Dari Aisyah RA berkata: Rasulullah mencium (istrinya) saat berpuasa dan bersentuhan kulit (dengan istrinya) saat berpuasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling menguasai terhadap syahwatnya”.


Ibadah puasa sejatinya adalah ruang latihan umat Islam untuk mensucikan diri dan kembali pada fitri. Cara melatihnya adalah dengan menahan nafsu. Bahkan nafsu untuk sesuatu yang halal sekalipun seperti makan, minum dan berhubungan dengan pasangan di larang di waktu siang Ramadhan.

Namun, sejati latihan puasa untuk mengendalikan nafsu, bukan berarti mencegah kemesraan dan aktifitas yang bisa menghantarkan kasih sayang. Nafsu dikendalikan, kasih sayang terus mengalir.

Pertanyaannya, bagaimana jika bermesraan dengan istri pada siang hari seperti mencium memeluk, pegang-pegangan, tetapi tidak sampai pada batas berhubungan badan? Bolehkah dilakukan?

Sebenarnya aktifitas yang dilarang dan dapat membatalkan puasa adalah faktor inzal (mengeluarkan air mani). Di samping batal juga dosa, meskipun terhadap istrinya sendiri. Dosa bukan karena berhubunganya dengan istri tetapi karena sebab batalnya puasanya tanpa udzur sya’ri.

Lalu, bagaimana jika berpegangan, bermesraan dan berciuman? Jika mencium sampai berdampak inzal hukumnya sama artinya membatalkan puasa dan dihukumi haram. Namun, jika mencium tidak sampai mengakibatkan inzal maka hukum disesuaikan dengan kondisi pelaku. Jika mencium istri tidak membangkitkan libido lebih kepada kemesraan dan suasana romantis dengan pasangan dan tidak berdampak apa-apa, namun lebih afdal tidak dilakukan di siang hari.

Kondisi kedua, jika kebiasaan mencium dan bermesraan dengan pasangan akan membangkitkan syahwat maka hukumnya makruh tahrim (mendekati perbuatan haram), meskipun tidak membatalkan puasa. Pendapat ini diprakarsai oleh Jumhur ulama’.

Sementara menurut Imam Malik mencium istri di siang hari bulan Ramadhan hukumnya makruh secara mutlak, tanpa membedakan antara membangkitkan libido ataupun tidak. Selanjutnya, menurut Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal meskipun tidak sampai inzal, jika saat mencium istri membangkitkan libido dan mengeluarkan cairan yang disebut dengan madzi tetaplah membatalkan puasa.

Hukum kebolehan bercumbu dengan istri tersebut berdasarkan hadis Rasulullah berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لاِرْبِهِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya: “Dari Aisyah RA berkata: Rasulullah mencium (istrinya) saat berpuasa dan bersentuhan kulit (dengan istrinya) saat berpuasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling menguasai terhadap syahwatnya”.

Kesimpulan dari uraian tersebut, mencium istri di siang hari pada bulan Ramadan pada prinsipnya adalah boleh dan tidak membatalkan puasa. Hukum akan berbeda ketika berciuman tersebut berdampak inzal yang mengakibatkan batalnya puasa.

Perilaku demikian jika dikembalikan pada individu masing-masing. Jika kebiasaan berciuman, berpegangan dan bermesraan sampai pada inzal atau bisa membangkitkan gairah libido, sebaiknya jangan dilakukan. Karena itulah, walaupun boleh mencium pasangan, sebagian ulama seperti di atas mengatakan makruh karena dapat menghantarkan pada hubungan inzal.

Berbeda memang kasusnya seperti perilaku Nabi kepada istrinya seperti riwayat hadist di atas. Jika menciumi dan bermesraan dengan pegangan tangan menjadi kebiasaan untuk menunjukkan ekspresi kasih sayang suami-istri yang tidak sampai menimbulkan libido, tentu saja, tentu diperbolehkan. Puasa hanya membatasi sementara nafsu, bukan mencegah kasih sayang dan harmoni antar pasangan.

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.