Achmad Mubarok
Achmad Mubarok

Tak Hanya Tahan Makan dan Minum, Puasa Lebih Berkualitas Dengan Menahan Diri dari Hoax dan Fitnah

Jakarta – Puasa sesungguhnya tidak hanya mengajarkan menahan nafus, tetapi puasa adalah perisai atau benteng dari perbuatan yang buruk. Maka ketika ada berita hoax, informasi yang menghasut, mengadu domba dan memprovokasi jadikan puasa yang sedang dijalani dalam bulan ramadan ini sebagai benteng.

Guru Besar bidang Psikologi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Achmad Mubarok MA, mengatakan bahwa sejatinya puasa dapat dibagi menjadi tiga tingkatan. Yang pertama adalah puasa orang awam atau puasa orang biasa yang hanya meninggalkan makan dan minum.

”Nah selama puasa ini mereka biasanya tetap menyebarkan berita hoax, adu domba orang. Jadi puasa itu hanya tidak makan dan tidak minum. Itu nilai puasa yang paling rendah dan masyarakat kita masih banyak yang disitu,” ujar Prof. Achmad Mubarok di Jakarta, Jumat (23/4/2021).

Yang kedua, lanjutnya, ada namanya puasa khusus. Yaitu puasa yang bukan hanya melulu menahan diri dari makan dan minum tetapi seluruh anggota badan menahan diri dari hal-hal yang tidak pantas dikerjakan. Menahan diri dari berbicara bohong, mengadu domba, saling fitnah. Seluruh anggota tubuh berpuasa dan menjauhi keburukan. Menurutnya puasa yang bermutu adalah yang seperti itu.

”Jarang yang berpuasa berkualitas seperti ini. Dan puasa seperti inilah yang berpengaruh kepada pembentukan karakter manusia,” jelas anggota MPR RI periode 1999-2004 itu.

Yang ketiga, ungkap Achmad Mubarok, ada yang namanya puasa super khusus, ini adalah puasa dengan kualitas tertinggi. Bukan hanya anggota badan yang menahan diri namun hati pun juga ikut berpuasa dari ingatan selain Allah. Ia menyebut bahwa selama berpuasa tidak pernah terlintas pikiran buruk atau pun rencana jahat.

Baca Juga:  Ini Aturan Khutbah Jumat di Sejumlah Negara Muslim

”Yang ada ingat kepada Tuhan, menyebut nama Tuhan dan ini jarang sekali ada orang yang bisa berpuasa seperti ini. Jadi kalau untuk masyarakat, saya kira yang bisa diterapkan itu puasa yang kedua itu. Kemudian kurangi aktifitas yang tidak diperlukan dan memilih hal-hal yang betul-betul baik, itu bisa yang produktif untuk membangun karakter manusia,” terang Achmad.

Selain itu, pria yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat periode 2007-2012 ini juga mengungkapkan bahwa dengan adanya era informasi teknologi (IT) saat ini, juga menimbulkan kerusakan budaya yang luar biasa di masyarakat. Ia menyebut sampai nanti suatu saat akan ada muncul era wisdom.

”Era wisdom itu nanti ketika orang sudah sangat muak kepada keburukan, muak kepada kebohongan, muak kepada hoaks. Itu nanti akan muncul era wisdom, tapi itu masih akan lama. Karena sekarang orang masih menikmati era IT ini,” tuturnya.

Oleh karena itu menurutnya, munculnya hoax ini juga adalah konsekuensi daripada munculnya IT, terutama bagi orang awam. Karena bagi orang terpelajar, IT ini betul-betul bermanfaat, dan digunakan untuk hal-hal yang produktif. Namun bagi orang yang kurang terpelajar, IT ini hanya digunakan untuk kesenangan saja tanpa memperhatikan nilai-nilai yang ada.

”Di pesantren pengajaran nilai-nilai tentang berpuasa ini cukup bagus, karena mereka di asramakan. Sekolah yang mempunya banyak nilai-nilai tradisi itu juga bisa. Tapi kalau daring/online itu tidak bisa karena tidak efektif. Secara akademik kuliah online hasilnya hanya sekitar 50% saja. Jadi agak susah,” jelasnya.

Oleh karena Achmad Mubarok beranggapan bahwa manusia itu sesungguhnya tidak suka kepada yang buruk, tetapi daya tarik keburukan lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan. Sehingga kalau ada daya tarik keburukan dan kebaikan dalam satu panggung, yang menang adalah yang buruk.

Baca Juga:  Subhanallah, Polisi di Aceh Ini Dirikan dan Pimpin Pondok Pesantren di Sela Tugas-tugasnya

”Ketika media dengan bebasnya menceritakan apa saja yang terjadi, maka keburukanlah yang dominan diikuti oleh masyarakat, kebaikan tidak diikuti. Meskipun seseorang sesungguhnya suka kepada kebaikan. Psikologinya begitu,” pungkasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Hubungan suami istri

Heboh Anal Seks, KH Cholil Nafis: Haram Hukumnya!

Jakarta – Akhir-akhir ini heboh pemberitaan seorang wanita dan istri yang melaporkan suaminya yang juga …

umat muslim melaksanakan ibadah shalat idul fitri hijriah

Ini Alasan Aceh Disebut Serambi Makkah

JAKARTA – Orang-orang Indonesia sejak zaman Belanda telah melaksanakan ibadah haji, dahulu kala menggunakan kapal …