berjamaah dan alasan-alasan lainnya.

Tentunya fenomena anak kecil pergi ke masjid atau musholla merupakan hal yang positif karena sebagai salah satu bentuk pengajaran akhlak mulia. Selain itu juga mencegah anak-anak untuk tidak hanya sekedar nongkrong di perempatan jalan atau tempat semisal. Namun, jangan sampai hal ini sekedar dibiarkan saja. Artinya, anak-anak tersebut harus diarahkan agar keberadaannya tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’ kepada anak kecil ketika shalat berjamaah.

Memang harus diakui juga, bahwa keberadaan anak kecil ketika shalat berjamaah, seringkali membuat suasana menjadi berisik, ramai dan mengganggu konsentrasi atau kekhusukan jamaah shalat. Hal ini bukan semua anak kecil demikian. Artinya, ada juga anak-anak yang datang untuk shalat berjamaah dengan tenang dan khusu’. Akan tetapi, ada orang yang berpandangan bahwa, anak kecil, entah itu yang ramai maupun yang tenang, harus dipindah ke shaf yang paling belakang. Alasannya karena kehadirannya dapat memutus shaf antar jamaah.

Apakah Anak Kecil Memutus Shaf?

Alasan itu menarik untuk dikaji lebih dalam. Apakah anak kecil dapat memutus shaf shalat berjamaan? Lalu, bagaimana sebenarnya posisi anak kecil ketika mereka ikut serta dalam shalat berjamaah? Setidaknya uraian singkat ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Menularkan Hukum

Namun sebelum ini, perlu penulis ketengahkan bahwasannya yang dimaksud anak kecil dalam konteks ini adalah mereka yang belum baligh. Baiklah. Mari kita awali pembahasan ini dengan menyinggung perihal larangan memutus shaf.

Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa diantara syarat kesempurnaan shalat berjamaah adalah tidak memutus shaf. Memutus shaf berarti antara satu makmum dengan makmum lainnya hendaknya rapat dan tidak menyisakan jarak diantara sisi kanan dan kiri mereka. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah:

“Luruskanlah shaf karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim no. 433).

Dalam redaksi lain, Nabi bersabda: “Luruskanlah shaf karena lurusnya shaf merupakan bagian dari ditegakkannya shalat.” (HR. Bukhari no. 723).

Dari hadis di atas, sebagian ulama ada yang mengatakan bahwasannya meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya wajib dalam shalat berjamaah. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa hadis di atas merupakan sebuah kesunnahan dalam shalat berjamaah, bukan suatu kewajiban dan bukan suatu hal yang membatalkan shalat.

Terlepas dari khilafiyah yang terjadi di kalangan para ulama, penulis lebih memaknai hal di atas sebagai salah satu bentuk dari kesempurnaan dan keutamaan shalat berjamaah yang harus kita usahakan dengan sekuat tenaga.

Dalam sebuah riwayat, Nabi bersabda: “Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian, tetuplah celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaitan. Barang siapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutus shaf, niscaya Allah akan memutuskannya.” (HR. Abu Daud).

Urutan Shaf Makmum dalam Shalat Berjamaah

Sebelum menguraikan tentang apakah anak kecil  memutus shaf dalam shalat berjamaah, marilah kita kaji tentang urutan secara umum makmum dalam shalat berjamaah. Ketentuan umum syara’ menyebutkan bahwa shaf paling depan ( di belakang imam persis—shaf pertama) diisi oleh makmum laki-laki yang sudah dewasa (baligh). Diutamakan yang berdiri tepat di belakang imam adalah mereka yang fasih bacaannya. Lalu ketika tidak cukup, maka dilanjutkan pada shaf selanjutnya.

Baca Juga:  Nuzulul Qur’an (1) : Hukum Menyentuh Al-Quran Terjemah Tanpa Wudhu

Baru kemudian di belakang laki-laki dewasa itu adalah makmum anak-anak kecil yang belum baligh. Menurut pendapat Madzhab Syafii, jika anak kecil berada dalam barisan shaf orang dewasa, hendaknya ia ditempatkan diantara dua laki-laki dewasa. Alasannya, agar ia dapat melihat dan belajar gerakan shalat (Wizarah al-Awqaf, al-Mausu’ah al-Fighiyah al-Kuwaitiyah, hlm. 36-37). Lalu shaf selanjutnya ditempati oleh para wanita.

Pendapat Para Ulama

Perihal apakah anak kecil dapat memutus shaf shalat, para ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama membolehkan anak kecil masuk dalam jajaran shaf orang dewasa dan yang demikian bukan berarti memutus shaf shalat dalam jamaah tersebut.

Imam al-Khatib asy-Syarbini asy-Syafi’i dalam  kitabnya, al-Mughni al-Muntahaj, menerangkan: “Jika anak-anak kecil hadir terlebih dahulu, mereka tidak boleh dimundurkan (shaf-nya) untuk kemudian tempat mereka diberikan kepada orang dewasa yang datang kemudian.” Sementara Imam Ahmad dan Ibnu Qudamah berpendapat bahwa anak-anak harus ditempatkan pada shaf belakang, tetapi jika mereka berdiri dalam barisan shaf orang dewasa, shalat jamaah tetap sah. Artinya, anak-anak tidak bisa dianggap sebagai pemutus shaf.

Seorang ulama nusantara terkemuka, Muhammad Mahfud bin Andillah At-Tarmasi dalam bukunya, “Hasyiyah at-Tarmusi al-Musamma Mauhibah Dzil Fadl”, menjelaskan bahwa lelaki dewasa harus menjadi hal yang diprioritaskan untuk mengisi shaf paling awal. Namun jika mereka (anak kecil) mendahului pada shaf awal, mereka tidak boleh dipindah dari shaf awal karena mereka masih satu jenis (laki-laki).

Demikianlah uraian tentang posisi dan status anak kecil dalam shaf shalat berjamaah. Mayoritas ulama mengatakan bahwasannya anak kecil tidak dapat memutus shaf dalam shalat berjamaah. Artinya, keberadaan anak kecil sejatinya tidak berpengaruh terhadap putusnya shaf. Hanya saja, para ulama menegaskan bahwasannya, hendaknya orang dewasa yang mengisi dan memenuhi shaf awal dalam shalat berjamaah. Baru dilanjutkan barisan anak kecil. Namun, demi alasan ketertiban dan kekhusukan shalat, orang dewasa bisa masuk disela-sela shaf kedua dan selanjutnya yang diisi oleh anak-anak kecil.

Bagikan Artikel ini:

About Fauziyatus Syarifah

Avatar of Fauziyatus Syarifah
Mahasiswi magister program PAI UIN Walisongo Semarang

Check Also

kh ahmad dahlan

3 Kiat Menuju Masyarakat Tangguh dan Beradab Ala KH Ahmad Dahlan

Nama KH. Ahmad Dahlan sangat moncer dikalangan bangsa Indonesia karena ia termasuk orang yang memiliki …

jihad kemerdekaan

Agustus Bulan Perjuangan : Inilah 3 Bentuk Jihad Bela Negara yang Dianjurkan Agama!

Bagi rakyat Indonesia, Agustus adalah bulan perjuangan. Pernyataan ini tentu saja tidak berlebihan mengingat pada …