peperangan rasulullah

Sebagian orientalis sinis mengatakan Islam agama perang. Titik tolak pandangan prejudice ini berakar dari pemahaman yang tidak utuh tentang motivasi peperangan yang dilakukan Rasulullah.

Kenyataan bahwa sejarah Islam diwarnai peperangan merupakan fakta yang tidak dapat dibantah. Jika seperti diuraikan bahwa Islam disebarkan dengan dakwah, lalu mengapa terjadi peperangan? Motivasi peperangan dalam sejarah Islam adalah sebagai berikut.

Pertama, mempertahankan jiwa raga. Seperti disebutkan dalam sejarah, sebelum hijrah, orang-orang Islam belum diizinkan untuk berperang. Padahal, umat Islam memperoleh berbagai siksaan dan tekanan dari kafir Quraisy. ’Ammar, Bilal, Yasir, dan Abu Bakar adalah orang-orang yang mendapat perlakuan keras itu.

Ketika perlakuan kafir Quraisy semakin keras dan umat Islam meminta izin kepada Nabi untuk berperang, Nabi belum juga mengizinkan karena belum ada perintah dari Allah. Akan tetapi, ketika Nabi beserta pengikutnya hijrah ke Madinah dan kafir Quraisy bertekad untuk membebaskan kota itu dari Islam, karena demi membela diri Allah mengizinkan mereka berperang (Q8. Al-Hajj [22]: 37).

Tidak sekedar perang. Allah memberikan beberapa persyaratan seperti demi jalan Allah, bukan demi harta atau prestise, mempertahankan diri, dan tidak berlebihan (Q.S. Al-Baqarah [2] 190. Semuanya itu menunjukkan bahwa pada dasarnya Islam tidak senang perang.

Data historis yang dapat dikemukakan berkaitan dengan hal tersebut adalah penyebaran Islam ke Habsyi, sebuah kota yan tidak begitu jauh dari Jazirah Arab dan kota yang pernah menjadi tujuan hijrah Nabi. Orang-orang Islam tidak pernah memerangi kota itu karena tidak mengancam keselamatan mereka.

Apabila penyebaran Islam dengan kekuatan, tentunya orang-orang Islam sudah menghancurkan kota itu. Seperti diketahui, umat Islam saat itu sudah memiliki angkatan laut yang cukup kuat. Namun, penyerangan it’u pun tidak dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa peperangan yang terjadi di kalangan orang-orang Islam hanya untuk ’ mempertahankan diri dan tidak berlebih-lebihan.

Kedua, melindungi dakwah dan orang-orang lemah yang hendak memeluk Islam. Seperti diketahui bahwa dakwah yang dibawa Nabi memperoleh tantangan keras dari kafir Quraisy Mekah. Mereka menempuh berbagai cara untuk menghalanginya (Q5. AL Path [48]: 25).

Banyak kalangan penduduk Mekah dan Arab lainnya bermaksud memeluk Islam, tetapi mereka takut terhadap ancaman itu. Allah lalu mengizinkan Rasul-Nya beserta pengikutnya untuk melindungi dakwah dengan cara berperang.

Ketiga, mempertahankan umat Islam dari serangan pasukan Persia dan Romawi. Keberhasilan dakwah Nabi dalam menyatukan kabilah-kabilah Arab di bawah bendera Islam ternyata dianggap ancaman oleh penguasa Persia dan Romawi-dua adikuasa saat itu. Ajakan Nabi untuk memperluas kekuasaannya. Oleh sebab itu, mereka mengumumkan perang dengan umat Islam.

Pada tahun 629 M Nabi mengutus satu kelompok berjumlah 15 orang ke perbatasan Timur Ardan untuk berdakwah, tetapi semuanya dibunuh atas perintah penguasa Romawi. Pada tahun 627 M Farwah bin Umar Al-Iudzami, Gubemur Romawi di Amman, memeluk Islam. Untuk itu, ia mengutus Mas’ud bin Sa’ad Al-Iudzami menghadap Nabi untuk menyampaikan hadiah.

Ketika berita keislaman sampai ke telinga 49 orang-orang Romawi, mereka memaksa Farwah untuk keluar dari Islam, tetapi paksaan itu ditolaknya. Akibatnya, ia dipenjara dan akhirnya disalib.

Atas peristiwa-peristiwa itu dalam sejarah kemudian dikenal dengan kasus Beh‘ dan demi melindungi umat Islam dari serangan Romawi dan Persia berikutnya, Nabi kemudian mengumumkan perang puIa dengan mereka.

Berdasarkan uraian tersebut, tidak ada satu ayat pun atau satu kejadian pun dalam sejarah permulaan Islam yang mengisyaratkan bahwa Islam disebarkan dengan peperangan (senjata). Peperangan yang terjadi hanya karena terpaksa untuk membela diri, melindungi dakwah dan kebebasan beragama, serta melindungi umat Islam dari setangan Romawi dan Persia.