Berhubungan dengan istri di bulan suci Ramadhan dapat membatalkan puasa. Namun tidak hanya membatalkan ada sangsi lain yang harus dilakukan. Apa itu?


Seksualitas bagi manusia adalah sebuah keniscayaan. Al-Qur’an banyak memberikan ruang untuk membahas soal seksualitas. Namun tidak vulgar. Contoh surat al-Nisa’, 223. Al-Mukminun, 5-7 dan ayat ayat lainnya.

Manusia membutuhkan sarana untuk menyalurkan libidonya. Karena itu manusiawi dan naluriah. membatasi libido juga tidak baik untuk kesehatan karena dapat mengganggu kesehatan reproduksi dan keseimbangan emosi.

Secara ilmu kesehatan, melakukan seks secara rutin dengan istri dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Lalu, bagaimana melakukan kegiatan seks di bulan Ramadhan?

Ramadhan secara esensial mengajarkan tidak hanya mencegah yang haram, bahkan sesuatu yang halal di luar Ramadhan seperti makan, minum dan berhubungan dengan istri dilarang.

Jika yang halal saja dilarang di bulan Ramadhan bukan berarti secara subtansi barang dan tindakan itu haram, tetapi ada tujuan lebih esensial yakni menjaga hawa nafsu. Tidak makan, minum dan berhubungan seks dengan istri bisa membatalkan puasa karena mengumbar hawa nafsu di saat latihan.

Bercinta dengan Istri di Siang Hari Ramadhan

Seseorang yang melakukan hubungan seks (berhubungan badan) dengan istrinya di siang hari Ramadhan, bukan hanya membatalkan puasanya, tetapi ia diwajibkan membayar kafarat dengan tiga opsi kafarat.

Pertama, memerdekakan budak mukmin. Kedua, berpuasa dua bulan berturut-turut. Ketiga, memberikan makan kepada 60 orang fakir miskin @600 gram makanan pokok. Selain itu ia juga wajib qadha’ puasanya. (Al-Tadzhib Fi Adillah Matn al-Ghayah wa al-TAqrib, 106).

Fatwa ini didasarkan kepada sabda Nabi

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال : جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال : هلكت ، فقال : ” وما ذاك ؟ ” ، قال : وقعت بأهلي في رمضان ، قال : ” تجد رقبة ؟ ” ، قال : لا ، قال : ” فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين ؟ ” ، قال : لا ، قال : ” فتستطيع أن تطعم ستين مسكينا ؟ ” قال : لا ، قال : فجاء رجل من الأنصار بعرق ، والعرق المكتل فيه تمر ، فقال : ” اذهب بهذا فتصدق به ” ، قال : على أحوج منا يا رسول الله ، والذي بعثك بالحق ما بين لابتيها أهل بيت أحوج منا ، قال : ” اذهب فأطعمه أهلك

Dari Abu hurairah r.a berkata: seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallama seraya berkata, celaka aku ya Rasulullah ! Apa yang membuatmu celaka? Tanya Rasul. Aku melakukan hubungan seks dengan istri di siang hari Ramadhan. Apakah kamu memiliki budak? Tanya Rasul. Tidak ! apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut turut? Tidak! Apakah kamu mampu memberi makanan kepada 60 orang miskin. Tidak! Kemudian datanglah seorang lelaki Anshar dengan membawa sekeranjang berisi Kurma menemui Rasul. Pergilah ! bawalah sekeranjang Kurma ini. Dan bershadaqahlah dengannya! Perintah Rasul kepada lelaki tadi. Tidak ada yang lebih membutuhkan dari pada saya ya Rasul ! pergilah ! cukupi kebutuhan keluargamu dengan sekeranjang kurma ini. HR: Bukhari: 2480

Seksualitas kendatipun bersifat alami bagi manusia, namun dianggpa hal yang mengotori kemuliaan Ramadhan. Maka jangan kotori ramadhanmu dengan kenikmatan sesaat seperti melakukan hubungan badan dengan istri di saat puasa.

Lalu bagaimana bila dilakukan di malam hari?

Allah berfirman :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Artinya : Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka (QS. Al-baqarah:187).

Ayat ini sebagai dalil bahwa melakukan hubungan badan demngan istri di malam hari Ramadhan tidak dianggap membatalkan puasa.

Fatwa hukum ini didukung oleh hadits Nabi

عن سليمان بن يسار ، أنه سأل أم سلمة رضي الله عنها ، عن الرجل يصبح جنبا أيصوم ، قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ” يصبح جنبا من غير احتلام ، ثم يصوم “

Dari Salman Ibn Yasar bahwa ia bertanya kepada Ummu Salamah tentang seorang laki laki yang berhubungan badan di malam hari dan pagi harinya masih belum mandi janabah. Ummu Salamah lalu menjawab: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallama di malam hari Ramadhan pernah janabah (melakukan hubungan suami istri) Kemudian Beliau tetap melanjutkan puasanya. HR: Muslim:1934

Syaikh Ali al-Shabuni mengatakan bahwa janabah dimalam hari, tidak ada kaitan pengaruh dengan puasa di siang harinya. Namun ketika mau shalat subuh, ia wajib mandi janabah. Rawai’ al-Bayan1/212

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.